TERKINI
SPORT

Generasi Terakhir Perempuan Dayak Berkuping Panjang (Bagian 2)

BAGIAN 2 Keagungan di Ujung Kepunahan Ati Bachtiar begitu asyik merekam semua momen yang dihadirkan Tipung Ping (66) dan suaminya, Amai Ding (72), di pondok…

DETIK Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 11 menit
SUDAH DIBACA 1.6K×

BAGIAN 2

Keagungan di Ujung Kepunahan

Ati Bachtiar begitu asyik merekam semua momen yang dihadirkan Tipung Ping (66) dan suaminya, Amai Ding (72), di pondok mereka di ladang Meraseh. Ati adalah fotografer wanita yang nekat menghadapi berbagai rintangan untuk sampai di Kampung Long Isun, salah satu kampung tempat bermukimnya sub-suku Dayak Bahau Busang.

Sebelum tiba di sana, Ati telah melakukan riset selama dua tahun untuk mewujudkan keinginannya mendokumentasikan keberadaan perempuan bertelinga panjang. Dokumentasi itu telah terbit dalam buku berjudul Telinga Panjang, Mengungkap yang Tersembunyi.

Percakapan mereka di pondok siang itu terhenti saat Jaang, cucu Tipung Ping dan Amai Ding, terbangun. Jaang beralih ke pangkuan neneknya. Dia memperhatikan kakeknya yang menyiapkan sirih untuk dikunyah. Jemarinya yang kecil memainkan hisang yang menggantung di cuping kuping Tipung Ping yang memanjang melewati bahu.

Tipung Ping mempunyai 23 pasang hisang yang hingga kini tergantung di lubang telinganya. Beberapa minggu setelah Tipung lahir, cuping kupingnya dilubangi dengan bilah bambu.

Ranting kayu kecil dimasukkan dalam lubang cuping itu agar tidak menutup. Seiring bertambah usia, ranting kayu itu akan diganti dengan ukuran yang lebih besar agar lubang cuping ikut membesar.

Saat mendekati remaja, anting dari tembaga berbentuk bulat digantung di lubang cuping itu. Dalam bahasa Dayak Bahau, anting itu disebut hisang. Saban tahun, hisang ditambahkan dengan maksud menambah berat beban di lubang cuping. Kuping Tipung pun tertarik memanjang.

Di Dayak Kenyah Umaaq Bakung, proses yang hampir mirip juga dilakukan pada perempuan dari golongan bangsawan. Setelah dilubangi, kedua lubang telinga itu diikat dengan benang dan dihubungkan satu sama lain dengan cara ditarik agar lubang membesar. Belaung, sebutan hisang untuk Dayak Kenyah, digantung saat bayi bertambah usia.

Tipung Ping yang tinggal di Datah Suling Long Isun tidak sendiri. Dia berkarib sangat dekat dengan Yeq Lawing (67). Kedua sahabat ini selalu berdua ke mana pun pergi, kecuali kalau ke ladang karena lokasinya berbeda. Yeq Lawing mempunyai 40-an pasang hisang.

“Saya dipasangkan hisang sejak umur tiga tahun dan sampai sekarang tetap pakai,” cerita Yeq Lawing.

Selain mereka berdua, di Long Isun, ada pula wanita yang memanjangkan telinganya, yakni Hong Son (80), Mebang Jenau (90), dan Telen Isun (70). Dua yang disebutkan terakhir sudah tidak mengenakan hisang, walau cuping kuping mereka masih berlubang panjang.

Dalam buku karangannya, Ati Bachtiar menyajikan setidaknya 43 perempuan Dayak berkuping panjang. Para ahli waris tradisi leluhur ini ditemuinya di berbagai tempat dari Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, hingga Mahakam Ulu. 

Tak ada angka yang pasti tentang jumlah perempuan Dayak yang masih mempertahankan tradisi kuping panjang ini. Beberapa perkiraan menyebutkan di seantero Kalimantan, jumlah perempuan dengan kuping panjang tidak sampai angka 100. Walaupun suku Dayak punya ratusan sub-suku, tidak semuanya mempunyai tradisi memanjangkan telinga.

Tradisi warisan leluhur ini hanya bisa dijumpai di sub-suku Dayak Bahau, Aoheng, Penihing, Kenyah, Penan, Kelabit, Sa'Ban, Kayaan, Taman, dan Punan. Rata-rata usia mereka di atas 60 tahun. Beberapa di antara perempuan berkuping panjang di Mahakam Ulu bahkan mendekati usia satu abad.

Dulu, tradisi memanjangkan kuping tidak hanya dilakukan kaum hawa, tetapi juga laki-laki. Di Dayak Kayaan, kuping yang panjang bagi laki-laki menunjukkan status kebangsawanan. Namun, beberapa inai (sapaan bagi perempuan tua) di Bahau, cuping kuping panjang juga menyimbolkan kecantikan pemiliknya.

Cuping yang dipanjangkan juga menjadi identitas usia. Sebab, ada tuturan yang menyebutkan bahwa kala dulu hisang ditambahkan pemiliknya seiring bertambah usia. Itu merupakan sebuah ujian karena semakin lama semakin berat. 

Perempuan cuping panjang dianggap sebagai perempuan yang memiliki kesabaran tinggi dan sanggup melewati penderitaan panjang. Sebab, hampir semua yang bertelinga panjang selalu disertai dengan rajah atau tato, baik di tangan maupun kaki.

Doq Lun (70) mempunyai 30 pasang hisang dari tembaga. Paing Buaq (85) membawa 20 pasang hisang. Keduanya merupakan sub-suku Dayak Long Glaat yang tinggal di Long Pahangai.

Doq dan Paing mengekspresikan kebanggaan mereka dengan tetap berhisang pada usia tua. Bagi kedua inai yang sudah pernah ke Eropa ini, kuping panjang, hisang, dan tato adalah bagian jati diri mereka sebagai orang Dayak.

“Ini adalah warisan leluhur kami. Kami tak mau potong, walau ada yang menganjurkan untuk dipotong. Kalau mau dipotong, tato ini juga harus dihilangkan,” kata Paing.

Apa yang diungkapkan oleh Paing adalah sebuah keprihatinan. Di beberapa tempat lain, banyak perempuan Dayak yang dulunya berkuping panjang, tetapi kini telinga mereka telah normal. Banyak yang telah memotongnya. 

Salah satunya adalah Imuq (74), inai di Long Isun. Dulu cupingnya berhisang, tetapi karena waktu itu ada anjuran untuk dipotong, dia mengikuti anjuran tersebut. Padahal, Imuq tidak hanya berkuping panjang, payudaranya pun dipakaikan gelang dan kulit tangan serta kakinya bertato.

Keprihatinan yang sama dialamatkan ke generasi Dayak saat ini. Nyaris tak ada lagi yang ingin memanjangkan cuping kuping mereka. Selama perjalanan Kompas.com di pedalaman Mahakam Ulu, tak ditemukan perempuan muda bertelinga panjang, bahkan pada anak dan cucu dari para inai yang saat ini masih berkuping panjang.

Berbagai alasan diutarakan generasi kini dengan tidak lagi mewariskan tradisi nenek moyang. Alasan paling utama adalah rasa malu. Mungkin peradaban modern yang merangsek hingga ke pedalaman menjadi penyebab utama generasi Dayak masa kini memilih tidak meneruskan tradisi unik ini.

“Itulah sebabnya saya ingin mendokumentasikan keberadaan telinga panjang dalam sebuah buku sebelum salah satu kekayaan Nusantara yang unik ini benar-benar punah,” ujar Ati tentang keinginannya membuat buku soal Dayak.

Di Pampang, kampung budaya di Samarinda, masih ada beberapa perempuan muda serta beberapa laki-laki yang memanjangkan cuping mereka. Tempat ini sudah menjadi destinasi utama dan menarik retribusi setiap pejalan yang ingin memotret mereka. Hal sebaliknya terjadi di pedalaman yang semestinya tradisi itu mengakar, keturunan mereka sekarang tak lagi menginginkannya.

Dari pernikahannya dengan Amai Ding, Tipung Ping dikaruniai tujuh orang anak dan sembilan cucu. Tidak ada satu pun dari penerusnya itu yang berniat memanjangkan telinga.

Sambil mengunyah sirih, Tipung Ping mengungkapkan kegundahannya, siapa yang akan meneruskan simbol keagungan identitas mereka sebagai orang Dayak itu. Sama halnya dengan Yeq Lawing, wajahnya menyiratkan kepasrahan saat mengalimatkan alasan anak-anaknya tidak lagi mau memanjangkan telinga.

“Sudah ketinggalan zaman mereka bilang, malu. Ya sedih karena tidak ada generasi penerusnya,” ujar Yeq Lawing.

Akankah warisan budaya yang agung di Nusantara ini akan berlalu dan menemui takdir pupusnya?

Berjuang Kala Uzur demi Merawat Tradisi

Kabut masih enggan beranjak dari Diang Karing dan Diang Musing. Keduanya merupakan sebutan lokal bagi dinding batu karst yang seolah menjadi benteng Kampung Tiong Ohang, Kecamatan Long Apari. Namun, geliat warga di tepi Sungai Mahakam pagi itu mampu menyiratkan semangat.

Mahakam adalah urat nadi bagi sebagian besar suku Dayak yang tinggal di sepanjang aliran sungai tersebut. Sama halnya dengan hutan, sungai adalah pemberian pemilik semesta yang harus dihormati. Tak heran, sepagi itu rutinitas harian diawali dengan berbagai ritual di sungai.

Akses yang sulit dari Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimatan Timur, bahkan dari Ujoh Bilang, pusat pemerintahan Kabupaten Mahakam Ulu, seolah membuat kecamatan ini terisolasi. Namun, kebijakan pembangunan bagi wilayah perbatasan telah mampu menghadirkan berbagai fasilitas umum di Long Apari yang berbatasan dengan Malaysia ini.

Walau daerahnya berada di jantung hutan Kalimantan dan susah dijangkau, keramahan warga adalah sebuah sapaan yang menghangatkan, jauh dari cerita-cerita okultis tentang suku Dayak yang banyak beredar. 

“Stigma soal orang Dayak yang menakutkan sirna saat kami diperlakukan dengan penuh rasa persahabatan.”

Tiupan angin mulai menghalau kabut di Diang Karing dan Diang Musing dan semburat merona muncul di kala mentari terbit. Saat itu pula kehidupan lain terjadi di jembatan gantung yang menghubungkan Tiong Ohang dengan Tiong Bu'u.

Jembatan yang bergoyang jika dilewati ini seolah menjadi saksi semangat bocah-bocah yang tadinya mandi di sungai untuk bergegas pergi ke sekolah mereka. Kini, pendidikan bagi orang Dayak adalah kewajiban yang tak bisa diabaikan.

Kabut pun lenyap, langit berubah menjadi benderang dengan warnanya yang biru tak berpolusi. Mega tersapu tipis dan seolah membakar semangat penghuni kampung, semangat yang terjejak pada kisah-kisah heroik para pendahulu Dayak Penihing saat melawan suku lain.

Kisah itu tersisa dari tradisi ngayau yang telah sirna, tradisi mempersembahkan kepala orang lain sebagai bantalan kala seorang dari golongan bangsawan meninggal.

Kisah-kisah yang kini hanya bisa dirasakan lewat motif-motif ukiran terserak di berbagai sudut kampung, mulai dari anak tangga, tiang rumah, atap, terali, patung-patung, dinding kuburan, penutup kepala, tato, tas, gagang mandau, gendongan bayi, dan terlebih di lamin adat. Motif ukiran ini menyiratkan penghormatan terhadap alam.

Beberapa motif itu terpola pada boning atau gendongan bayi, kaban atau tempat sirih, dan bukinlain (ikat kepala) milik Opin Serot. Wanita berusia 75 tahun ini memenuhi lemarinya dengan anyaman manik buatan tangannya sendiri.

Sebuah kebanggaan tersirat saat Opin Serot mengenakan bukinlain dan mengisahkan bagaimana dia terus bertekad mempertahankan cuping kupingnya yang dipanjangkan itu. Meski telah lupa tempat menyimpan hisangnya, Opin Serot tak ingin kupingnya dipotong agar kembali normal.

Opin Serot tak sendiri. Di Long Apari, masih ada dua lagi perempuan Dayak yang masih mempertahankan kuping panjang mereka, yakni Bulan (70) dengan 20 pasang hisang dan Tukau Daung (70) yang hisangnya sudah dilepas.

Pencarian terhadap perempuan Dayak berkuping panjang hingga ke kampung terakhir di Long Apari cukup mengejutkan. Kini, tradisi leluhur yang dulu dianggap agung itu di ambang kepunahan. Tak lebih dari 50 perempuan Dayak berkuping panjang terdata di Mahakam Ulu.

Mereka yang tersisa

Ati Bachtiar lewat bukunya Telinga Panjang, Mengungkap yang Tersembunyi mencoba menyajikan data para perempuan Dayak yang telinganya masih panjang.

Kalau di Long Apari tersisa tiga orang, di Kecamatan Long Pahangai, masih di Kabupaten Mahakam Ulu, setidaknya ada 31 perempuan berkuping panjang yang terdata (lihat boks).

Sementara itu, di Samarinda, ada Dahanging (74) yang sudah tidak memakai belaung. Dahanging adalah adik Pastor Bong yang dulunya memanjangkan kupingnya saat masih menganut kepercayaan Kaharingan. Ketika Bong memeluk Katolik, kuping panjangnya dipotong. 

Di Pampang, ada dua orang pemakai hisang, salah satunya adalah Uweq Periyag (64) dengan 21 pasang belaung (hisang).

Pebungan (80) dari Dayak Kenyah Umaaq Jalan tercatat tinggal di Muara Badang, Kutai Kartanagara, mempunyai 22 pasang belaung.

Di Kabupaten Kutai Barat, setidaknya ada empat perempuan berkuping panjang dari sub-suku Dayak Kenyah, yakni:

  1. Piyoq (65), 13 pasang belaung
  2. Pejelau Usat (75), memakai belaung bituk (bentuknya mirip gasing dari kuningan)
  3. Pesulau (72), tanpa belaung
  4. Pepiusat (70), bersama suaminya, belaung dengan model yang berbeda di kuping panjang mereka.

Para perempuan inilah dan beberapa lagi yang belum sempat terdata menjadi benteng terakhir perawat tradisi di ujung kepunahan itu. Jika uzur mereka menemui takdirnya, warisan budaya leluhur yang agung ini mungkin tinggal kisah yang akan diceritakan nanti.

Perempuan Berkuping Panjang di Mahakam Hulu

Tergerus Zaman

Erviea Song, seorang guru, mengungkapkan kegelisahannya. Dia ingin mengikuti jejak leluhurnya memanjangkan kuping. 

“Namun, orangtua saya tidak mengizinkannya,” ujarnya gundah.

Erviea berasal dari Long Tuyoq, Kecamatan Long Pahangai, sebuah kampung di tepi Sungai Mahakam di bagian hulu. Dia bergaul luas di Samarinda dengan segala kehidupan modernnya. Meski tak memanjangkan telinga, dia menggunakan tato di beberapa bagian tubuhnya.

Sementara itu, jauh di Long Apari, kecamatan yang berbatasan dengan Malaysia, wajah Tukau Daung (70-an) menyiratkan keengganan saat diminta mengenakan hisang. Cuping kupingnya masih panjang walau tak sepanjang perempuan Dayak berkuping panjang lainnya.

Tersirat sebuah rasa traumatis bagi Tukau untuk mengenakan kembali hisangnya. Sebagai penggantinya, Tukau mengenakan tiruan kuping panjang yang dicantelkan di ikat kepalanya. Hisangnya digantung di kuping panjang tiruan itu.

Tukau tidak ingin menceritakan apa yang membuat dia tidak lagi berhasrat mengenakan hisang. Dulu di Long Apari banyak yang berkuping panjang dan berhisang. Namun, jumlahnya kini tinggal lima orang.

Ketua Adat di Tiong Ohang, Long Apari, Sengiru Lasing, menjelaskan, penetrasi beberapa program pemerintah hingga ke pedalaman menjadi salah satu sebab tradisi kuping panjang menghilang.

Lasing menceritakan, ketika dokter datang ke kampung bersamaan dengan tentara sewaktu Indonesia terlibat konfrontasi dengan Malaysia, para perempuan berkuping panjang mulai memotong telinga mereka agar kembali normal.

Keberadaan sekolah juga menjadi penyebab ditinggalkannya tradisi berkuping panjang. Anak-anak tidak lagi ingin meneruskan tradisi leluhur mereka itu. Stigma kuno pun melekat pada perempuan berkuping panjang. 

“Malu diejek teman-teman mereka,” kata Lasing.

Long Imuq (74), salah satu perempuan berkuping panjang di Datah Suling, Long Isun, Kecamatan Long Pahangai, kini telah mengganti hisangnya dengan anting mungil. Cuping telinganya telah terlihat normal layaknya perempuan lainnya, padahal dulu cuping itu memanjang.

Tokoh masyarakat Long Isun, Kuleh Lia, menjelaskan, dulu sebenarnya banyak anak perempuan dengan lubang cuping untuk dipanjangkan. Namun, karena mereka harus bersekolah dan bekerja, cuping telinga yang sudah memanjang itu terpaksa dipotong.

Erviea sebenarnya tidak peduli stigma kuno yang melekat pada perempuan berkuping panjang. Baginya, meneruskan tradisi pitarah itu adalah hal penting di tengah generasi sekarang yang tidak ingin memanjangkan kupingnya. Sayangnya, orangtua menentang keinginan Erviea.

Di seantero Kalimantan, perempuan berkuping panjang diperkirakan tidak lebih dari 100 orang. Padahal, dulu, di Dayak bagian hulu, kuping panjang adalah simbol keagungan, tanda kebangsawanan, dan cermin kecantikan.

Modernitas yang merasuk hingga ke kampung-kampung di pedalaman Dayak telah menggantikan tradisi ini. Dari 43 perempuan berkuping panjang yang telah didokumentasikan Ati Bachtiar, fotografer dan penulis buku Telinga Panjang, rata-rata usia mereka di atas 60 tahun. Bahkan, beberapa di antaranya telah berusia 80 hingga 90 tahun.

Zaman memang telah berubah. Peradaban dengan cepat berganti rupa. Akankah kita membiarkan tradisi leluhur yang agung ini menemui takdirnya tergerus zaman?[]Sumber:Kompas.com

WRITER, PHOTOGRAPHER, VIDEOGRAPHER: Ronny Adolof Buol. EDITOR: Laksono Hari Wiwoho, Erwin Kusuma Oloan Hutapea, Dimas Wahyu Trihardjanto, Eris Eka Jaya. COPYWRITER: Georgious Jovinto. GRAPHIC DESIGNER: Cassandra Etania. DEVELOPER: Nurhaman. Copyright 2017. Kompas.com. 

BERSAMBUNG BAGIAN 3

DETIK
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar