TERKINI
BLOG

Akhir Kisah Mencintai Lelaki Beristri

AKU duduk dan membuang pandang ke jalan raya. Menyaksikan lalu lalang kendaraan dari meja kerjaku. Matahari mulai bersujud. Pertanda sebentar lagi hari akan gelap. Sesekali…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 2.2K×

AKU duduk dan membuang pandang ke jalan raya. Menyaksikan lalu lalang kendaraan dari meja kerjaku. Matahari mulai bersujud. Pertanda sebentar lagi hari akan gelap. Sesekali kupandangi kotak masuk di email. Ada banyak pesan yang masuk dari sebuah nama. Sudah dua hari ini, setiap kali memandangi kotak masuk di email, hatiku selalu bergerimis. Nyeri. Perih. Sakit.

Seperti saat ini. Tanpa sadar mataku kembali menjadi basah saat melihat nama itu di deretan pesan masuk. Hatiku bergemuruh. Emosiku menjadi tak karuan. Perbincangan dua hari lalu dengan pemilik nama itu kembali terngiang. Seolah seperti hantu yang terus membayangi dan memunculkan wajahnya. Ya, percakapan melalui email. Percakapan yang bisu namun telah meruntuhkan perasaan dan harapanku.

Email-email itu dari Juan (nick name). Lelaki bergelar kekasih yang sudah lebih sepuluh tahun bersamaku. Waktu yang teramat lama untuk mendefinisikan sebuah perasaan, cinta dan juga kesetiaan. Aku mencintainya lebih dari diriku sendiri. Menyebut namanya lebih banyak daripada menyebut namaku sendiri. Aku tak pernah alpa mengingatnya, atau merinduinya. Bahkan hingga sepuluh tahun lebih kebersamaan kami, perasaanku padanya tak pernah berubah. Sering kukatakan padanya kalau aku selalu tergila-gila padanya.

Juan adalah lelaki yang luar biasa menurutku. Ia sangat istimewa. Kami berkenalan awal 2005 silam melalui produk teknologi bernama internet. Berawal dari keseringan chatting, kami akhirnya menjadi dekat. Di mataku yang saat itu baru beranjak 20-an, Juan merupakan sosok yang sangat dewasa. Ia sangat mengayomi, cerdas, penyayang, bijak. Juan begitu menginspirasi dan memotivasi. Usia kami yang terpaut hingga 18 tahun membuat Juan sangat memahamiku. Aku merasa nyaman saat 'bersamanya'.

Di balik sikapnya yang hangat, Juan sering bercerita tentang keluarganya. Tentang istrinya yang cantik, yang katanya campuran Pakistan dan Banten. Tentang anak-anaknya yang cerdas dan menggemaskan. Tentang kehidupannya yang mapan. Cerita-cerita yang menurutku sangat indah untuk dibayangkan. Kehidupan yang nyaris sempurna. Membuatku diam-diam memimpikan kehidupan, juga seorang suami seperti Juan, kelak.[]

Baca selengkapnya >>>>

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar