TERKINI
PROFIL

Senyuman Indah Untuk Hasan Tiro atau Kesedihan Kepada Sang Penerus Estafet?

EMPAT puluh tahun silam, tepatnya 4 Desember 1976, sosok keturunan Tiro Teungku  Hasan Muhammad atau Hasan Tiro memproklamirkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Gunung Halimon, Pidie.…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 1.4K×

EMPAT puluh tahun silam, tepatnya 4 Desember 1976, sosok keturunan Tiro Teungku  Hasan Muhammad atau Hasan Tiro memproklamirkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Gunung Halimon, Pidie. Untuk mengenang hari bersejarah itu dan perjuangan yang dirintis Hasan Muhammad di Tiro, hari ini diperingati Milad ke-40 GAM.

Gerakan yang menggemparkan dunia di bawah titisan Tiroisme itu telah melakukan perdamaian dengan pemerintah pada tahun 2005. Simbol mereka kini berada di bawah komando Komite Peralihan Aceh dan Partai Aceh (KPA/PA). Mereka tetap mengenang jasa gerakan tersebut meski sang proklamatornya telah tiada. Namun, hiruk pikuk dan ruh milad gerakan itu seakan hambar, kurang terasa di kalangan masyarakat, tidak seperti di era pra-perdamaian dan tahun awal perdamaian.

Mengenang Milad GAM tidak terlepas merefleksi kembali sejarah perjuangan sosok proklamator dan para pejuang yang ikhlas dalam memperjuangkan “kemerdekaan” Aceh dalam jejak dan sepak terjangnya. Kepandaian dan kejeniusan sang Hasan Muhammad di Tiro tidak pernah diragukan. Ia sempat melalang buana ke belahan dunia sebelum memproklamirkan GAM di Gunung Halimon. Lewat Pasi Lhok Kembang Tanjong, ia menjajaki langkah perdana sebelum menerobos ke puncak bersejarah itu.

Pertama kali Hasan Tiro pulang ke Aceh pada Sabtu, 30 Oktober 1976, sekitar pukul 08.30 WIB. Hari itu beliau tiba di Kuala Tari, Pasi Lhok, sebuah desa nelayan di Kabupaten Pidie, setelah 25 tahun menetap di Amerika. Dari tempat itu ia melanjutkan perjalanan ke arah timur. Sekitar pukul 18.00 WIB, Hasan Tiro tiba di Kuala Tari. Sekelompok laki-laki dipimpin M. Daud Husin—masyarakat sering memanggilnya Daud Paneuk—telah menunggu kehadirannya. Malam itu juga mereka berangkat menuju Gunung Halimon. Hasan Tiro menyebutkan, itu malam pertama di tanah airnya, “setelah selama 25 tahun aku tinggal di pengasingan di Amerika Serikat” (Hasan Tiro, The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan Di Tiro, 1984).

Namun perjuangan secara fisik pra-damai sepertinya “mustahil” terulang kembali. Bukan berarti tidak mungkin terulang sejarah kembali apabila benih dan embrio “luka lama” ditoreh dan dilakoni kembali. Potensi ke arah itu kita sangat mengharapkan janganlah tersungkur langkah ke dalam lubang yang sama. RAkyat Aceh tidak ingin hidup dihabisi dalam hiruk pikuk dentuman dan luapan senapan, serta sang loreng yang masih membekas dalam trauma, belum hilang dalam memori.

Perjuangan 40 tahun silam dalam memperjuangkan tanah indatu merebut “kemerdekaan” hendaknya oleh sang “penerus” Tiroisme dengan bendera PA saat ini harus mampu mewarnai sendi-sendi kehidupan rakyat Aceh dalam kemakmuran dan kedamaian, serta esensi kemerdekaan itu sendiri.

Realitas yang terlihat saat ini, perahu penyambung estafet perjuangan di bawah bendera GAM (baca PA) kini terlihat sudah terombang-ambing, terpilah, terkotak dalam nahkoda yang berbeda, sehingga lahirnya perahu berbeda, PNA. Belum lagi elite politik yang lahir dari rahim sang Tiroisme Teungku Hasan Muhammad di Tiro, bahkan kerap “berseteru”, sewajarnya tidak perlu terjadi yang menghiasi media menjelang pemilihan kepala daerah di Aceh.

Lantas, kemana makna perjuangan dan menebarkan senyuman manis untuk para “syuhada” dan korban perjuangan baik nyawa dan harta, serta teristimewa untuk yang mulia sang proklamtor Teungku  Hasan di Tiro yang telah tiada, dipersembahkan oleh mereka penyambung estafet perjuangan?

Walaupun telah tiada, baik Teungku Hasan di Tiro maupun Teungku Abdullah Syafi'i, sosok panglima yang disegani dan dihormati oleh lawan dan kawan serta masyarakat, juga pejuang lainnya, mereka masih bisa melihat jejak titah perjuangannya di alam pengistirahatan terakhir.

Perjuangan yang telah dirintis keturunan Teungku Chik Di Tiro dapat kita temukan tujuan dan hasrat sang ploklamator itu sendiri dalam karya beliau yang telah diterjemah Teungku Haekal Afifa yang masih peduli dengan sejarah indatu saat para penyambung “titah” masih redup membangkitkan sejarah yang tercecerkan.

“… kita harus mengetahui bahwa kita semua senasib tapi perilaku kita individual (nafsi-nafsi), perilaku peuglah putjoek droe (egois) tanpa memikirkan nasib Aceh. Jika seperti itu, Aceh tidak akan berhasil dan ini tidak ada akhirnya. Tidak ada orang Aceh yang bisa kaya jika yang lain masih miskin. Tidak ada orang Aceh yang selalu senang, jika yang lain susah. Tidak ada orang Aceh yang makmur, jika dapur (ekonomi) yang lain tidak berasap (menderita)” (Haekal Afifa-Aceh Di Mata Dunia).

Menyelami pesan almarhum di Tiro dengan realitas saat ini para perjuang yang memegang estafet “GAM”, sudahkah direalisasikan atau hanya sebatas retorika dan sebuah pemanis yang hilang kala janji telah ditabuh?
Ataukah pesan itu “diblender” dalam ramuan “kemunafikan?”

Entah apa jawabannya. Selaku aneuk nanggroe hanya mampu menoreh lewat kicauan tulisan yang berangkaikan untaian kata yang tersusun tidak beraturan dan beribu kemaafan apabila tersakiti dan tersindir dalam goresan tidak bersuara ini.

Entah senyuman indah dan untaian magfirah-kah untuk sang wali Teungku Muhammad Hasan di Tiro, Teungku Abdullah Syafi'i dan para pejuang lainnya yang telah gugur dalam memperjuangkan tujuh huruf dasar yang sangat dahsyat terangkai dengan ungkapan “merdeka?” Atau tangisan kesedihan dan sakit hati mereka di istana maqbarah untuk sang penerus tingkat estafet di Milad ke-40 GAM ini?

Alfatihah untuk para syuhada

Wallahu alam bishawab

Wallahu muwaffiq ila 'aqwamith thariq

*Penulis adalah rakyat Aceh yang mengajar di dayah, saat ini sebagai mahasiswa pascasarjana.

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar