TERKINI
TAK BERKATEGORI

Jalan Punteuet Dibuka Kembali, Ini Kritikan Masyarakat Terhadap Wali Kota dan Dewan

LHOKSEUMAWE- Setelah melayangkan aksi protes dan memblokir dua ruas jalan yang sering disebut jalan lingkar Keude Punteuet, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Rabu kemarin, kini jalur…

MAULANA AMRI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 885×

LHOKSEUMAWE- Setelah melayangkan aksi protes dan memblokir dua ruas jalan yang sering disebut jalan lingkar Keude Punteuet, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Rabu kemarin, kini jalur tersebut telah dibuka kembali. Itu dilakukan setelah masyarakat melakukan audiensi dengan anggota DPRK dan  Dinas Pekerjaan Umum (PU) setempat.

Informasi dihimpun portalsatu.com, Kamis, 12 Mei 2016, pagi, usai beraudiensi kemarin, masyarakat menerima sejumlah penjelasan dan “janji-janji manis” yang disampaikan pemerintah, sehingga dua ruas jalan tersebut dibuka kembali.

Para pedagang berharap pemerintah segera mengaspal jalan itu lantaran mereka sudah tidak tahan dengan debu beterbangan. Kamaruzzaman, pedagang sepeda, mengeluhkan debu beterbangan di badan jalan hingga memasuki tokonya dan toko milik pedagang lainnya.

“Brat that ka nyoe, moto sepjai lewat. Mulai dari moto biasa sampe moto mee anoe, bate ngen tanoh. Nyan pih ken saboh atau dua, tapi hana ek tabileng padin boh siuroe dilewat,” kata Kamaruzzaman, Kamis, pagi tadi.

Menurut Kamaruzzaman, sebelum masyarakat membuka kembali jalan tersebut, kemarin pihak dewan dan Dinas PU datang ke Keude Punteuet. Perwakilan pemerintah minta masyarakat membuka kembali jalan tersebut agar tidak menghambat akses menuju kecamatan lainnya.

“Baroe dipeugah akan secepat jih diaspal. Tinggai preh siap tender sagai teuk, lheuh nyan langsong dipeuget. Cuma, na kamoe lakee sigolom dipeuget, mulai uroe nyoe beugeusiram dua go siuroet,”ujar Kamaruzzaman.

Menurutnya, jika badan jalan tidak disiram dengan air, aktivitas jual beli di kawasan tersebut tersendat. Sebab, debu yang beterbangan membuat pembeli enggan ke pasar, apalagi melihat toko diserang dengan debu. “Pedagang bukan berjualan lagi, tapi sekarang sibuk membersihkan debu tiap jamnya,” ujar dia lagi.

Kamaruzzaman mengatakan, hingga pukul 10.00 WIB tadi belum tampak petugas yang menyiram jalan tersebut sesuai perjanjian yang telah disepakati. “Nyan ban pemerintah jinoe, nyan meunyoe diek lom, masyarakat ka dimeujanji hana meutemeng jak pileh jih lee,”  tegas Kamaruzzaman.

Husein, pedagang buah pinang di kawasan tersebut juga menyesalkan sikap pemerintah yang dinilai tidak peduli atas penderitaan masyarakat.

“Nyan awai wali kota dimeujanji awai buleun peut dipeuget, tapi nyo ka lewat, nyoe baroe ka dimeujanji buleun lapan enteuk. Ek beutoi nyan, hana tatuoh lom,” kata Husein.

Menurut Husein, pemerintah saat ini sudah “gelap mata” semuanya. Apapun permintaan masyarakat sangat sulit untuk direalisasikan. “Nyan yang na teupu jak u luwa apa dewan. Hana meupu cap pih, abeh peng kop jai, manfaat sit kahana,” sebut dia.

“Digob na sit dijak u luwa, tapi dipubuet wate dibalek. Nyoe han, jak kalon buet gob sideh yang kamaju, tempat droe meu aspal hana jelas lom, nyan ken saket,” kata Husein.

Husein juga menyebutkan, “Nyan wali kota ngen ketua dewan awak Kandang, Kecamatan Muara Dua, bek peumaju daerah droe manteng. Daerah laen perle sit pembangunan termasuk kawasan Punteuet, Kecamatan Blang Mangat,” pungkasnya.

Faisal, mahasiswa setempat sekaligus aktivis SMUR Lhokseumawe menyebutkan, hasil audiensi kemarin, proyek pengaspalan jalan tersebut akan ditender pada 21 Mei 2016, dan pekerjaan akan direalisasikan sekitar tiga bulan ke depan.

Faisal menyebutkan dampak dari debu akibat jalan tidak diaspal sangat besar. Banyak dagangan yang harus selalu dibersihkan, para pedagang harus berjibaku dengan debu setiap hari.

“Selain itu, dampak pada kesehatan juga sangat besar. Dengan banyaknya debu masyarakat rentan terkena penyakit batuk-batuk, jika berkelanjutan akan bisa menyerang paru-paru, apalagi banyak anak-anak di sini,” ujarnya.

Faisal mengharapkan pemerintah jangan pilih kasih dalam pembangunan. “Taharapkan dewan beu beutoi-beutoi dewan, bek pajoh gaji buta dan lalo ngen kunjungan kerja,” kata Faisal.

Menurut Faisal, kunjungan kerja boleh-boleh saja, namun harus jelas tujuan dari itu semua. “Dan mesti ada hasil yang jelas pula dibawa untuk diterapkan di Kota Lhokseumawe,” ujarnya

Diberitakan sebelumnya, masyarakat Gampong Keude Punteuet membentangkan pohon kelapa dan sejumlah kayu di atas badan jalan tersebut, sehingga tidak dapat dilintasi kendaraan. Masyarakat juga memajang sejumlah spanduk dan poster berisi tuntutan dan kecaman terhadap Pemko Lhokseumawe.

“(Yang diblokir) badan Jalan Masjid dan Jalan (menuju) Mbang di Keude Punteuet. Kedua ruas jalan itu diblokir oleh masyarakat sejak pagi tadi. Masyarakat han ek ‘dipajoh’ abee lee, akibat jalan nyan hana diaspal (masyarakat tidak sanggup ‘makan’ debu lagi, akibat jalan itu tidak diaspal),” ujar Amrizal, Tuha Peut Keude Punteuet dihubungi portalsatu.com lewat telpon seluler, Rabu (kemarin). (Baca: Terima Kasih Pak Walikota Atas Bantuan Makan Debu)

Camat Blang Mangat Edi Yandra menyebut ia langsung melaporkan kejadian itu kepada Wali Kota dan Sekda Lhokseumawe setelah menerima informasi dari Sekcam dan Kapolsek Blang Mangat. “Sudah saya SMS Pak Wali dan Pak Sekda,” katanya.

“Pada intinya, Jalan Keude Punteuet itu bukan tidak diaspal, tapi Anda kan tahu yang namanya proyek pemerintah harus melalui proses tender. Sesuai aspirasi masyarakat, kita berharap setelah ditender, rekanan secepatnya melakukan pekerjaan pengaspalan,” ujar Edi Yandra. (Baca: Jalan Diblokir, Camat: Saya Sudah SMS Pak Wali)[]

MAULANA AMRI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar