BANDA ACEH – Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Alam mengatakan Sultan Aceh tidak pernah tunduk kepada Belanda, apalagi menyerah. Hal tersebut disampaikan cucu tertua Sultan Aceh Tuanku Muhammad Dawoodsyah kepada Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, saat menggelar buka puasa bersama di Kompleks Baperis, Banda Aceh, Kamis, 9 Juni 2016.
“Abuchik sudah tahu beliau akan ditangkap sama Belanda. Dalam wasiatnya kepada putroe, bahwasanya perjuangan Aceh diserahkan kepada Teungku Chik Di Tiro. Artinya, Aceh tidak pernah tunduk kepada penjajah apalagi menyerah,” ujar Tarmizi A Hamid mengutip kata-kata Teungku Putroe kepadanya.
Pria yang akrab disapa Cek Midi ini juga menyampaikan beberapa pesan putri tertua Tuanku Raja Ibrahim yang kini bermukim di Mataram tersebut. Dia berharap Aceh harus terus maju, terutama di bidang keilmuan.
“Jaga Aceh dari campur tangan dari bangsa lain yang tidak sesuai dengan adat istiadat dan budaya Aceh, rawatlah Aceh sebaik mungkin,” kata perempuan berusia 80 tahun tersebut kepada Cek Midi.
Di sisi lain, Teungku Putroe juga mengapresiasi sebesar-besarnya kepada Tarmizi yang telah mengoleksi warisan leluhur berupa manuskrip Aceh. Menurutnya manuskrip tersebut mengandung berbagai keilmuan di dalamnya. Teungku Putroe juga mengatakan, manuskrip yang disimpan dan dikoleksi Tarmizi adalah bukti Sultan Aceh mencintai agama dan berbagai disiplin ilmu lainnya, terutama yang menyangkut tentang Aceh.