TERKINI
TRAVEL

Kisah Mahasiswa Unsyiah Wakili Aceh di Hilo Green Leader

"Saya siap menginspirasi kegiatan peduli lingkungan dengan program-program yang sedang dan akan terus saya kembangkan".

ISKANDAR NORMAN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 4.6K×

BANDA ACEH – Nasrullah Andista, mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala, baru selesai mengikuti kompetisi anak muda Indonesia di Jakarta. Ajang bergengsi ini untuk mendapatkan dana dukungan dalam rangka mengikuti konferensi lingkungan tingkat dunia, HiLo Green Leader.

“HiLo Green Leader ini mencari sosok pemimpin yang peduli terhadap isu lingkungan, berinisiatif tinggi dan mampu menggerakkan serta menjembatani komunitas-komunitas untuk melakukan aksi hijau yang menginspirasi masyarakat luas supaya semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup,” katanya Nasrullah dalam perbincangan dengan portalsatu.com, melalui layanan BBM, Selasa, 13 Oktober 2015, malam.

Mahasiwa yang kerap disapa Dista itu mengatakan, sejak pendaftaran 4 Mei hingga 29 Juli 2015, ajang ini telah menyita perhatian ratusan peserta dari seluruh Indonesia. “Setelah melewati tahap seleksi berkas, video dan wawancara melalui skype dan telepon, alhamdulillah saya dapat mewakili Aceh menjadi salah satu Grand Finalist HiLo Green Leader 2015 bersama 11 peserta dari berbagai provinsi lainnya di Indonesia,” ujar Dista.

Saat itu, seluruh grand finalist diundang ke Jakarta untuk karantina delapan hari di Jakarta dan Bali. Dalam sesi karantina para grand finalist dibekali berbagai ilmu seperti public speaking class, public appearance class, kelas lingkungan, citizen journalism, kelas sosial media, dan banyak ilmu menarik lainnya,” ujar mahasiswa semester tujuh ini.

Pada sesi kelas lingkungan, Dista berkesempatan menjelaskan konsep green mining (pertambangan ramah lingkungan), sejarah dan penerapannya di Indonesia. Tantangan dan upaya yang telah dilakukan untuk mewujudkannya, serta target dan dampak lingkungan sosial seperti apa yang menjadi harapan baginya dari penerapan konsep pertambangan ramah lingkungan di suatu industri pertambangan.

Menariknya, kata Dista, hari berikutnya, selain diajak mengunjungi salah satu SMP di Bali untuk menyampaikan edukasi peduli lingkungan kepada para siswa. Para grand finalist juga diajak mengunjugi salah satu tempat pengelolaan dan pengolahan sampah di Bali menjadi suatu barang tepat guna dan memiliki nilai jual di Ecobali.

“Pada sesi ini kami diajak melihat proses produksi yang dilakukan dan saling berbagi pengalaman penerapan program pengelolaan sampah untuk area Bali,” kata anak ketiga dari lima bersaudara ini.

Hal lebih serunya lagi, kata Dista, sebelum kembali ke Jakrta, mereka diajak mengelilingi beberapa spot di Bali untuk melakukan shooting bagi beberapa keperluan TV dan profil diri. Di akhir sesi karantina, penjurian dengan sesi wawancara oleh beberapa juri terkait program yang telah dilakukan dan perencanaan ke depan.

“Hari Jumat, 9 Oktober 2015 acara grand final disiarkan live di Trans 7 pukul 22.00-23.00 WIB dari Skeeno Hall Gandaria City, Jakarta. Saat itu ada lima penghargaan yang di bagikan, yaitu the best eco-educator, the best eco-presenter, the best sociogreneer, runner up, dan the winner,” katanya.

Meskipun tidak menang, bertemu dan berada dalam satu program bersama para pemuda-pemudi dengan latar belakang berbeda merupakan suatu penghargaan besar baginya. Dengan semangat yang tinggi mengembangkan program-program untuk melestarikan lingkungan di negeri ini.

“Saya percaya kunci sebuah kesuksesan adalah kekompakan dan kolaborasi, ketika melihat Indonesia menjadi lebih baik bukan lagi mimpi kalau kita mau bersinergi. Saya siap menginspirasi kegiatan peduli lingkungan dengan program-program yang sedang dan akan terus saya kembangkan. Saya ingin mengajak teman-teman untuk bergabung dan terus melakukan kegiatan peduli lingkungan untuk suatu perubahan yang lebih baik ke depan,” ujar Dista.[] (idg)

 

ISKANDAR NORMAN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar