BANDA ACEH – Peneliti Jaringan Survei Inisiatif dan Pengamat Politik dan Keamanan, Aryos Nivada, mencermati dinamika politik di pilkada Aceh menjelang satu bulan di hari H, di mana para pasangan calon dan tim suksesnya bukan memberikan pendidikan politik kepada masyarakat Aceh maupun penyadaran agar berpartisipasi dalam pilkada.
Aryos Nivada mengharapkan para peserta pilkada tidak memberikan tontonan kekerasan dan intimidasi sesama mereka tanpa memperhatikan dampaknya bagi masyarakat Aceh.
“Sudah saatnya cara-cara kekerasan dan intimidasi harus ditinggalkan dalam berpolitik meraih kekuasaan, karena Aceh pascadamai dalam konteks pilkada harus memberikan perbedaan positif yang lebih baik dari sebelumnya,” kata Aryos yang juga penulis buku Wajah Politik dan Keamanan.
Ia menyarankan, biarkan masyarakat Aceh menentukan pilihannya dengan bebas tanpa ketakutan. Semakin takut masyarakat, katanya, semakin menurun partisipasi di pilkada. Menurutnya, sangat rasional itu terjadi.
“Namun saya optimis masyarakat Aceh akan melawan bentuk-bentuk intimidiasi dan kekerasan dengan melaporkan kepada Panwaslih dan aparat penegak hukum. Terpenting, jangan berdiam diri terhadap intimidasi dan kekerasan, tapi laporkan. Dikarenakan laporan dari masyarakat Aceh sangat dibutuhkan guna menindaklanjuti ke jalur hukum yang diatur dalam UU Pilkada, Qanun Pilkada, dan Peraturan KPU,” katanya, dalam siaran pers, Kamis, 5 Januari 2017.