Dalam perjalanan Israk Mikraj, Nabi Muhammad saw., kemudian juga bertemu sekelompok kaum. Di hadapan mereka ada daging bagus yang sudah masak, sementara di sisi lain ada daging mentah dan busuk. Akan tetapi, ternyata mereka lebih memilih untuk menyantap daging yang mentah dan busuk.
Ketika Rasulullah menanyakan tentang kaum itu, malaikat Jibril menjawab: Mereka adalah manusia yang sudah mempunyai istri yang halal untuknya, tapi dia justru berzina (berselingkuh) dengan wanita yang jelek (hina). Begitupula mereka adalah para wanita yang mempunyai suami yang halal baginya, tapi justru dia mengajak laki-laki lain untuk berzina dengannya.
Saat Rasulullah melanjutkan perjalanan, tiba-tiba seseorang memanggil beliau dari arah kanan: Wahai Muhammad, aku meminta kepadamu agar kamu melihat aku. Namun, Rasulullah tidak memperdulikannya. Jibril kemudian menjelaskan bahwa itu adalah panggilan Yahudi. Seandainya beliau menjawab panggilan itu maka umat beliau akan menjadi Yahudi. Begitu pula saat mendapat seruan serupa dari sebelah kirinya, yang tidak lain adalah panggilan Nasrani, tetapi beliau tidak menjawabnya. Walhamdulillah.
Selanjutnya, tiba-tiba muncul di hadapan beliau seorang wanita dengan segala perhiasan di tangannya dan seluruh tubuhnya. Wanita itu berkata: Wahai Muhammad lihatlah kepadaku. Namun, Rasulullah tidak menoleh kepadanya. Jibril berkata: Wahai Nabi itu adalah dunia, seandainya Anda menjawab panggilannya maka umatmu akan lebih memilih dunia daripada akhirat.
Demikianlah perjalanan ditempuh Rasulullah dengan ditemani Jibril dan Mikail. Begitu banyak keajaiban dan hikmah yang dijumpai dalam perjalanan itu sampai akhirnya beliau berhenti di Baitul Maqdis (Masjid al Aqsha). Beliau turun dari buraq lalu mengikatnya pada salah satu sisi pintu masjid, yakni tempat biasanya para nabi mengikat buraq di sana.
Beliau kemudian masuk ke dalam masjid bersama Jibril dan shalat dua rakaat. Setelah itu sekejab mata tiba-tiba masjid sudah penuh dengan sekelompok manusia. Ternyata mereka adalah para nabi yang diutus oleh Allah swt. Kemudian dikumandangkan azan dan iqamah, lalu mereka berdiri bershaf menunggu siapakah yang akan mengimami mereka. Jibril kemudian memegang tangan Rasulullah dan meminta beliau untuk maju. Kemudian mereka semua shalat dua rakaat dengan Rasulullah sebagai imam. Beliaulah imam (pemimpin) para Anbiya dan Mursalin.
Setelah itu Rasulullah merasa haus, lalu Jibril membawa dua wadah berisi khamar dan susu. Rasulullah memilih wadah berisi susu dan meminumnya, Jibril berkata: Sungguh Anda telah memilih kefitrahan yaitu al Islam, jika Anda memilih khamar niscaya umat Anda akan menyimpang dan sedikit yang mengikuti syariat Anda.
Setelah melakukan Israk dari Makkah al Mukarramah sampai ke Masjid al Aqsha, Baitul Maqdis, kemudian beliau ditemani Jibril siap untuk melakukan Mikraj yakni naik menembus berlapisnya langit ciptaan Allah Yang Maha Perkasa sampai akhirnya beliau berjumpa dengan Allah dan berbicara dengan-Nya. Beliau dan umat ini mendapat perintah shalat lima waktu. Sungguh merupakan nikmat dan anugerah yang luar biasa bagi umat ini, di mana Allah memanggil nabi-Nya secara langsung untuk memberikan dan menentukan perintah ibadah yang sangat mulia ini.
Cukup kiranya hal ini sebagai kemuliaan ibadah shalat. Sebab ibadah lainnya diperintah hanya dengan turunnya wahyu kepada beliau. Namun, tidak dengan ibadah shalat, Allah memanggil hamba yang paling dicintainya yakni Nabi Muhammad ke hadirat-Nya untuk menerima perintah ini.
Ketika beliau dan Jibril sampai di depan pintu langit dunia (langit pertama), ternyata di sana berdiri malaikat yang bernama Ismail. Malaikat ini tidak pernah naik ke langit atasnya dan tidak pernah pula turun ke bumi kecuali saat meninggalnya Rasulullah. Dia memimpin 70 ribu tentara dari malaikat yang masing-masing malaikat ini membawahi 70 ribu malaikat pula.