BANDA ACEH Milad ke-40 Gerakan Aceh Merdeka (GAM) diperingati pada 4 Desember 2016. Koordinator GAM Swedia Bakhtiar Abdullah melalui momentum memperingati hari bersejarah ini, berharap agar seluruh rakyat Aceh mempergunakan ruang perdamaian yang telah diraih untuk mencapai hak-haknya.
Bakhtiar Abdullah juga meminta pemerintah dan parlemen Aceh ke depan jangan lalai, dan lesu dalam memprioritaskan kewenangan Aceh. Karena, ia menilai yang dijalankan selama ini hanya dalam sistem perda”, bukan dalam bentuk qanun Aceh.
Begitu juga kepada Pemerintah Indonesia supaya segera memenuhi kewajiban untuk menjalankan secara sempurna isi kesepakatan MoU Helsinki, karena ianya adalah instrumen utama untuk percepatan pembangunan Aceh pascakonflik dan tsunami, tulis Bakhtiar Abdullah.
Berikut selengkapnya amanat Koordinator GAM Swedia Bakhtiar Abdullah memperingati Milad ke-40 GAM yang dikirim ke redaksi portalsatu.com melalui surat elektronik, Sabtu, 3 Desember 2016. Amanat itu ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Aceh:
AMANAT GERAKAN ACEH MERDEKA (GAM) SEMPENA SAMBUTAN MILAD GAM KEU 40 TAHUN 4 DESEMBER 1976 4 DESEMBER 2016
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bertepatan dengan milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ke-40 tahun, 4 Desember 1976 – 4 Desember 2016, syukur kepada Allah SWT kita masih diberikan kesempatan untuk bisa memperingati hari bersejarah sampai hari ini.
Selama 40 tahun, perjuangan GAM mengalami dinamika secara organisasi, beragam gejolak menerpa, tetapi semua bisa dilalui dengan selamat. GAM saat ini berupaya keras untuk melakukan perbaikan dan pembaharuan sehingga menjadi organisasi yang kuat dan tetap membela kepentingan bangsa dan rakyat Aceh. Dengan itu kami menghimbau kepada semua anggota GAM bersatu kearah tersebut.
Kita sudah sepakat mengakhiri perang bersenjata selama 30 tahun, ketika tsunami melanda Aceh dan berkomitmen terhadap perdamaian dan perjanjian damai Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki yang telah disepakati serta disaksikan oleh dunia internasional. GAM berharap agar seluruh rakyat Aceh mempergunakan ruang perdamaian yang telah diraih untuk mencapai hak-haknya.
Meskipun berbagai tantangan saat ini datang dari berbagai pihak untuk menggagalkan perdamaian dan demokrasi dengan cara menyebarkan berita propaganda, bohong, fitnah, ancaman, adu-domba dan intimidasi, Alhamdulillah semua itu bisa dilalui dikarenakan tekad rakyat Aceh yang ingin hidup dalam nuansa kedamaian untuk menata kembali kehidupan masa depan mereka yang cemerlang. Maka rakyat Aceh sama-sama menjaga dan membela perjuangan bangsa Aceh dalam ranah perdamaian.
Pemerintah Aceh dan parlemen Aceh kedepan jangan lalai, dan lesu dalam memprioritaskan kewenangan Aceh karena yang dijalankan selama ini hanya dalam sistem perda” bukan dalam bentuk qanun Aceh.
Begitu juga kepada Pemerintah Indonesia supaya segera memenuhi kewajiban untuk menjalankan secara sempurna isi kesepakatan MoU Helsinki, karena ianya adalah instrumen utama untuk percepatan pembangunan Aceh pasca konflik dan tsunami.
Sesuai dengan mekanisme di dalam perjanjian, GAM yang masih belum bubar, tetap berusaha supaya semua pihak melaksanakannya sebagaimana yang telah disepakati.
Kepada rakyat Aceh, mari sama-sama kita berdoa untuk kebaikan Aceh hari ini dan masa akan datang, serta kita mohonkan kepada Allah SWT semoga semua pahlawan dan syuhada yang telah syahid menjadi ahli syurga. Amin.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Stockholm, 4 Desember 2016
Koordinator GAM Swedia,