*oleh Mawardi, S.Pd.
Tuntutan besar, tetapi hasil akhir diabaikan. Itulah tugas yang terus ditekuninya. Seringkah Anda mendengar seseorang yang mendapat apresiasi dari negara dengan alasan mampu mencetak generasi lebih baik? Kemudian sering mana Anda mendengar ianya masuk penjara karena langkah-langkah perjuangannya yang dianggap salah oleh negara? Di antara kedua hal tersebut mana yang lebih tertampang di media? Kita memiliki jawaban yang sama untuk pertanyaan di atas.
Guru dituntut mendidik anak-anak agar bisa lebih baik. Satu-satunya jalur aman yang tersedia pada bangsa yang sudah tertata rapi peraturannya untuk zaman sekarang ini adalah melalui perubahan karakter anak. Dalam hal ini guru fokus pada perubahan karakter anak yang sebelumnya malas belajar hingga rajin belajar, sebelumnya jahat jadi baik, sebelumnya rambut siswanya panjang hingga pendek dan rapi, sebelumnya seragam sekolahnya tidak rapi hingga jadi rapi, dan masih sangat banyak hal negatif lainnya yang harus disulap oleh pahlawan bangsa tersebut agar jadi bagian golongan-golongan positif.
Namun, apakah menurut Anda pada jalur aman tersebut tidak muncul kendala-kendala yang mampu menggelengkan kepala? Coba perhatikan (sebagian) pelajar zaman sekarang! Mereka merokok sembarangan, keluyuran ke mana-mana saat jam sekolah, tawuran kerap terjadi di mana-mana, menjalin pasangan tak jelas, dan masih banyak hal yang tertampang jelas di mata masyarakat sebagai potretan-potretan pendidikan anak bangsa. Hal demikian sudah terjadi bertahun-tahun.
Di saat potretan-potretan pendidikan anak bangsa seperti ini tidak teratasi dengan maksimal, maka serentak sang gemuruh tak berpendidikan muncul dan mengatakan semuanya salah guru. Sungguh berat tugas mulia ini.
Guru dihujat ramai-ramai saat tidak berhasil meningkatkan reputasi anak bangsa. Ketika pendidikan Indonesia terpuruk, guru juga yang dicabik-cabik oleh suara yang entah berantah dari mana asalnya.