Hanya sedikit kenangan itu yang tersisa, ianya telah terkikis oleh waktu dan ingatan yang mulai merenta.
Itu adalah hari-hari di mana mimpi masih secerah langit siang, masih penuh keriangan memenuhi kebun dan kota. Hari-hari itu, tahun 1990-an.
Entahlah, kalau ingatanku benar, maka ada satu atau dua kali, seingatku, ada dibuat perlombaan 17 Agustusan di Paloh Dayah, itu di sawah tengah Gampong, di sisi Simpang Geunteng.
Sejak belasan tahun terakhir tempat itu dijadikan lapangan sepak bola, dan mungkin bebarapa tahun lagi, sawah itu beralih guna kembali, dan lapangan sepak bola dipindahkan ke tanah gampong khusus lapangan bola, yang diberikan oleh Pemerintah Aceh melalui dana spirasi Ermiadi, anggota DPRA dari Partai Aceh, tahun 2014.
Saat itu, 1990-an, sawah tersebut belum difungsikan sebagai lapangan sepak bola, hanya dijadikan tempat latihan karena sawah itu tengah kering dan lagi bukan musim meugoe (bertanam padi).
Di sana seingatku, yang diperlombakan adalah tarik tambang, lari dalam guni, melarikan telur dalam sendok di mulut, makan kerupuk, dan sebagainya yang merupakan lomba untuk para budak belian yang dulu dibuat oleh penjajah Belanda. Tidak ada panjat pinang di sana karena sulit membuat perlombaan untuk para budak itu.
Sekitaran tahun itu juga, sekira kelas lima atau enam Madrasah Ibtidaiyah (MI/sekolah tingkat SD), saya mengikuti lomba lari, karena itu yang saya bisa; orang kurus dan hidup di sekitar kebun ditambah setiap hari berjalan kaki sejauh dua kilometer untuk ke sekolah, tentu saja bisa berlari kencang.
Namun, saya yang lugu dan terlalu jujur dengan aturan itu pun tidak sempat berlari. Aturannya, peserta lomba harus berlari pada saat suara tiupan peluit berbunyi sebagai ganti hitungan ketiga. Saya menunggu itu, namun peserta lain berlari pada suara teriakan aba-aba, dua, setelah satu, dan mereka berlari kencang. Saya menunggu peluit sebagai ganti kata tiga. Begitu mahu berlari, kawan-kawan sudah 5 atau 10 meter di depan. Itu tidak mungkin terkejar, dan saya pun membatalkan niat berlari. Saat itu.
Saya tidak ingat lagi, apakah hadiah selusin buku tetap diberikan saat itu atau tidak, karena saya batal berlari.