PERTEMUAN Surya Paloh dengan Muzakkir Manaf melahirkan multi tafsir. Partai Nasional Demokrat (NasDem) diisukan mulai merapat ke Partai Aceh, mendukung Muzakkir Manaf sebagai calon Gubenur…
PERTEMUAN Surya Paloh dengan Muzakkir Manaf melahirkan multi tafsir. Partai Nasional Demokrat (NasDem) diisukan mulai merapat ke Partai Aceh, mendukung Muzakkir Manaf sebagai calon Gubenur Aceh. Lalu, bagaimana dengan Tarmizi A. Karim?
Tampaknya luka NasDem akibat tragedi troya masih membekas. Dalam Pilkada Gubernur Aceh, kader NasDem Zaini Djalil sudah klop dipasangkan sebagai wakil Tarmizi Karim. Siapa yana, Golkar masuk untuk mendorong mobil yang memang sudah jalan.
Masuknya Golkar kemudian membuat wakil Tarmizi Karim dirombak. Zaini Djalil terdepak, dan Machsalmina Ali menjadi pasangan Tarmizi Karim. Inilah peritiwa kuda troya yang ditegaskan oleh fungsionaris NasDem Aceh Wiratmadinata untuk diingat sepanjang masa. Perih dan memilukan.
Apakah luka itu masih menga-nga? Atau NasDem memang berpaling setelah tak mampu mendongrak elektabilitas Tarmizi Karim? Sekali lagi, pertemuan Surya Paloh dengan Muzakkir Manaf menjelang pemilihan Gubernur Aceh ini melahirkan tanda tanya besar.
Surya Paloh sebagai Ketua Umum DPP NasDem dan Muzakkir Manaf selaku Ketua Umum Partai Aceh tentu paham betul bahwa pertemuan ini memiliki konsekwensi terhadap Pilkada Aceh. Istilahnya, “meunyoe na ate pade tatop, hana bak droe talakee bak gob“. Tentu, Surya Paloh punya maksud bertemu dengan Muzakkir Manaf.
Siap sangka kedua tokoh ini bisa bertemu dalam situasi begini, saat masa kampanye. NasDem punya calon gubernur sendiri, sementara Muzakkir Manaf juga calon gubenur yang akan berkompetisi dengan calon diusung NasDem. Apakah Surya Paloh tidak melihat itu akan menurunkan elektabilitas calonnya? Atau memang NasDem sudah tak banyak berharap dari calon yang diusung bersama koalisi, lalu bergerak mendekati Partai Aceh?
Sikap Surya Paloh ini bisa ditamsilkan sebagai kegalauan politik jelang Pilkada Aceh, “miseu peuraho hukom bakat, hana teutap saban watee”. Politik tidak statis, tetapi selalu dinamis. Surya Paloh paham betul hal itu.
Pertemuan Surya Paloh dengan Muzakkir Manaf dalam situasi ini tidak boleh dibaca secara harfiah, “meugrak on kayei ka meupue cicem, teuseunyom teukhem ka meuho bahsa”. Publik di Aceh pasti punya dugaan macam-macam. Yang jelas, gerakan itu telah dilakukan Surya Paloh, terserah para pihak untuk menafsirnya.
Ada yang menduga, pertemuan itu akibat NasDem sudah putus harapan kepada Tarmizi Karim. Surya Paloh sadar calonnya itu kurang nilai jual. Sekuat apa pun berusaha dalam waktu kurang sebulan ini tidak mungkin lagi mengangkat elektabilitas Tarmizi Karim.
Surya Paloh paham betul, daripada tak mendapatkan apa-apa, lebih baik mencari celah. Dan ini kesempatan yang harus dimanfaatkan sebelum deadline hari pemilihan. Istilah kita orang Aceh, “daripada putoh get geunteng, daripada buta bah keuh juleng“.
Pertemuan Surya Paloh dengan Muzakkir Manaf jelas menunjukkan NasDem punya pikiran lain. Mereka yakin Tarmizi Karim tidak akan menang. Lain halnya bila kader sendiri yang didukung, walau kalah masih punya rasa, sehingga “bek lagee keubiri dikap le asee lam uroe tarek”. Maka, pertemuan ini jelas menunjukkan NasDem mencari rasa di masa akhir, “hana meukumat bak mise bah keuh meukumat bak janggot, nyang peunteng kuwah meutumei rasa”.
Pertemuan itu juga akan memecah klaim kemenangan kandidat lain. Sebab jelas NasDem punya suara di Aceh. Ini akan mengubah kalkulasi pihak lain. Kalau Tarmizi sudah jelas harus bekerja ekstra keras menghapus kesan ini. Minimal Tarmizi harus mendatangkan Surya Paloh kampanye untuknya guna menghapus kesan bahwa NasDem sudah berpaling.
Namun, apa pun analisa publik terhadap pertemuan Surya Paloh dengan Muzakkir Manaf atau Mualem, lebih jelasnya kita tunggu episode selanjutnya. Siapa yang suskes memengaruhi pemilih NasDem. Bila NasDem memang berpaling, bukan NasDem yang salah, tetapi kasus kuda troya boleh jadi sebagai pemicunya. “Kon bak kayee nyang han timoh, kadang chit tanoh kureung baja”.
Atau boleh jadi juga, kegalauan sedang menyelimuti NasDem, mata di Tarmizi, tetapi hati di Mualem. Ini ibarat kata maja, “pucok meuputa-puta, tuboh kuh di cot, hate kuh lam paya”. Dukungan formal NasDem ke Tarmizi, tetapi dukungan moril ke Mualem.
Hmmm, tentu Surya Paloh dan NasDem lah yang lebih tahu. Bagi Surya Paloh yang sudah banyak merasakan asam garam politik nasional, tentu sudah memikirkan efek luar biasa dari pertemuannya dengan Mualem. Dia pasti sudah berpikir panjang sebelum memutuskan untuk bertemu dengan Mualem.[]