Ramadhan, selalu istimewa dari bulan lainnya. Bulan penghambaan diri dimana seluruh umat muslim di berbagai belahan dunia berlomba-lomba mengejar sale pahala. Berbagai cerita menarik tentang ramadhan datang dari berbagai negara berbeda. Sebagai tanah peninggalan jejak-jejak para khalifah yang berpadu dengan modernisasi-nya, Ramadhan di Turki menjadi sangat berbeda dengan keunikan-keunikan yang mungkin tidak kita dapatkan di Indonesia.
Yuk simak berbagai hal menarik yang akan kamu temui di negara asal makanan kebab ini :
1. Perbedaan waktu Sama seperti negara-negara Eropa lainnya, ramadhan di Turki tepat datang pada musim panas yang menjadikan hari-hari lebih panjang dari pada malam. Perbedaan waktu ini membuat waktu berpuasa lebih panjang dibanding di Indonesia yang hanya 14 jam. Imsak di Turki dimulai pada pukul 03:30 dan berbuka pada pukul 21:00.
2. Sahur Tidak jauh berbeda dari Indonesia yang selalu memperdengarkan beduk ketika sahur, di Turki sendiri menjelang sahur akan terdengar suara pukulan davul (alat musik jenis drum) yang dimainkan oleh davulcu yang berkeliling memasuki lorong-lorong jalan. Hanya saja tanpa suara anak-anak seperti di Indonesia yang meneriakkan kata sahur.
3. Iftar Iftar di Turki mungkin tidak semeriah di Indonesia dengan tradisi ngabuburit dan jalanan yang dipenuhi oleh penjual tajil berbuka. Namun kamu akan merasakan kebanjiran undangan berbuka dari orang-orang Turki. Sifat dermawan dan suka bersedekah ini sangat populer di Turki. Sehingga berbuka puasa di Turki berarti berlomba-lomba memberi makanan untuk orang yang berpuasa. Memberi makanan berbuka ini juga disediakan oleh pemerintah kepada seluruh golongan masyarakat pada jadwal-jadwal tertentu.
4. Makanan berbuka Yang paling berbeda dari Indonesia, Turki punya tiga tahapan makanan pembuka. Setelah disuguhi makanan jenis berat seperti çorba, kebab, nasi, aneka olahan roti, salata, dan minuman pendukung sejenis ayran, jus, dan air mineral. Tahapan kedua kamu akan dimanjakan oleh kue-kue manis seperti baklava, künefe, kaday?f, ice cream, atau jenis kue-kue kering yang berpasangan dengan teh. Budaya nge-çay tak pernah bisa jauh dari orang-orang Turki. Dan tahapan terakhir, buah-buahan segar sebagai pencuci mulut.
5. Keunikan masjid, tarawih, dan witir Seperti di Indonesia, masjid-masjid di Turki juga selalu penuh ketika bulan Ramadhan. Yang sangat menarik disini, menara yang menjadi ciri khas masjid-masjid Turki selalu meyala setiap malam bulan Ramadhan. Pada bulan lainnya lampu menara hanya akan menyala khusus pada malam jumat. Disertai pembacaan shalawat sebelum azan isya dan subuh. Diantara tiang menara juga biasanya dipasangkan tulisan penyambutan akan bulan ramadhan yang dipasang selama 30 hari dan menyala pada malamnya. Tarawih dan witir dilaksanakan berjamaah di masjid-masjid. Biasanya dilaksanakan 23 rakaat dengan witir, pembacaan surah Al-Fatihah secara satu nafas dilanjutkan satu sampai dua ayat dari surah-surah panjang setiap rakaatnya. Atau surah-surah pendek dengan satu nafas pula.