LHOKSUKON – Jumlah bantuan rumah yang disalurkan kepada masyarakat miskin tidak sebanding dengan jumlah proposal permohonan bantuan yang masuk ke Dinas Cipta Karya Aceh Utara. Sejak 2013, tercatat lebih dari 14.000 proposal yang masuk dan jumlah itu terus bertambah setiap tahunnya.
Hal itu disampaikan anggota Komisi D DPRK Aceh Utara, H. Ismed Nur AJ Hasan kepada portalsatu.com, Minggu, 6 November 2016. Menurutnya Aceh Utara saat ini sangat miskin, tidak seperti dulu yang kaya raya. Parahnya lagi, Aceh Utara sudah miskin tak tahu diri.
“Jumlah proposal yang masuk ke dinas terhitung dari 2013 lebih dari 14.000 dengan usia pemohon 40 tahun ke atas. Sementara jumlah bantuan yang disalurkan setiap tahun sekitar 250 unit rumah. Setiap tahun jumlah warga miskin di atas 40 tahun terus bertambah. Jika jumlah bantuan rumah yang disalurkan tetap sama, maka persoalan kemiskinan, khususnya rumah tidak ada habisnya,” ujar H. Ismed.
Saat ini, lanjutnya, jumlah anggaran yang diplot ke pendidikan dan kesehatan jauh lebih besar daripada bantuan rumah layak huni. Padahal pendidikan sudah terarah, demikian juga kesehatan yang sudah ada BPJS program nasional.
Menurut H. Ismed, sudah lebih dari 2 tahun Pemkab Aceh Utara tidak pernah melakukan musyawarah dengan dewan terkait bagaimana cara sama-sama mencarikan solusi untuk menekan angka kemiskinan. Padahal pada masa pemerintahan sebelumnya, musyawarah itu selalu dilakukan.