JAKARTA – Kibaran bendera armada Laksamana Malahayati di kawasan Selat Malaka pada abad ke-16 M, ibarat petir di siang bolong bagi armada Portugis dan Belanda. Berulangkali armada Malahayati berhasil memukul mundur pihak asing yang ingin menguasai jalur perdagangan laut dan kekayaan alam di ujung barat Nusantara.
Malahayati dikenal sebagai salah satu laksamana perempuan pertama di dunia, yang memimpin sekitar 100 kapal perang, dengan kekuatan puluhan ribu pasukan inong bale (para janda perang). Ia juga dikenal sebagai tokoh pemberani, mampu membangkitkan semangat pasukan, ahli strategi dan diplomasi.
Hal ini disampaikan Ketua Umum Kowani (Kongres Wanita Indonesia) Giwo Rubianto Wiyogo dan sejarawan Aceh, Pocut Haslinda, pada saat rapat dengar pendapat (RDP) untuk memperkuat usul penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Laksamana Malahayati.
Pertemuan ini juga dihadiri keturunan langsung Malahayati, Tengku Putroe Safiatuddin Cahaya Nur Alam, yang juga cucu langsung Sultan Aceh terakhir, yakni Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah; serta Kolonel TNI AL Syarif.
“Kami mengharapkan dukungan Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, kebudayaan, dan sejarah, agar Pemerintah segera dapat mengabadikan Laksamana Malahayati sebagai pahlawan nasional pada momentum 10 November 2017 tahun ini,” kata Giwo Rubianto, seperti siaran pers yang diterima portalsatu.com, Selasa, 6 Juni 2017.
Selain rekomendasi dari DPR RI, Giwo yang didampingi para pengurus teras Kowani juga mengatakan, tantangan yang dihadapi dalam pengusulan tersebut adalah surat usulan dari Gubernur Aceh, yang ditujukan kepada Kemensos sebelum 16 Juni 2017.