Oleh: Zihan Fahira*
Semua hal yang sering dilakukan dapat menjadi hal yang biasa. Ala bisa karena biasa seperti itu kata-kata yang menggambarkan perilaku bullying yang sedang marak terjadi. Kita sudah biasa mendengar, melihat, bahkan melakukannya tanpa sadar. Bullying dapat terjadi di mana saja, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan, mulai dari sekolah, tempat bekerja, bahkan media sosial.
Perilaku ini dapat terjadi pada semua kalangan, terutama pada remaja dan anak-anak. Fenomena bullying telah muncul sejak akhir abad ke-19 dan bersifat merusak, dibuktikan dengan banyaknya berita mengenai tindakan kekerasan hingga menyebabkan kematian yang beredar melalui televisi dan media cetak.
Kasus yang terjadi pada akhir tahun 2015 lalu telah menimpa Nurul Fatimah, seorang murid Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Keunalo, Seulimum, Aceh Besar. Perilaku keenam teman laki-laki di sekolahnya membuat Nurul akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit tempatnya dirawat. Mereka memutar tangan Nurul dan mencekiknya dengan jilbab yang ia gunakan. Tidak hanya itu, mereka juga menendang perut dan dadanya. Daerah Aceh yang terkenal dengan syariat Islam yang kental juga tidak dapat menghindari perilaku tersebut. Apa yang terjadi dengan zaman ini? Di mana rasa persaudaraan dan solidaritas manusia? Pertanyaan demi pertanyaan muncul meresahkan masyarakat.
Bullying berasal dari bahasa Inggris bully yang berarti menggertak atau mengganggu, orang yang mengganggu orang lemah (Echols dan Hassan, 1992: 87). Sarwono (Astuti, 2008) mengatakan Bullying adalah penekanan dari sekelompok yang lebih kuat, lebih senior, lebih besar, lebih banyak, terhadap seseorang atau beberapa orang yang lebih lemah, lebih junior, lebih kecil. Perilaku bullying dapat merugikan korban, baik secara fisik maupun mental (Chrisrin, 2009).
Beberapa faktor penyebab perilaku bullying menurut Ariesto (2009) dan Seto Mulyadi (seorang psikolog), yaitu (1) keluarga yang bermasalah, kesalahan orang tua memberikan hukuman secara berlebihan, membuat anak mempraktikkan perilaku tersebut kepada teman-temannya, (2) sekolah, kurangnya perhatian dan ketidaktegasan pihak sekolah dalam memberi hukuman yang bersifat menumbuhkan rasa saling menghargai, (3) kelompok teman sebaya, anak melakukan bullying untuk membuktikan bahwa mereka berkuasa diantara temannya, (4) kondisi lingkungan sosial (kemiskinan), pemerasan antarsiswa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup si pelaku, (5) tayangan televisi dan media cetak membuat anak meniru adegan film yang mereka lihat, (6) budaya feodalisme, senior merasa berkuasa dan bebas melakukan tindakan apapun terhadap juniornya.