BANDA ACEH – Sebanyak 23 mahasiswa asing dari berbagai negara di Asia mengikuti Joint Summer Camp 2017 yang diselenggarakan Kantor Urusan Internasional (OIA) Universitas Syiah Kuala. Kegiatan ini berlangsung sejak 14-21 Agustus 2017.

Dr. Agus dari OIA Unsyiah mengatakan, peserta JSC 2017 ini terdiri dari dua mahasiwa Jepang, lima mahasiswa Taiwan, tujuh mahasiswa Thailand, lima mahasiswa Malaysia, dan empat mahasiwa Filipina. Joint Summer Camp 2017 ini merupakan yang pertama kali diadakan oleh Unsyiah bekerja sama dengan IPB dan TDMRC Unsyiah.

“Tema yang kita pilih pada kegiatan ini adalah “Memahami Upaya Pengurangan Risiko Bencana melalui Alam dan Budaya”. Terdapat sebuah kesamaan identitas di antara negara peserta kegiatan ini, yaitu kebencanaan. Aceh merupakan ladang riset kebencanaan yang diakui dunia sejak tsunami 2004,” kata Dr. Agus, Minggu, 20 Agustus 2017.

Jepang juga terkenal dengan wilayahnya yang rentan dengan gempa bumi dan tsunami. Demikian juga Taiwan, Thailand, Filipina, serta Malaysia. Oleh karena itu, kata Agus, kesadaran kolektif perlu dipupuk dan dilestarikan dalam rangka mengurangi risiko bencana tersebut. Dua metode yang dianggap paling sesuai adalah dengan memahami alam (nature) dan budaya (local knowledge).

“Kegiatan ini meliputi perkuliahan tentang kebencanaan yang disampaikan oleh peneliti dari TDMRC di gedung Magister Ilmu Kebencanaan Unsyiah.”

Di samping itu juga melakukan kunjungan lapangan seperti ke BMKG, Basarnas, Sekolah Siaga Bencana SMA 1 Banda Aceh dan SMA 1 Peukan Bada, dan penanaman bakau di Ujong Pancu bersama Yayasan Lamjabat.

Peserta juga diajak mengunjungi PLTD Apung, Museum Tsunami, Pantai Lampuuk, dan Lhok Nga. Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan ke-72 RI, peserta juga diajak dan dikenalkan dengan permainan tujuh belasan, seperti tarik tambang, makan kerupuk, dan pancing botol.[] (*sar)