TERKINI
NEWS

Feature: Gerimis dan Pelangi di Milad GAM

Saya mencari-cari sesuatu yang berkesan di acara itu untuk menuliskan sebuah puisi yang khidmad.

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 1.8K×

SETELAH tahun 2000, lima belas tahun lalu, ini adalah pertama kali saya menghadiri acara Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tahun 2015 ini adalah milad ke 39, terhitung dari 1976. Acaranya dilaksanakan di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Jumat, 4 Desember 2015.

Lima belas tahun berlalu, semuanya berubah. 

Dulu, kami mengikuti peringatan serupa dengan penuh asa, Aceh akan merdeka, sepanjang jalan dan lapangan ada bendera merah, di hutan, setidaknya perkampungan dalam hutan.

Kini, peringatan dibuat dengan kecewa. Jangankan mengharap Aceh merdeka, bendera saja tidak bisa dikibarkan, meskipun dibuat di pusat kota, tepat di belakang kantor gubernur. Waktu berlalu, impian pun berubah, meski orang-orangnya masih sama.

Saya datang atas sebuah undangan yang dialamatkan ke PuKAT. Dari sekalian mata acara yang tercatat di undangan, saya tertarik bagian akhirnya. Maka saya memilih untuk menghadirinya setelah Asar, tiba di sana sekira pukul 16:30 WIB. 

Bersamaku ada Syukri Isa Bluka Teubai, peserta Sekolah Hamzah Fansuri yang bersikeras diikutsertakan.

“Mengapa tertarik mengikuti acara ini?” tanyaku pada Syukri, saat kami berjalan di jalan berbatako Taman Sulthanah Safiatuddin, dalam gerimis.

“Ingin merasakan langsung bagaimana suasana sesungguhnya peristiwa Milad GAM,” jawab Syukri.

Saya mengambil waktu setelah Asar karena dalam jadwal di undangan, itulah waktu berpidatonya Ketua KPA Pusat, Kepala Pemerintah Aceh, dan amanat Paduka yang Mulia Wali Nanggroe Aceh. Namun begitu hadir di sana, acara yang tengah berlangsung adalah pidato pimpinan majelis zikir Samunzir Husen. 

Saya kecewa, setelah berbasah-basah dalam gerimis ke sana untuk mendengar bicara tokoh penting dalam KPA, tetapi hanya sempat mendengar ceramah. Setelah ceramah itu dilanjutkan berzikir bersama. 

Saya pun berjalan mendekati panggung utama dan bernaung di bawah rumoh Aceh anjungan Aceh Barat. Di sana ada acara amal, berdonor darah. Saya tidak mendonorkan darah, takut, disebabkan bukan tengah benar-benar sehat.

Setelah zikir selesai, pemandu acara mengarahkan Wali Nanggroe, majelis zikir, dan lainnya untuk menikmati sajian makanan. Namun protokolernya mengarahkan Wali Nanggroe menuju mobil dinas. Saya memperhatikan itu. Kafilah Wali Nanggroe yang dikawal penjaga keamanan berseragam dan tidak pun keluar dari taman itu. 

Pemandu acara memanggil Imum Jhon ke panggung. Ekskombatan itu pun menyanyikan lagu 'Pusaka Nanggroe karangannya.

Aku keluar dari teduhan rumoh Aceh anjungan Aceh Barat dan ke halaman samping panggung, bermandikan gerimis.

“Ini lebih menarik, saya membatin. Saya pun teringat bahwa di dalam bab terakhir novel Aceh 2025, menuliskan bait lagu itu dengan lengkap. Namun saya tidak tahu apakah orang PA (Partai Aceh) atau KPA (Komite Peralihan Aceh), atau bahkan Imum Jhon sendiri mengetahuinya. Sebab, setahuku, mereka malas membaca buku.

Masih di dalam gerimis kala itu, seorang anggota katibul wali-nama dirahasiakan- yang mengenalku menyapa. Lalu kami berbincang-bincang sejenak.

“Wali Nanggroe ka geuwoe (Wali Naggroe sudah pulang?)” tanyaku.

Anggota Katibul pun memperlihatkan wajah kecewanya.

“Tadi sudah kukatakan pada si -nama pengawal Wali Nanggroe, dirahasiakan- bahwa ini acara GAM, biarkan Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe di sini sampai acara selesai. Namun ia mengarahkan beliau ke mobil dinas untuk pulang,” katanya.

“Itu salah,” kataku.

“Ya, itu salah. Sudah kuingatkan, namun begitulah,” katanya. 

Percakapan itu terhenti setelah ada pengunjung yang menyapa anggota katibul wali tersebut dan mereka berbincang-bincang.

Saya mencari-cari sesuatu yang berkesan di acara itu untuk menuliskan sebuah puisi yang khidmad. Tidak kutemukan. Kemudian kulihat ke arah timur. Ada pelangi melengkung di langit yang mendung. 

“Sepertinya itu bisa menjadi judul puisi. Judulnya 'Pelangi dan Gerimis di Milad GAM ke 39,” pikirku. Namun sepulang dari acara itu, bukan puisi yang kutulis terlebih dahulu, tetapi sebuah feature.

Tidak ada sehelai bendera Aceh pun di acara itu. Sebelumnya, ada sehelai bendera itu diikatkan ke balon bermuatan oksigen pengapung, untuk dilepaskan ke awan. 

“Apabila bendera Aceh tidak diizinkan kita kibarkan di tanah, niscaya kita kibarkan di awan. Nasib orang-orang kalah perang. Hilang kehormatan, hilang pula lambang,” aku pun mengajak Syukri pulang. 

Di langit timur yang mendung, masih ada pelangi. Dan gerimis masih membasahi tubuh kami.[]

Laporan: Thayeb Loh Angen, penulis novel “Teuntra Atom” dan novel “2025”

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar