Tentu semua tahu preman berasal dari vrijman (Belanda) atau freeman (Inggris). Free bebas. Manmanusia. Ada juga yang mengatakan bahwa preman dari pre-man, pra-manusia. Disebut demikian karena tampang dan kelakuan seperti primata sebelum manusia. Kasarnya, manusia macam monyet atau kera. Rasanya ini terlalu dibuat-buat dan tak perlu dipertimbangkan kecuali bukti kuat tertulis bisa ditunjukkan.
Kata freeman punya sejarah panjang di Eropa. Dalam masyarakat statik kerajaan Abad Pertengahan yang menentukan kelas sosial permanen setiap orang dari lahir sampai mati, terdapat kelompok yang tak pas betul masuk ke dalam hierarki rigid itu. Ada kelompok petani perdesaan yang memiliki tanah sendiri dan, karena itu, nasib mereka tak bergantung sepenuhnya pada kehendak penguasa dan bangsawan. Ada penduduk tertentu perkotaan, seperti pedagang dan tukang (ahli), yang penghidupan mereka juga tak ditentukan kemurahhatian kelas sosial di atas mereka. Pada pokoknya manusia bebas adalah istilah teknis yang dikenakan kepada mereka yang bukan dari golongan bangsawan atau penguasa, juga bukan dari golongan serf (hamba), buruh tani yang mengolah tanah milik para bangsawan atau penguasa dan, karena itu, nasib hidup mereka terikat kepada pemilik tanah. Sebagian dari mereka hidup relatif bebas, memiliki hak politik tertentu sebab diakui sebagai warga negeri yang merdeka.
Lama-kelamaan golongan bebas iniyang sebelumnya dianggap setengah tingkat di atas para hamba sahayaberhasil jadi kelompok kuat secara ekonomik. Mereka ini kemudian jadi landasan kemunculan kelas menengah di Eropa yang akhirnya menumbangkan golongan aristokratik (dengan atau tanpa pancung kepala) dan melahirkan sistem masyarakat demokratik, sistem yang sekarang jadi pegangan atau harapan rakyatkalau bukan pemimpinbangsa-bangsa dunia. Tentu ada juga yang tak suka para manusia merdeka itu. Di perkotaan terjadi perkembangan menarik. Kota atau benteng disebut borough, burgh, burg, atau semacam itu. Para penggila bola kaki tentu kenal Middlesbrough atau Hamburg. Nah, manusia bebas yang sukses di perkotaan disebut bourgeois. Kita tahu apa pendapat Karl Marx tentang mereka, para pemilik alat produksi itu.
Sampai sekarang borjuis adalah kata makian yang khas untuk orang yang lebih kaya dan makmur daripada si pemaki.
Di Nusantara sejak dulu tersua kelompok yang bukan bangsawan atau penguasa dan juga bukan rakyat jelata yang tunduk total kepada raja atau sultan absolut. Mereka para jagoan, orang kuat yang disegani dan ditakuti rakyat. Mereka mungkin merampok dan menjarah di kampung orang lain, tapi melindungi dan membela kampung sendiri dari perampokan dan penjarahan yang dilakukan jagoan kampung lain. Bandit sekaligus pahlawan.