CANTIK, muda, dan berbakat melekat pada gadis ini. Lulusan Universitas Malikussaleh ini aktif dalam sejumlah organisasi dan komunitas. Ia juga mendapat sederet penghargaan dalam bidang menulis dan kepemudaan. Inilah Nanda Feriana, 22 tahun, asal Gampong Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.
Nanda menjadi pribadi mandiri dan tidak manja atas didikan ibunya, Syarkiah yang berprofesi sebagai guru. Sementara ayahnya, Hamdani meninggal dunia karena sakit ketika ia masih berusia empat tahun. Dari sosok sang ibu, Nanda belajar, wanita itu tidak boleh manja dan cengeng. Wanita harus bisa menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah yang datang.
“Saya belajar banyak hal dari ibu yang berjuang keras membesarkan saya dan kakak. Dulu, ibu harus naik turun gunung dengan menumpang mobil pengangkut kayu untuk mengajar di salah satu sekolah pedalaman. Ibu saya tipikal perempuan yang kuat dan berprinsip. Didikan itulah yang ditanamkan ke saya agar mandiri, tidak manja, apalagi cengeng,” ujar Nanda kepada portalsatu.com, Jumat, 11 November 2016.
Anak bungsu dari dua bersaudara itu mengawali pendidikannya di SD 1 Yapena PT. Arun, berlanjut ke SMPs Al-Alaq PT. AAF dan SMA Negeri 1 Dewantara. Tahun 2011 setelah lulus SMA, ia melanjutkan studi di Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe dan berhasil meraih gelar Sarjana Komunikasi (2016).
Nanda juga telah melewati beberapa pendidikan nonformal dan aktif di berbagai komunitas. Di antaranya, Sekolah Menulis dan Kajian Media (SMKM), DE-RE Indonesia Kota Lhokseumawe, Sekolah Menulis dan Apresiasi Sastra, Dewan Kesenian Aceh (DKA) Bidang Sastra Cabang Lhokseumawe, Sekolah Demokrasi Aceh Utara (SDAU), Komunitas Indonesia Untuk Demokrasi (KID)-LSM Sepakat Kota Lhokseumawe.
Selain itu, anggota Teater UKM Seni Meurah Silue Unimal, Sekretaris Komunitas Perfilman Ilmu Komunikasi (2012), anggota Bidang Informasi dan Komunikasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unimal (2013), Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Komunitas Demokrasi Aceh Utara (KDAU) 2014 hingga kini, Founder/inisiator Jaroe Aceh Youth Community (JAY-C) 2015 hingga saat ini, dan Volunteer serta Bendahara Gerakan Mari Sekolah (Maret 2015-April 2016).
“Saya menyukai dunia media dan juga hobi cuap-cuap. Saya mengidolakan sosok Najwa Syihab. Saya ingin menjadi penulis novel dengan tema budaya dan perempuan. Intinya, saya ingin memiliki karya yang bisa menginspirasi orang lain,” kata Nanda.
Impian terbesar lainnya bagi Nanda mengembangkan komunitas JAY-C agar menjadi wadah positif dan tempat lahirnya pemimpin-pemimpin muda pilihan untuk Aceh. Dalam waktu dekat, pihaknya akan membuka rekrutmen generasi kedua JAY-C dan pelatihan. Ia berharap banyak anak muda ikut berpatisipasi.
“Ketika duduk di bangku kuliah semester enam, saya sempat menjadi jurnalis di salah satu media on line selama enam bulan dan fokus pada feature bertema human interest. Bagi saya belajar itu tidak cukup hanya teori. Kampus sebagai tempat menyerap teori, sedangkan praktiknya ada di kehidupan nyata,” ucap Nanda.