Penutur bahasa Indonesia acap lebai (adj. berlebihan; mubazir). Bentuk yang pendek dibuat jadi panjang, padahal bentuk pendeknya saja sudah cukup. Ini merupakan salah satu sebab kalimat bahasa Indonesia kerap lebih panjang daripada padanan bahasa Inggrisnya.
Ambil contoh agar supaya. Kedua kata penghubung (konjungsi) agar dan supaya ini bersinonim dan bermakna sama, yakni menandai harapan. Kita cukup menggunakan salah satu di antaranya. Misalnya “Peraturan ini dibuat agar …” atau “Peraturan ini dibuat supaya …”. Tidak perlu “Peraturan ini dibuat agar supaya …”.
Salah satu bentuk kelebaian baru yang semakin sering saya temukan belakangan ini adalah kata kerja pasif dikarenakan. “Masalah ini muncul dikarenakan …”, demikian salah satu bentuk kalimat yang dirasa galib, tetapi sebenarnya kurang tepat. Coba ganti dikarenakan dengan karena. Bukan masalah, kan?
Saya menduga bentuk dikarenakan muncul sebagai analogi dari bentuk disebabkan. Analogi ini tidak tepat karena kata dasarnya berbeda sifat: sebab kata benda, sedangkan karena kata penghubung atau konjungsi. Kata benda memang dapat diberi imbuhan, sedangkan konjungsi tidak pernah diimbuhkan.