SEJUMLAH tiang listrik berdiri kokoh di sepanjang jalan Banda Aceh-Medan. Ada yang berukuran sepohon kelapa, ada pula seukuran pohon pinang. Kabel-kabelnya menjuntai saling terkait antara satu dengan lainnya. Namun tidak ada dian satupun di antara tiang-tiang tersebut.
Kondisi gelap gulita menghiasi perjalanan saya ke Bireuen, Kamis, 19 Mei 2016 malam itu. Jarak pandang hanya dibantu oleh cahaya temaram lampu mobil yang saya tumpangi. Sesekali, kendaraan yang lalu lalang membantu penglihatan kami. Padahal jarum jam saat itu masih pukul 19.30 WIB. “Mungkin listrik juga sakit di sini.”
Namun apa yang kami khawatirkan salah. Di beberapa toko terlihat lampu-lampu neon menyala. Tapi tidak di tiang-tiang listrik milik PT PLN Aceh itu. Saya berpikir, seandainya saja bohlam dipasangi di tiap tiang yang ada, maka sangat memudahkan pengendara kala melintas malam hari di sepanjang jalur ini. “Risiko kecelakaan juga bisa dihindari,” kata Muhammad, rekan seperjalanan.
Mobil yang saya tumpangi terus membelah pekatnya malam. Empat rodanya sesekali tersuruk ke dalam lubang. Maklum saja, meski Jalan Banda Aceh-Medan berstatus jalan nasional tetapi “luka-luka” di badannya tak jua kunjung diperbaiki. Baik di kawasan Seulawah Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya hingga Bireuen. Ogah mengambik risiko, Muhammad mengurangi laju kendaraannya meskipun kami belum leluasa melihat jalur yang bakal ditempuh. Kami hanya mengikuti jalan hitam yang sesekali nyaris nyasar ke halaman rumah penduduk.