BANDA ACEH – Pengamat Politik dan Keamanan Aceh, Aryos Nivada, mengatakan, ada yang menarik dari pernyataan Muzakir Manaf (Mualem) yang mengklaim mendapat dukungan dari 11 parpol di Aceh pada saat rapat mendadak kemarin. Penulis buku Wajah Politik dan Keamanan Aceh ini mengatakan, secara umum pertemuan tersebut menyiratkan bahwa Partai Aceh masih memiliki pegaruh kuat dalam menentukan arah politik di Pilkada 2017.
Ada beberapa catatan dalam analisis saya. Pertama, tindakan Mualem mengumpulkan partai politik memperlihatkan respon ketakutan Mualem terhadap larinya dukungan partai politik dari sebagian besar yang tergabung dalam Koalisi Aceh Bermartabat. Ini upaya untuk mengkonsolidasi kembali sekaligus memastikan arah dukungan dan usungan dari partai politik, kata Aryos dalam siaran persnya.
Kedua, menurut Aryos, partai politik yang hadir seharusnya menghormati apa yang sudah diputuskan oleh DPP, misalkan PAN yang sudah diputuskan DPP mengusung Farhan Hamid. Namun faktanya ketua DPW PAN menghadiri undangan dari Muzakir Manaf untuk rapat.
Ada yang tidak selesai di internal PAN dalam mengusung Farhan Hamid, walaupun sudah diputuskan DPP. Sedangkan dukungan dan usungan yang diberikan DPD Golkar Aceh kepada Muzakir Manaf untuk maju sebagai gubernur ke depannya patut dipertanyakan, kata Aryos.
Hal tersebut, menurutnya, karena posisi Sulaiman Abda sudah dipulihkan sebagai DPD 1 Partai Golkar Aceh yang sempat lepas darinya. Otomatis dukungan awalnya diberikan kepada Mualem menurut versi pengurus ARB berpeluang akan ditarik lagi, karena dianggap tidak sah. Selanjutnya dukungan dan usungan dari Partai Golkar diarahkan kepada kandidat lain.
Ketiga; pertemuan rapat Muzakir Manaf dengan lintas partai politik untuk kesekian kalinya menunjukan belum menemukan titik kesepakatan semua partai politik dalam mengusung wakil gubernur yang mendampingi Muzakir Manaf, katanya.