TERKINI
GAYA

Aceh dan Mantra (Bagian 7)

Jika kosakata bahasa Arab dan Indonesia banyak terdapat dalam neurajah, kosakata bahasa Sanskerta yang terdapat dalam neurajah sangat terbatas.

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.8K×

Dalam neurajah terjadi penyimpangan bahasa. Terjadinya penyimpangan karena sebagai bagian dari bahasa puisi yang mengandung nilai kesastraan, bahasa neurajah dapat dikatakan bersifat tidak stabil.

Ada tiga penyimpangan bahasa dalam neurajah, yaitu penyimpangan fonologi, penyimpangan diksi, dan penyimpangan struktur sintaksis.

Penyimpangan fonologi misalnya pada neurajah berikut.

Hongkah mirah gapi

Si meloh si milang

Si datang jumpa pari

Tujôh seungo, tujôh seunoe

Beureukat dua Syiah Udam

Sijeuk ban ie, letupi ban timah

Beureukat kalimah laa ilaha illallahu

Dalam neurajah di atas terdapat bunyi si milang yang merupakan penyimpangan dari bunyi si mirah (merah). Ada pula bunyi seunoe sebagai penyimpangan dari seunong (kubangan).

Lain lagi dengan penyimpangan diksi. Penyimpangan ini di antaranya berkaitan dengan jenis bahasa yang dipakai dalam neurajah. Jenis bahasa ini tergantung pada latar belakang bahasa perapal neurajah itu. Meski demikian, ada juga neurajah yang mengandung bahasa yang berbeda dengan perapalnya dan neurajah itu dikenal berkhasiat.

Neurajah terkadang menggunakan bahasa Aceh, Kluet, Jamee, bahasa Arab, Sankerta, dan Melayu.

Penggunaan kosakata yang diambil dari suatu bahasa bertujuan menyesuaikan bunyi larik dalam neurajah. Kata bahasa Arab banyak terdapat dalam neurajah, terutama dalam pembukaan dan penutup setiap neurajah, demikian juga kosakata bahasa Melayu (bahasa Indonesia).

Kosakata bahasa Indonesia dalam neurajah adalah  yang ditulis dan dilafalkan dengan ejaan atau fonem bahasa Indonesia, sedangkan kosakata bahasa Indonesia yang sudah dituliskan atau dilafalkan dengan ejaan dan fonem bahasa Aceh tidak dikatakan sebagai kosakata bahasa Indonesia.

Jika kosakata bahasa Arab dan Indonesia banyak terdapat dalam neurajah, kosakata bahasa Sanskerta yang terdapat dalam neurajah sangat terbatas. Hal itu ada hubungannya dengan peninggalan agama Hindu yang dianut masyarakat zaman dulu sebelum Islam datang. Kosakata bahasa Indonesia yang masih dijumpai dalam neurajah terbatas pada kata campang, tangsak, kedurati, husaini, gamara, dhiwanghi, dan makni.

Penyimpangan struktur sintaksis berkaitan dengan penyimpangan kalimat. Struktur kalimat dalam neurajah umumnya tidak lengkap, yaitu tidak tersusun atas subjek, predikat, objek, dan keterangan, misalnya meugrak gaki, gaki patah (bergerak kaki, kaki patah) atau ya! Saidina yang kedua-duanya merupakan yang tidak bersubjek dan tidak berpredikat.

Selain tak bersubjek dan tak berpredikat, ada juga neurajah yang hanya terdiri dari dari unsur keterangan saja, misalnya sedang saleh mukmin, sedang salihin. Bersambung…[]

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar