Dalam peristiwa wafatnya Abu Thalib, ada empat tokoh besar yang duduk bertemu. Dua orang di antaranya telah kita uraikan di tulisan sebelumnya. Banyak pelajaran yang kita dapati dan kaji dari keduanya. Pelajaran yang bisa kita adaptasi dengan realita kekinian. Berikutnya, tokoh ketiga adalah paman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Thalib bin Abdul Muthalib.
Abu Thalib
Mungkin, penolakan Abu Jahal terhadap Islam membuat kita terheran. Bagaimana seorang yang dijuluki Abu al-Hakam, bapak kebijaksanaan, bisa menolak Islam dengan alasan gengsi kesukuan. Sebaliknya, kita juga takjub dengan Abdullah bin Abi Umayyah. Bagaimana lika-liku kehidupan yang ia alami hingga mengantarkannya pada hidayah dan syahid di akhir hayat. Tapi, kisah Abu Thalib akan membuat kita lebih terheran lagi. Bagaimana ia bisa menolak Islam?!
Begitu banyak jalan dan sebab yang memungkinkan Abu Thalib menerima Islam dan menjadi seorang mukmin. Ia seorang yang cerdas. Matanya menyaksikan, bagaimana wahyu turun pada anak saudaranya sejak hari pertama. Ia tahu dan yakin wahyu itu benar. Tak pernah ia dustakan keponakannya yang mengklaim diri sebagai nabi. Rasulullah sangat mencintainya. Demikian juga dia, keponakannya ini berada di tempat istimewa di hatinya. Ia laki-laki terhormat. Tokoh bani Hasyim yang turut berbangga, terlahir seorang nabi dari kabilahnya. Rasulullah berjanji membelanya di hari kiamat jika ia mengucapkan laa ilaaha illallaah. Tapi tak diindahkannya. Setelah semua itu, ia akhiri hayatnya dengan berpegang pada agama ayah dan kakek-kakeknya.
Abu Thalib sangat dekat dengan Nabi. Melebih kedekatan Nabi dengan dua orang sahabat istimewanya, Umar bin al-Khattab dan Utsman bin Affan. Tapi, demikianlah hidayah. Ia tak mengenal nasab dan kedudukan sosial. Dari sini kita bersyukur, Allah memilih kita menerima Islam. Nikmat terbesar yang tidak didapatkan oleh keluarga Nabi, paman beliau sendiri.
Fanatik Kesukuan (Ashobiyah)
Abu Thalib mengungkapkan alasan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mengapa ia enggan mengucapkan kalimat tauhid.
Sekiranya bukan karena cemoohan orang-orang Quraisy. Mereka akan mengatakan, Dia mengucapkan itu karena jiwanya panik (takut). Pasti kuucapkan kalimat itu agar jiwamu tenang.
Sebagai seorang tokoh bani Hasyim, Abu Thalib merasa berkewajiban menjaga wibawa kabilah. Ia tak ingin orang-orang menyangka tokoh kabilah bani Hasyim ketakutan di akhir hayat. Sehingga turunlah marwah kabilah.
Abu Thalib juga mencintai ayahnya, Abdul Muthalib, dan kakek-kakeknya, Hasyim, Abdu Manaf, dll. Cinta yang dibangun di atas fanatik kesyirikan. Cinta yang menutup hatinya dari cinta hakiki. Kecintaan yang menjadi hijab dari fitrahnya. Kalau dia beriman, sama saja telah memvonis ayah dan kakek-kakeknya berada dalam kesesatan. Sebab ini juga yang banyak menghalangi orang Arab menerima Islam.
Fanatik kesukuan (ashobiyah) sampai tingkat demikian, tidak dimiliki oleh ras manapun di dunia ini kecuali bangsa Arab. Allah Taala menggambarkan bagaimana ashobiyah bangsa Arab:
Mereka berkata: Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar. [Quran Al-Araf:70].
Allah Taala berfirman,
Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?. [Quran Al-Baqarah:170].
Firman-Nya yang lain,
Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul. Mereka menjawab: Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. [Quran Al-Maidah:104].
Dan firman-Nya juga,
Bahkan mereka berkata: Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka. Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. (Rasul itu) berkata: Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya? Mereka menjawab: Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya. [Quran Az-Zukhruf: 22-24].
Seperti ini pula keadaan Abu Thalib.
Tampak bagi kita, Abu Thalib lebih mencintai ayahnya dibanding Allah. Dalam hatinya, membuat Abdul Muthalib senang walaupun ia sudah tiada itu lebih dikedepankan dibanding membuat Rasulullah yang masih hidup bahagia. Kemudian Allah ungkapkan isi hatinya melalui kata-kata terakhirnya itu. Ia menolak hidayah. Ia menzhalimi dirinya sendiri. Mengetahui kebenaran tapi menepisnya dan lebih memperturutkan hawa nafsunya.
Jasa Yang Terkubur Dosa
Tidak diragukan lagi, Abu Thalib memiliki jasa besar dalam dakwah Islam. Ia melindungi Rasulullah dan menghadang intimidasi pembesar-pembesar Mekah terhadap keponakannya itu. Rasulullah sangat mencintainya. Dan berharap agar sang paman memeluk Islam. Kita tidak memungkiri keutamaannya ini. Di sisi lain, kita juga tidak boleh berlebihan memujinya. Menyebutnya sebagai seorang muslim dan beriman. Ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam menilai sosok Abu Thalib:
Pertama: Meskipun Abu Thalib memiliki jasa besar terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, akan tetapi ia mempraktikkan dosa yang paling besar. Yaitu dosa syirik. Dari Abdullah bin Masud radhiallahu anhu:
Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Beliau menjawab, Engkau menjadikan tandingan untuk Allah, padahal Dia yang menciptakanmu. Aku pun berkata kepada beliau, Jika demikian, hal ini benar-benar serius (besar). (HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Tafsir, Surah al-Baqarah (4207) dan Muslim dalam Kitab al-Iman, Bab Kaunu asy-Syirki Aqbahu adz-Dzunub wa Bayanu Azhamuha Badahu (86)).