Neurajah banyak macamnya. Yusuf, dkk. (2001:13) menyebutkan, neurajah dapat diklasifikasikan berdasarkan isinya. Neurajah yang dimaksud adalah neurajah pengampunan; kutukan (kepada objek tertentu); keberkahan pada upacara tertentu; obat-obatan; kekebalan atau kekuatan; daya pengasih, pemanis, atau penggila; rasa benci.
Ada pula yang mengklasifikasikan neurajah menjadi neurajah permohonan kepada Dewa atau Tuhan; penunduk roh halus, penunduk manusia, penunduk binatang, penunduk tumbuhan, penunduk gejala alam.
Soedjijono, dkk. mengatakan jenis neurajah di antaranya adalah neurajah yang ditujukan kepada Tuhan, roh dan makhluk halus dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu, seperti keselamatan, kekayaan, kesembuhan, kekebalan, dan keterampilan. Selain itu, ada neurajah yang ditujukan kepada magis dengan tujuan untuk memiliki sesuatu, antara lain kewaskitaan, karisma, daya tarik, kesaktian, dan kekuatan fisik.
Di antara neurajah yang disebutkan di atas, ada yang dilestarikan dan tumbuh subur dalam kehidupan masyarakat Aceh. Ada juga yang jarang atau sulit ditemukan. Neurajah yang dilestarikan biasanya yang dipakai untuk pengobatan, sedangkan yang jarang atau sulit ditemukan adalah yang dipakai untuk kutukan, mendapatkan daya tarik atau pengasihan, dan lainnya.
Adapun masalah pemilihan neurajah dalam masyarakat sangat bergantung kepada sang Pencipta.
Lantas untuk apa neurajah itu? Secara umum, bentuk yang juga sering disebut sebagai puisi lama ini berfungsi untuk menundukkan dan sebagai sarana permohonan, baik kepada Allah (Tuhan) maupun kepada magis.
Neurajah dapat berfungsi untuk menundukkan manusia. Penundukan yang dimaksud dapat berupa mematahkan serangan musuh, menangkal, maksud jahat orang, memanggil wanita yang dicintai, menambah daya pikat (dikasihi), meredam kemarahan orang, menenung orang.
Neurajah juga dapat berfungsi untuk menundukkan roh halus atau setan, seperti membasmi penyakit, menangkal jampi-jampi di rumah atau harta benda lainnya, mengobati orang kesurupan/kemasukan setan, mengusir kuntilanak, menundukkan hewan atau binatang pengganggu, menundukkan harimau, menawari bisa (racun) dari gigitan binatang, seperti ular, limpan, tawon, lebah, dan kelabang, mengusir atau menangkal tikus di sawah atau rumah, menangkal atau menangkap burung.