TERKINI
HISTORI

Bersama Aduen Jelas: Berbeda Canda Namun Saling Menjaga

SUARA riuh seperti biasanya terdengar dari sudut ke sudut, baik di dalam maupun di areal kantin Smea, yang beralamat di Lampineung, Banda Aceh. Hari ini, tanggal…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 965×

SUARA riuh seperti biasanya terdengar dari sudut ke sudut, baik di dalam maupun di areal kantin Smea, yang beralamat di Lampineung, Banda Aceh. Hari ini, tanggal 16 Agustus 2016. Di sore hari Selasa menjelang malam tersebut, kala itu penulis tengah bercakap-cakap dan duduk satu meja dengan kanda Thayeb Loh Angen.

Pada sore hari yang terus menghampiri malam tersebut, kami didatangi oleh seorang sineas yang sudah sangat terkenal dan sudah mempunyai nama di Indonesia, khususnya di Aceh. Namanya Teuku Abdul Malik, ia pun bergabung di meja kami.

Tiada lama setelah itu datang lagi, seorang artis Aceh. Ia adalah Aduen Jelas. Aduen, juga turut bergabung di meja kami. Penulis sendiri, kenal dengan kedua tamu ini. Na keuh, keduanya itu sudah sangat pasti dikenal oleh banyak orang di Aceh ini. Yang namun mereka itu belum tentu mengenali kita, seperti halnya penulis di sa’at itu.

“Di sa’at-sa’at seperti inilah, kadang saya merasa sedih. Dan sakitnya itu, sudah sangat jelas di sini.” Saya berguman sendiri di dalam hati, melihat ke arah lain sambil menggosok-gosok ulu hati.  

Mereka bertiga terus berkata-kata, baik tentang isu-isu kekenian yang tengah berkembang di Aceh. Dari segala ruang lingkup masalah dibicarakan secara umum, dan khususnya dalam lingkup seni. Penulis hanya menjadi pendengar yang budiman sahaja, yang namun sangat banyak ilmu-ilmu baru yang didapati dikala mendengar mereka-mereka itu bercerita.

Malam pun tiba, pukul tujuh malam kanda Abdul Malik meminta diri untuk menghadiri sebuah acara di tempat lain. Sekarang kami hanya tinggal bertiga di satu meja kantin tersebut, suara riuh pun tak terhingga. Para pungunjung kantin silih berganti, beragam latar belakang dari mereka-mereka itu yang mengunjungi kantin Smea.

Kami hanya bertiga dan penulis mulai bertanya tentang kampanye, perjuangan, partai-partai yang ada di Aceh. Yang namun oleh kerana pertanyaan tersebut, kami semakin larut dalam cerita-cerita tersebut, di dalam hal ini saya juga ikut berbicara. Walau bukan siapa-siapa, saya sangat tahu diri dan tahu siapa diri ini.

Sangatlah berbanding jauh dengan kedua orang yang ada di hadapan saya sekarang, apalagi dibandingkan dengan anda-anda yang memang pelaku sejarah, petempur di medan gerilya, perasa pahit-manisnya perjuangan di kala waktu. Namun dalam hal ini, saya merasa punya tanggung jawab juga. Maka dari itu sesekali turut bertanya dan berargumen bersama keduanya.

“Tujuan kita hari ini, bukan untuk menyuarakan perpecahan di Aceh. Apalagi sekarang musim pilkada, yangmana, mereka-mereka para pengacau itu sangat leluasa memanfa’atkan moment ini untuk menyebarkan fitnah perpecahan di antara sesama kita masyarakat Aceh,” pria yang berbadan tegap, tinggi itu terus berkata-kata.

“Mereka, para pembesar itu. Yang dahulu sama-sama berjuang, yang mempunyai mimpi yang sama, dulu. Walaupun sekarang sudah berbeda, sudah memiliki partai masing-masing. Akan tetapi mereka-mereka itu, masih tetap akrab, bersahabat antara satu sama lainnya. Jangan kita-kita ini, yang dominan masyarakat biasa, hanya pengikut partai mereka. Sudah bermusuh-musuhan, saling membunuh, bahkan adik kandung sendiri yang menjadi korbannya oleh sebab beda partai. Maka harus sangat berhati-hati dengan tukang fitnah perpecahan, mari sama-sama kita menjaganya,” mata Aduen terlihat berkaca-kaca.

Kami sadar, bahwa tengah berada di tempat umum. Yang namun dengan menyengaja tiada peduli, terhadap orang-orang yang ada di sekitar pada sa’at itu. Kerana bukan untuk mencari masalah pada tujuan, akan tetapi mencari jalan keluar yang terbaik untuk terus bersama dalam kebersamaan ini. Handphone Aduen Jelas berbunyi, ia melirik akanpada alat elektronik tersebut kemudian berpamitan. Canda kamipun berakhir.[] 

Laporan: Syukri Isa Bluka Teubai

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar