Berada di balik layar atas sejumlah agenda internasional bukan perkara sederhana. Apalagi kepentingannya terkait diplomasi ekonomi antarnegara. Syurkani bangun tekadnya untuk selalu memberi pelayanan prima.
***
KALA petang menjelang, tampak seorang anak laki-laki bergegas kembali ke rumah setelah seharian bermain bersama teman-temannya. Tepat saat azan Magrib berkumandang, ia langsung berangkat ke mushala untuk salat dan belajar mengaji. Ialah Syurkani Ishak Kasim yang memiliki masa kecil kental dengan budaya dan nilai-nilai islami.
Dibesarkan di bumi Serambi Mekah, Syurkanipanggilan akrabnya, sadar betul bahwa ia tumbuh di lingkungan yang sangat kuat menjalankan syariat agama. Itulah sebabnya, sejak dini, putra pasangan Ishak Kasim dan Rohana ini telah ditanamkan sikap yang disiplin dan demokratis oleh kedua orangtuanya.
Saya juga diajarkan batasan kebebasan dengan tidak melanggar rambu-rambu yang ditetapkan. Kalau saya lupa (melanggar), beliau (orang tua) akan mencari sendiri dimana saya berada saat itu. Begitu bertemu, saya akan dibawa pulang ke rumah dan diberi hukuman. Menghukum itu mengajarkan mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindari kenangnya.
Memasuki usia remaja, pria kelahiran Aceh Utara, 19 Agustus tahun 1971 silam ini melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Syiah Kuala mengambil jurusan manajemen Keuangan. Pascalulus, Syurkani mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan di berbagai tempat, termasuk mengikuti seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil di Kementerian Keuangan.
Hasilnya, pada tahun 1995, Syurkani diterima sebagai pelaksana Biro Perencanaan dan Hubungan Luar Negeri di Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Sejak itulah anak keempat dari enam bersaudara ini ditugaskan pada bidang kerja sama internasional hingga saat ini. Selain penugasan tersebut, Syurkani secara ad hoc sempat ditugaskan menangani early warning system dan membantu pengelolaan kinerja Kementerian Keuangan, khususnya terkait perencanaan dan monitoring kegiatan.
Syurkani pernah pula menangani pengelolaan risiko atas proyek-proyek dengan pembiayaan luar negeri. Salah satu proyeknya berupa pemberian letter of comfort oleh Menteri Keuangan bagi pihak swasta yang ingin memanfaatkan dana internasional. Syurkani juga diberi penugasan lain di luar area analisis ekonomi dan Keuangan internasional.
Berbuah manis
Pada mulanya, Syurkani mengaku berat ketika bekerja sebagai abdi negara. Awal saya bergabung, penghasilan bisa dibilang pas-pasan, sementara kebutuhan hidup di Jakarta sangat besar. Ditambah lagi, saat itu saya sudah bekerja di salah satu bank BUMN ternama sekaligus diterima bekerja di salah satu perusahan otomotif nasional. Kalau mikir besaran gaji, saya mungkin sudah keluar, namun keyakinan saya kuat. Saya akan memiliki kesempatan meningkatkan kapasitas melalui sekolah, ungkapnya.
Keputusan Syurkani untuk memilih Kementerian Keuangan ternyata berbuah manis. Pada 1999, Syurkani mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan pascasarjana (S2) di State University of New York at Buffalo. Melalui program Professional Human Resource Development (PHRD), Syurkani memilih bidang keuangan korporasi (corporate finance) dan ekonomi internasional sebagai konsentrasinya.
Sekembalinya dari Amerika, Syurkani ditempatkan pada Bagian Kerja Sama Pembangunan Islam, Teknik Luar Negeri dan Kontribusi Organisasi Internasional, Biro Kerja sama Luar Negeri. Setahun kemudian, Syurkani dipercaya sebagai Kepala Subbagian Forum Menteri Keuangan APEC, bagian Kerja sama Ekonomi Internasional pada Biro Kerja Sama Luar Negeri.
Beberapa tahun berselang, terjadi reorganisasi di Kementerian Keuangan. Reorganisasi ini menyebabkan Biro Kerja Sama Luar Negeri bergabung dalam Badan Pengkajian Ekonomi, Keuangan, dan Kerja Sama Internasional (BAPEKKI) yang kini dikenal sebagai Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Lalu, Syurkani ditempatkan pada Pusat Kerja Sama Internasional, Bidang Kerja Sama dalam kawasan Asia Pasifik sebagai Kepala Subbidang Kerja Sama Keuangan Asia Pasifik.
Perjalanan berikutnya, pria yang memiliki hobi landscape photography ini kembali memperoleh kesempatan meraih gelar Doktor di Victoria University Melbourne, Australia dalam 3,5 tahun. Dalam disertasinya, Syurkani menyimpulkan bahwa kebijakan moneter di Indonesia dapat dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi oleh pelaku pasar dan rumah tangga. Selanjutnya, dalam waktu bersamaan, kebijakan moneter juga dapat mempengaruhi pengambil keputusan untuk menentukan harga-harga di pasar.
Sekembalinya ke Tanah Air, Syurkani dipromosikan sebagai Kepala Bidang Kerja Sama Inter-Regional di Pusat Kebijakan Internasional. Selanjutnya pada 2011, Syurkani ditunjuk sebagai Kepala Bidang Forum G20, sebuah unit baru yang ditugaskan untuk menangani keterlibatan Indonesia dalam agenda-agenda G20, khususnya bidang ekonomi dan Keuangan.
Menurut Syurkani, kala menjabat sebagai Kepala Bidang Forum G20 inilah dirinya merasa memiliki tantangan tersendiri. Bidang ini menjadi perhatian karena menangani penyiapan substansi dan perumusan kebijakan bagi Menteri Keuangan dan Presiden (dalam KTT). Tantangan terberat yang saya hadapi ialah menyesuaikan ritme kerja saya, dari sebelumnya menangani kerja sama dengan negara-negara Asia (berubah) ke ritme kerja negara-negara maju, ujarnya.
Uniknya, Syurkani juga menghadapi tantangan lain terkait budaya dan tradisi pertemuan. Dalam pertemuan-pertemuan di APEC maupun forum Asia lainnya, kata Syurkani, biasanya pembahasan agenda lebih mengedepankan budaya Asia.
Tak jarang dalam setiap meeting, kerap kali disisipi acara yang menampilkan kebudayaan setempat. Sebaliknya, dalam pertemuan G20, umumnya pembahasan agenda dilakukan secara serius, tanpa ada sisipan acara kebudayaan sebagaimana terdapat pada forum Asia. Hampir tidak ada waktu istirahat. Paling berat saat communiqué drafting, kadang bisa berlangsung dua hari dua malam, dari pagi hingga pagi berikutnya (keesokan harinya) hingga seluruh isi communiqué disepakati.
Bila dalam forum Asia, para peserta drafting umumnya menyerahkan hasilnya pada kesepakatan suara mayoritas maka hal berbeda terjadi pada pertemuan G20. Setiap wakil negara akan bersikeras mempertahankan pendapat mereka walau harus melewati malam panjang hingga pagi tiba.
Akhirnya, pada 2014, Syurkani diamanahkan menjadi Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral (PKPPIM) sebelum akhirnya diangkat secara definitif satu tahun kemudian. PKPPIM merupakan unit yang menangani berbagai kerja sama dalam forum multilateral maupun kerja sama dengan lembaga keuangan internasional.
PKPPIM juga menangani Penyertaan Modal Negara serta kontribusi keuangan pemerintah di lembaga dan organisasi internasional. Ketika pertama kali ditugaskan, Syurkani membuat terobosan dengan mewajibkan semua stafnya untuk membuat dokumen pending matters dan dapat diakses oleh seluruh bidang. Dokumen tersebut berisi informasi mengenai berbagai pekerjaan yang tengah ditangani oleh setiap bidang sehingga dapat memudahkan bidang lain yang membutuhkan data terkait.
Disamping itu, setiap hari Jumat, Syurkani rutin mengadakan rapat pimpinan (rapim) untuk membahas pending matters dalam pekerjaannya. Materi tersebut nantinya akan dibawa dalam agenda rapim pusat. Syurkani juga mewajibkan setiap pegawainya membuat work plan (rencana kerja) untuk satu tahun ke depan.
Melalui work plan, beban kerja setiap pegawai, prioritas target kegiatan, serta berbagai kebutuhan dapat terorganisir dengan baik. Apa yang saya pelajari selama perjalanan karir saya ialah membangun tekad bahwa harus menyelesaikan tugas saya dengan sebaik-baiknya. Saya juga bertekad memberikan pelayanan terbaik kepada pimpinan, siapa pun pimpinan saya dan dimanapun saya ditugaskan, tuturnya.