TERKINI
EKBIS

Maraknya Bullying; Ala Bisa Karena Biasa

Oleh: Zihan Fahira* Semua hal yang sering dilakukan dapat menjadi hal yang biasa. “Ala bisa karena biasa” seperti itu kata-kata yang menggambarkan perilaku bullying yang…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.8K×

Oleh: Zihan Fahira*

Semua hal yang sering dilakukan dapat menjadi hal yang biasa. “Ala bisa karena biasa” seperti itu kata-kata yang menggambarkan perilaku bullying yang sedang marak terjadi. Kita sudah biasa mendengar, melihat, bahkan melakukannya tanpa sadar. Bullying dapat terjadi di mana saja, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan, mulai dari sekolah, tempat bekerja, bahkan media sosial.

Perilaku ini dapat terjadi pada semua kalangan, terutama pada remaja dan anak-anak. Fenomena bullying telah muncul sejak akhir abad ke-19 dan bersifat merusak, dibuktikan dengan banyaknya berita mengenai tindakan kekerasan hingga menyebabkan kematian yang beredar melalui televisi dan media cetak.

Kasus yang terjadi pada akhir tahun 2015 lalu telah menimpa Nurul Fatimah, seorang murid Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Keunalo, Seulimum, Aceh Besar. Perilaku keenam teman laki-laki di sekolahnya membuat Nurul akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit tempatnya dirawat. Mereka memutar tangan Nurul dan mencekiknya dengan jilbab yang ia gunakan. Tidak hanya itu, mereka juga menendang perut dan dadanya. Daerah Aceh yang terkenal dengan syariat Islam yang kental juga tidak dapat menghindari perilaku tersebut. Apa yang terjadi dengan zaman ini? Di mana rasa persaudaraan dan solidaritas manusia? Pertanyaan demi pertanyaan muncul meresahkan masyarakat.

Bullying berasal dari bahasa Inggris “bully” yang berarti menggertak atau mengganggu, orang yang mengganggu orang lemah (Echols dan Hassan, 1992: 87). Sarwono (Astuti, 2008) mengatakan “Bullying adalah penekanan dari sekelompok yang lebih kuat, lebih senior, lebih besar, lebih banyak, terhadap seseorang atau beberapa orang yang lebih lemah, lebih junior, lebih kecil.” Perilaku bullying dapat merugikan korban, baik secara fisik maupun mental (Chrisrin, 2009).

Beberapa faktor penyebab perilaku bullying menurut Ariesto (2009) dan Seto Mulyadi (seorang psikolog), yaitu (1) keluarga yang bermasalah, kesalahan orang tua memberikan hukuman secara berlebihan, membuat anak mempraktikkan perilaku tersebut kepada teman-temannya, (2) sekolah, kurangnya perhatian dan ketidaktegasan pihak sekolah dalam memberi hukuman yang bersifat menumbuhkan rasa saling menghargai, (3) kelompok teman sebaya, anak melakukan bullying untuk membuktikan bahwa mereka berkuasa diantara temannya, (4) kondisi lingkungan sosial (kemiskinan), pemerasan antarsiswa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup si pelaku, (5) tayangan televisi dan media cetak membuat anak meniru adegan film yang mereka lihat, (6) budaya feodalisme, senior merasa berkuasa dan bebas melakukan tindakan apapun terhadap juniornya.

Salah satu dampak perilaku bullying bagi korban adalah pada kehidupan korban, mereka mengalami gangguan psikologis, seperti cemas, depresi, dan kesepian. Korban menjadi agresif, mengalami cacat fisik, membenci lingkungan sosial, mengonsumsi obat-obatan terlarang dan alkohol. Selain itu, dampak pada kehidupan akademik korban, seperti menurunnya nilai akademik, kemampuan, keinginan, semangat belajar, dan menurunkan skor tes. Dampak yang terjadi pada kehidupan sosial korban, seperti ketakutan untuk sekolah, tidak percaya diri, dan merasa tidak nyaman (Setiawati, 2008). Aksi bullying menyebabkan korban dijauhi oleh temannya agar tidak menjadi target berikutnya.

Fenomena bullying terjadi di mana saja, termasuk daerah Aceh yang terkenal dengan syariat islamnya yang kental. Perilaku ini terjadi pada semua kalangan dan dapat membahayakan fisik maupun psikologis korban. Perilaku ini sering terjadi di sekolah, disebabkan oleh kurangnya perhatian dan ketegasan pihak sekolah memberi hukuman yang dapat menumbuhkan rasa saling menghargai.

Salah satu solusi untuk mengurangi bullying dari para ahli yaitu program “SAHABAT” yang dikembangkan oleh Astuti (2008), mengutamakan etika dan nilai persahabatan. Program ini dapat dibentuk melalui kegiatan yang bersifat support network, kampanye, dan penelitian. Dengan menerapkan nilai-nilai agama dan sosial dalam kehidupan sehari-hari juga dapat memperkuat rasa persaudaraan. Peran masyarakat agar lebih disiplin dan tegas dalam mempraktikkan hukum yang berlaku.

Menghilangkan persepsi “Ala bisa karena biasa” pada perilaku bullying, karena perilaku ini tidak memberi dampak positif kepada pelaku maupun korban. Disarankan agar penelitian selanjutnya membahas faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku bullying, seperti faktor budaya feodalisme, lingkungan, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah untuk menciptakan generasi yang saling menghargai dan mampu menciptakan kedamaian.[]

*Mahasiswa Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar