106 tahun silam, tepatnya 26 September 1910, meletus pertempuran sengit antara pejuang Aceh dengan serdadu Belanda di Aceh Utara. Dalam peristiwa kontak senjata di kawasan rawa-rata itu, Pang Nanggroe gugur setelah tubuhnya diterjang peluru dari senjata penjajah.
Pang Nanggroe merupakan suami pahlawan nasional Cut Meutia, yang berjuang melawan Belanda sampai akhir hayatnya. Jenazah Pang Naggroe dimakamkan di Lhoksukon, Aceh Utara. Di sisi Pang Nanggroe kemudian dimakamkan Pang Lateh. Kedua panglima laskar Aceh itu merupakan sahabat setia.
Berikut kisah perjuangan Pang Nanggroe dikutip dari buku Cut Nyak Meutia yang diterbitkan Depdikbud, 1993:
Pang Nanggroe mulanya pengikut Teuku Chik Di Tunong, suami Cut Meutia. Menjelang dieksekusi hukuman tembak oleh pasukan Belanda di tepi laut Lhokseumawe pada 25 Maret 1905, Teuku Chik Di Tunong menyampaikan dua pesan kepada Cut Meutia. Pertama, mendidik Teuku Raja Sabi yang saat itu berusia lima tahun untuk tetap bermusuhan dengan Belanda. Kedua, menikah dengan Pang Nanggroe untuk melanjutkan perjuangan.
Pesan kedua itu disampaikan Cut Meutia kepada Pang Nanggroe melalui seorang ulama yang selama ini berada dalam kelompok Teuku Chik Di Tunong, yaitu Teungku Di Mata Ie. Mulanya, Pang Nanggroe menolak karena ia merasa tidak sepadan dengan Cut Meutia, baik dari segi rupa maupun keturunan. Ia menganggap dirinya tidak layak mempersunting Cut Meutia yang sangat dihormati.
Teungku Di Mata Ie mengatakan masalahnya bukan rupa dan keturunan. Yang penting harus dipertimbangkan amanah almarhum Teuku Chik Di Tunong dan kelanjutan perjuangan untuk mengusir kaphe. Akhirnya, keduanya dinikahkan sebagai suami-istri. Bekas para pengikut Teuku Chik Di Tunong kemudian bergabung bersama pemimpin mereka yang baru, Cut Meutia dan Pang Nanggroe.
Tak lama kemudian Pang Nanggroe dan Cut Meutia bersama pejuang lainnya meninggalkan daerah Keureutoe, satu daerah dalam wilayah Kesultanan Aceh yang mempunyai Uleebalang sendiri, terletak di Kabupaten Aceh Utara sekarang. Daerah Uleebalang Keureuto mencakup kawasan dari Krueng Pase sampai ke Pantonlabu (Krueng Jambo Aye).
Dengan persenjataan kelewang, rencong dan senjata tajam lainnya, mereka menuju suatu tempat yang jauh dari jangkauan kaphe, yaitu di kubu pertahanan Teuku Ben Daud Pirak, ayah Cut Meutia, di hulu Krueng Jambo Aye. Di tempat ini, mereka telah dinanti-nantikan laskar Aceh. Mereka didukung pula ulama-ulama besar. Di antaranya, Teungku Chiek Di Paya Bakoeng (Teungku Seupot Mata) dan saudaranya Teungku Paya Bakoeng (Teungku Di Mata Ie). Ada pula Teuku Mat Saleh (guru mengaji Teuku Raja Sabi), Pang Lateh, Teungku Di Barat, Pang Johan dan lainnya.
Setelah tersiar berita tentang menghilangnya Cut Meutia dan Teuku Raja Sabi, timbul kemarahan Belanda. Mereka mengadakan pemeriksaan serta menyiasati terhadap pemimpin masyarakat yang masih tinggal di kampung. Rakyat ditangkap serta dipenjarakan dalam tangsi, dan dibakar rumah-rumah rakyat yang mereka curigai.
Hal ini diketahui Pang Nanggroe-Cut Meutia melalui dua utusan yang sengaja datang membawa laporan ke kubu Krueng Jambo Aye, yaitu Nek Salim dan Lem Dalem. Setelah mendapat laporan itu, Teuku Ben Daud, Teuku Ben Pirak, Pang Nanggro, Pang Lateh, Cut Meutia, Teungku Paya Bakong, Teungku Seupot Mata, dan lainnya bermusyawarah. Diputuskan untuk menyerang tangsi-tangsi Belanda, di tempat orang-orang muslimin ditahan.
Tiga pasukan masing-masing berkekuatan 20 orang dipimpin Teuku Ben Daud, Teuku Ben Pirak dan Pang Nanggroe. Mereka masuk ke Keureutoe melalui tiga jurusan, barat, timur dan utara. Pasukan Teuku Ben Daud dan Teuku Ben Pirak menggempur tempat penahanan muslimin serta membebaskannya, sedangkan Pang Nanggro membuat kerusuhan di bagian utara.
Sekembalinya ketiga pasukan muslimin ini ke markas di hulu Krueng Jambo Aye diadakan sedikit kenduri syukuran kemenangan yang baru dicapai. Ini merupakan awal dari perlawanan Pang Nanggro-Cut Meutia selama lima tahun sampai tahun 1910.
Dengan kemenangan itu semakin bertambah semangat kaum muslimin menghadapi musuh. Namun Belanda tidak tinggal diam untuk menumpas habis gerilyawan muslimin yang kini telah kuat kembali dengan ikutnya ulama-ulama dan para panglima berpengaruh.
Untuk mengimbangi gerilyawan muslimin, Belanda membentuk pasukan khusus yang terdiri atas prajurit-prajurit pilihan, perwira berpengalaman dan selalu bergerak cepat. Pasukan marsose ini disebut Kolone Macan. Jumlah pasukan dan pos-pos (bivak) infantri ditambah sehingga meliputi seluruh Aceh Utara. Belanda siap mengerahkan semua kekuatan.
Namun, pejuang muslimin yang sekarang dipimpin Pang Nanggroe bergerak sangat cepat. Gempuran mereka selalu menimbulkan ketakutan serta kecemasan pihak Belanda. Penyerbuan demi penyerbuan membuat kalang-kabut musuh. Pasukannya selalu mengintai dan membuntuti patroli Belanda, kemudian mencegatnya di tempat-tempat yang sangat sukar untuk dilawan musuh.
Dalam suatu penyergapan terhadap sebuah bivak yang mengawal pekerja-pekerja kereta api, dengan kekuatan 20 orang Pang Nanggroe berhasil menewaskan dua orang Belanda dan empat lainnya luka-luka. Pasukan Pang Nanggroe merebut 10 pucuk senapan, 750 butir peluru, dan sepucuk senapan berburu. Peristiwa ini terjadi pada 6 Mei 1909. Kemenangan ini mempunyai arti cukup penting bagi kaum muslimin serta mempunyai akibat yang cukup buruk bagi musuh.
Mengenai hal ini Zenrgraaff menulis, Betapa berarti kejadian itu bagi pasukan kita. Menyerahkan sepucuk senjata api ke tangan lawan yang esoknya akan digunakan untuk menghantam kita. Banyak komandan beranggapan bahwa lebih baik kehilangan seorang prajurit daripada kehilangan sepucuk senapan. Yang terakhir ini bisa saja menghancurkan selusin prajurit.
Peristiwa 6 Mei 1909 ini menggemparkan pucuk pimpinan Belanda baik yang berada di Lhok Seumawe, Lhok Sukon sampai ke Kutaraja. Banyak di antara komandan marsose yang telah berpengalaman menganggapnya sebagai kekalahan besar. Ada pula di antara komandan yang memarahi serdadu atau anak buahnya bahwa mereka dengan mudah ditipu oleh muslimin.
Sedang hangat-hangatnya pasukan Belanda membicarakan peristiwa yang baru lalu, Pang Nanggro melakukan serangan selanjutnya dalam batas waktu yang cukup pendek. Ia melakukan penyerbuan demi penyerbuan, penyerangan besar maupun sabotase-sabotase biasa.
Pada 15 Juni, Pang Nanggroe membuat debut baru yang lebih menggemparkan Belanda. Dengan 25 pasukannya ia menggempur sebuah bivak marsose di Keude Idi. Pasukan marsose ini baru saja tiba dari Kutaraja untuk memperkuat pasukan di daerah tersebut. Dalam penyerbuan ini pasukan muslimin menewaskan satu musuh, delapan lainnya luka-luka serta merampas satu pucuk senjata.
Pang Nanggroe bergerak sangat mobil, dari satu penyerangan ke penyerangan, memberikan kesan betapa cepat ia dapat melakukan gerakannya. Dua kemenangan besar yang telah diperoleh menyebabkan namanya tersiar dengan cepat. Namanya mendapat tempat dalam deretan penentang-penentang besar, setaraf dengan ulama-ulama besar lainnya seperti keluarga ulama-ulama Tiro yang telah berjuang dengan gagah perkasa mempertahankan tanah airnya.
Hampir seluruh daerah Keureutoe, Pirak, Pase, Lhok Sukon dan daerah sekitarnya berada dalam kekuasaan Pang Nanggroe. Kampung-kampung menjadi kosong karena kaum prianya ke gunung-gunung membantu Pang Nanggroe-Cut Meutia.
Komandan-komandan brigade infantri biasa maupun brigade marsose yang pernah melakukan pertempuran dan pengejaran terhadap pasukan Pang Nanggroe, bercerita tentang pengalaman-pengalaman pahit yang mereka hadapi. Di antara mereka terdapat nama-nama terkenal seperti Moselman, Christoffel, Van der Vlerk, Van Slooten dan lainnya.
Kisah tentang siasat Pang Nanggro diceritakan Mosselman. Antara lain ketika pasukan Mosselman mencoba menebang pohon guna mengetahui siasat Pang Nanggro. Yang terjadi kemudian para personil marsose terhimpit pohon-pohon. Siasat unik lainnya dari Pang Nanggroe menjebak pasukan musuh, ia memerintahkan beberapa pengikut menyebarkan isu bahwa kaum muslimin akan mengadakan kenduri besar di sebuah rumah dalam kampung yang telah ditinggal penduduk di sebelah selatan Matang Raya.