Oleh: Thayeb Loh Angen
SAYA terkesima melihat pertunjukan monolog Cut Nyak Dhien oleh Ine Febriyanti di AAC Dayan Dawood, Rabu, 9 Desember 2015, salah satu pertunjukan seni dalam rangkaian acara Kongres Peradaban Aceh.
Saya tidak sempat menyaksikan bagian awal pertunjukan itu. Celo dan musik pengiring lainnya serta gambar hiasan di layar yang memperkuat pertunjukan tersebut mampu menghanyutkan penonton ke masa Cut Nyak Dhien hidup, berkeluarga, berperang, menderita, dan wafat.
Meskipun banyak kelebihan dan kekurangan pertunjukan Ine itu, namun di sini saya hanya bicara tentang suara pendukungnya yang sempat kudengar, yaitu irama nyanyian beberapa kata -salah satu katanya Teuku Umar Syahid-, dan bacaan ayat suci Alquran.
Tentang Musik dan Suata Latar
Sebagai orang Aceh, saya merasa terganggu saat audio itu diselipkan. Ada rasa gula jawa di sana, gamelan, atau apa? Mungkin Ine Febriyanti dan kawan-kawan dari hanya mengetahui irama itu yang paling baik untuk pertunjukan tersebut. Namun dari sisi rasa budaya-sejarah, itu merupakan sebuah kesalahan. Saat suara itu diselipkan, saya teringat film dongeng Majapahit, bukan perbukitan Aceh Besar dan Meulaboh. Ini salah!
Cut Nyak Dhien adalah bangsawan Kesultanan Aceh Darussalam. Musik dan suara latar pengirim monolog tentangnya adalah irama seudati, rapai, atau irama seni Aceh lainnya.
Menjadi Aceh, menjadi Cut Nyak Dhien, Ine berhasil, namun gagal dalam menjadikan monolog tersebut sebagai seni berlatar tokoh sejarah yang memiliki ruh tempat dan budaya di lingkungan Cut Nyak Dhien hidup dan berperang, sebelum dibuang ke Sumedang.