BANDA ACEH - Darimana akan memulainya, saya tidak tahu pasti. Namun rencana ini sudah tersusun dari beberapa hari sebelumnya, berjalan sudah semestinya. Kepala Dinas Kebudayaan…
BANDA ACEH – Darimana akan memulainya, saya tidak tahu pasti. Namun rencana ini sudah tersusun dari beberapa hari sebelumnya, berjalan sudah semestinya. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Reza Fahlevi, telah bertemu dengannya, Tu Baka yang bernama lengkap T. Abu Bakar, dari Bireuen.
Tu Baka adalah seorang apet syeh, salah satu anggota grup Syeh Lah Geunta. Yang mana ia (Syeh Lah Geunta), namanya sudah terkenal, melanglang buana khususnya Aceh, di bidang seni seudati. Rencana dan tujuan sudah tersampaikan. Berbicara tentang seni, saya sok-soan bergelut di dalamnya. Namun hari ini, berbicara tentang Seudati, yang saya tidak dan belum tahu-menahu akan persoalan (seudati) tersebut.
Jika orang, berbicara tentang seudati, pasti ia almarhum Syeh Lah Geunta, teutap tersebut di sana. Seudati, dari zamannya sudah berlaku, oleh kerana tuntutan masa sekarang ini. Untuk diakui dunia, haruslah ada yang namanya, terdaftar ke UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Harus ada pernyataan dari yang namanya tuan UNESCO. Jika tidak, hal tersebut belum diakui adanya.
Maka, berdasarlah dari itu, ia Tu Baka, sangat bersemangat dan mungkin semua kita, umumnya sama seperti ia. Perbedaannya, apid syeh tersebut sudah dan sangat lebih, dalam hal jika berbicara tentang pengalaman. Yangmana beberapa negara di dunia telah dikunjunginya, adakala sebagai peserta dalam grup, membawa peserta lain untuk mengikuti kompetisi atawa mengisi suatu acara yang mereka turut diundang.
Spanyol, Singapura, Australia, dan Amerika. Ke semua negara yang tersebut, ia sudah berkelana dengan membawa, mengampanyekan, memperkenalkan salah satu kesenian yang ada di Aceh ini.
Pada tahun 2012, Tu Baka ke kantor Disbudar Aceh untuk bertemu dengan Kadisbudpar Aceh, namun setelah lama menunggu, tidak ada kesempatan.
Dan pada hari Kamis, tertanggal 02 Februari 2017, ia telah berkesempatan bertemu, berbicara, membahas secara langsung akan hal seudati dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlivi. Pertemuan tersebut dijembatani oleh Thayeb Loh Angen, penulis buku Teuntra Atom dan Aceh 2025.

Pada kesempatan ini. Tu Baka terlihat sangat bahagia. Begitu tentang hal-hal yang berkaitan dengan seudati khususnya, turut pula ia menjelaskan beberapa hal yang berkaitan telak dengan kesenian itu. Yangmana katanya, semua jenis irama lagu dunia bisa dan semua ada, sudah pernah dinadakan oleh mereka-mereka itu sejak dahulu.
Di ruangan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, di kesempatan waktu, pun sudah ia mempraktekkan kesemuanya itu dalam bacaan, nyanyiannya yang khas. Di dalam grup dahulu, yang dipimpin oleh almarhum Syeh Lah Geunta, ia merupakan apet syeh tersebut. Beberapa mereka-mereka yang dahulu, yang seangkatan di antaranya itu, Syeh Rasyid, Syeh Lah Baguna, dan lain-lain.
Yang hari ini, beberapa dari mereka, pewaris seudati itu sudah almarhum. Dan di antara yang masih ada, ia Tu Baka dari Bireuen. Hari ini, mungkin, apa yang telah lama terperdam di benaknya, cita-citanya. Hari ini sudah ia sampaikan kepada pihak penanggung jawab di Aceh, khsususnya perihal kesenian dan yang berkenaan dengan seudati itu.
Setelah pertemuan yang bisa dikatakan, termasuk lama, lebih dari satu jam masa bercakap-cakap dengan tukang penanggung jawab, ia pun kembali pulang ke Bireuen. Yang pasti dan jelas, ia membawa harapan baru, semangat yang menggebu-gebu, itu pasti. Kerana empat tahun lamanya, ia sudah menanti waktu yang seperti hari ini adanya, bertemu, bertatap muka, berbicara dengan orang yang ia maksud akanpada perihal seudati tersebut.
Uroe nyoe bahagia that ate long, oh lheueh long meurumpok secara langsong dengon ureueng yang long peureulee. Seumoga, pu-pu nyang ka tarencana uroe nyoe, sama-sama ta meulake bak poe teuh Allah Taala, beu keuh troh ban lage tacita-cita (hari ini, saya sangat senang. Kerana sudah berhasil berjumpa dengan ia yang saya maksud. Semoga apa yang direncanakan hari ini, sama-sama kita meminta kepada Allah SWT, akanlah ia tercapai kesemuanya), kata Tu Baka, beberapa menit sebelum ia kembali pulang ke Bireuen, di siang hari Kamis yang sangat bersahaja itu. Ia datang dengan seorang rakannya dari Bireuen dan di sini diterima oleh M. Nazar (Rambo), sebelum dipertemukan oleh Thayeb Loh Angen dengan Kadisbudpar Aceh.
Dalam pertemuan tersebut dibicarakan tentang pengalaman Tu Baka meuseudati dalam grup Syeh Lah Geunta sebagai apet syeh dan rencana menyegerakan seudati didaftarkan di UNESCO.[]
Penulis: Syukri Isa Bluka Teubai