Dua hari terakhir dua peristiwa amat mengemuka di Aceh. Kedua peristiwa itu sangat terkait dengan politik. Keduanya benar-benar menunjukkan kapasitas elite kita. Menunjukkan betapa kekanak-kanakkan para elite Aceh. Dan, dua peristiwa itu pula membuat rakyat Tanoh Nangroe harus menanggung malu lantaran memiliki elite seperti itu.
Peristiwa pertama, Din Minimi dan anak buahnya turun gunung yang menjadi berita paling populer. Mantan petempur GAM ini turun atas bujukan Kepala BIN Sutiyoso. Padahal, sebelumnya Din Minimi berkali-kali mengharapkan perhatian Pemerintah Aceh. Tapi jangankan turun tangan, gubernur malah memvonis Din Minimi sebagai kriminal yang harus ditumpas penegak hukum.
Gubernur menutup rapat-rapat pintu negosiasi. Kini setelah Kepala BIN Sutiyoso turun tangan, adakah elite kita termasuk gubernur “dicok darah bak muka?” Perasaan apa yang mereka punya. Kemana pula Wali Nanggroe?
Peristiwa kedua, soal RAPBA 2016. Eksekutif dan legislatif Aceh bersitegang. Tidak ada pihak yang mau mundur, sehingga pembahasan mandek dan terancam di-Pergubkan. Kasus ini akhirnya juga harus diselesaikan pihak Jakarta. Kedua kelompok ini kemudian didamaikan di Kemendagri. Lucunya, di Aceh antarelite sudah “silak pinggang” sejak sebulan lalu. Namun, di Jakarta hanya butuh beberapa jam saja, kemudian para elite kita muncul di media sosial dan media massa dengan bertebar senyum sumringah. Bukankah sikap para elite seperti ini memalukan dan memuakkan?