MADRID – Festival Budaya Islam Al Monaster Ke-18 yang berlangsung 13-15 Oktober 2017 dimanfaatkan KBRI Madrid dengan maksimal. Sebagai satu-satunya Kedutaan yang diundang, KBRI Madrid pun mempromosikan pariwisata dan budaya Indonesia dengan penuh semangat.
Tim Kesenian KBRI Madrid menampilkan beberapa tarian yakni Rampak Kendang, Serampang 12, Tari Zapin, Tari Lancang Kuning dan Persik Betawi. KBRI Madrid juga menawarkan beberapa makanan kering seperti Kembang Goyang Betawi, Rempeyek Kacang, Cheese Sticks dan Nastar. Serta beberapa model suvenir seperti selendang batik, patung-patung kayu ukiran Bali ukuran kecil dan gantungan kunci topeng batik.
Kepada para tamu yang mampir ke stan KBRI, tak lupa dijelaskan destinasi wisata keren di Indonesia. “Kami bagikan kepada para tamu dari travel agent dan umum buku Kemenpar “Indonesia: A Halal Destination”. Ini kesempatan yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya,” ujar Duta Besar Republik Indonesia untuk Spanyol Yuli Mumpuni Widarso lewat telepon, Senin (16/10).
Festival Budaya Islam Al Monaster ini merupakan festival yang unik. Al Monaster yang penduduknya 100% Katholik sudah 18 tahun berturut-turut menyelenggarakan Festival ini, pada setiap awal Oktober. Kota ini ingin mengenang sejarah masuknya Islam ke Al Monaster pada abad 8-9 Masehi. Saat itu, Islam masuk dan berkembang. Buktinya masih ada hingga sekarang.
Sebuah Mesjid yang sejak abad ke-8 hingga saat ini tdk pernah berubah fungsi berdiri megah di Al Monaster. Menurut Walikota Al Monaster Jacinto Vázquez, penyelenggaraan acara Festival Budaya Islam ini merupakan suatu bentuk toleransi dan penghargaan terhadap Islam dari penduduk Al Monaster yang beragama Nasrani.
Peringatan ini didorong oleh adanya bangunan Mesjid yang secara fisik mengingatkan masyarakat di Al Monaster bahwa dulu pernah eksis kebudayaan Islam di daerah ini. Sehingga masjid yang dibangun pada abad IX tersebut masih disebut sebagai “Mezquita” (Mesjid) dan tidak pernah diubah fungsinya. Ini berbeda dengan bangunan masjid di daerah-daerah lain di Spanyol yang telah berubah menjadi gereja dan lain-lain. Di Al Monaster ini, keaslian arsitektur masjid tetap dipertahankan sampai hari ini.
Selama ini, festival sebagai bukti toleransi dan kecintaan masyarakat Al Monaster terhadap eksistensi budaya Islam di daerahnya tidak melibatkan masyarakat Islam. Sehingga sentuhan Islamnya kurang terasa.
Namun, pada perkembangan selanjutnya masyarakat setempat meminta agar Walikota mengajak komunitas muslim Spanyol. Komunitas Islam Spanyol, Yayasan Mesjid Sevilla pun dilibatkan. Termasuk perwakilan negeri berpenduduk muslim terbesar, Indonesia.
Maka tahun ini, Walikota (Alcadel) Al Monaster, Jacinto Vasquez mengundang KBRI, sebagai Kedubes asing pertama yang berpartisipasi. Penduduk kota Almonaster 1.950 orang. Jumlah tamu yang hadir selama 3 hari Festival sebanyak 10 ribu. Lebih banyak daripada tahun-tahun yang lalu yang tidak lebih dari 8.000 pengunjung. Kata Walikota Jacinto, ramainya tamu tahun ini karena ada daya tarik baru yakni hadirnya peserta asing, Indonesia.
Saat memberikan sambutan dalam bahasa Spanyol, Dubes Yuli Mumpuni menyatakan harapannya semoga partisipasi Indonesia ini memberikan peningkatan pemahaman masyarakat bahwa kebudayaan Islam itu tidak hanya berkembang di Timur Tengah, melainkan juga di Asia.
“Dan Indonesia sebagai negara besar dengan 260 juta penduduk dan 17 ribu pulau merupakan negara yang 95% penduduknya Muslim sehingga merupakan negara yang terbesar penduduk Muslimnya di dunia. Karenanya untuk belajar tentang Islam, toleransi, silakan datang ke Indonesia,” ujar Dubes yang akan berakhir pengabdiannya pada bulan November ini.