BANDA ACEH – Kebutuhan energi listrik di Aceh semakin meningkat seiring peningkatan jumlah penduduk dan perekonomian daerah. Tingginya laju konsumsi energi ini menyebabkan pengurasan sumber daya fosil seperti minyak bumi, gas dan batu bara yang bakal habis. Sebab itu untuk masa depan ekonomi Aceh dibutuhkan sumber energi lain yang dapat diperbaharui (renewable).
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua DPR Aceh, Teuku Irwan Djohan dalam diskusi tentang peluang kerjasama pembangunan listrik tenaga hybrid atau tenaga angin dan matahari bersama penasehat politik Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia, Alexande Skommer Larsen. Diskusi yang juga diikuti oleh Kepala Bappeda Aceh Prof. Dr Abubakar Karim tersebut berlangsung di sela-sela peringatan damai Aceh, di Hotel Hermes Pallace Banda Aceh, Sabtu, 14 November 2015.
Turut serta dalam diskusi ini Liaison Officer (LO) Raju Al Ansari.
Teuku Irwan Djohan menilai energi listrik hybrid menggunakan sistem konversi energi angin dan sistem energi matahari. Pembangkit ini terdiri dari kincir angin dan panel surya. Satu kincir angin mampu menghasilkan listrik 1 kilowatt. Selain itu, untuk energi mataharinya memakai panel surya dengan kapasitas produksi energi listriknya sampai 15 ribu watt.
“Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) merupakan alternatif sistem pembangkit listrik dengan memanfaatkan energi terbarukan (renewable energy) yaitu angin dan matahari sebagai sumber utama. Biasanya dibangun di dekat pantai yang memiliki kekuatan angin besar,” ujar Irwan Djohan.
PLTH menjadi suatu pembangkit listrik yang lebih efisien, efektif dan handal untuk dapat menyuplai kebutuhan energi listrik, baik sebagai penerangan jalan, rumah ataupun kebutuhan rumah tangga hingga kebutuhan industri kecil.
“Insya Allah pada tahun 2016, PLTH akan mulai dibangun di kawasan Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, dengan sumber dana APBN,” kata Wakil Ketua DPR Aceh saat menawarkan peluang investasi kepada pemerintah Denmark di bidang energi di Aceh.[]