LHOKSEUMAWE – Seni tradisi Aceh dalam lima tahun terakhir dinilai mulai menggeliat. Banyak event terus digalakkan oleh Pemerintah Aceh maupun di kabupaten kota. Bahkan ada atraksi massal hingga memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia seperti pertunjukan saman yang ditampilkan 5.075 penari di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues, November 2014 lalu.
Selain itu mulai muncul grup-grup seni tradisi di daerah-daerah yang sebelumnya nyaris tenggelam, seperti Juang Art Community (JAC). Sanggar seni yang berbasis di Kota Bireuen ini usianya baru seumur jagung, namun prestasi yang sudah didapatkan luar biasa. Malah, JAC disebut-sebut sebagai sanggar seni yang memberi aura baru di kota pecahan wilayah Pase itu.
Kita baru terbentuk setahun, dan selama itu pula kita berusaha untuk bangkit dari tidur panjang. Karena sebelumnya di Bireuen gaung seni tradisi kurang kuat. Malah kita selalu kalah dengan daerah lain. Sebenarnya JAC bukan milik Bireuen, tapi milik Aceh, ujar Ivan, leader JAC usai tampil di Festival Musik Etnik se-Aceh yang diadakan DKL di ACC Unimal, Minggu, 6 November 2016.
Menurut mantan penabuh drum di grup band Bidjeh itu, JAC terbentuk berkat kesadaran beberapa alumni FKIP Unsyiah prodi Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) yang menetap di Bireuen, mengajar seni di Sekolah Sukma Bangsa Birueun, Pidie dan Lhokseumawe.
Berawal dari silaturrahmi sesama alumni, dan akhirnya kita sepakat untuk membuat sebuah sanggar yang bisa mengangkat kembali seni tradisi Aceh di Kota Bireuen, kata Ivan.
Anggota yang terlibat di JAC katanya tidak semua dari Sekolah Sukma Bangsa, namun juga direkrut dari seniman muda di Kota Bireuen yang selama ini mengekspresikan seninya di kota lain seperti Lhokseumawe dan Banda Aceh.