Jakarta – Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Singkil, Kota Subulussalam, dan sebagian Aceh Barat, merenggut dua korban jiwa, menyebabkan dua orang dirawat di rumah sakit, satu orang hilang, dan ratusan warga mengungsi. Pemerintah masih mendata kerusakan yang ditimbulkan bencana tersebut. Bencana itu terjadi sejak Ahad dinihari lalu dan hingga kini sebagian lokasi masih tergenang dan terisolir.

Kepala Humas Pemerintah Aceh, Frans Delian, mengatakan pemerintah akan segera menanggulangi dampak banjir yang terjadi di kawasan barat-selatan Aceh itu. Gubernur Aceh juga telah memerintahkan untuk mendata dan memperbaiki insfrastruktur umum yang rusak, sehingga tidak terlalu lama mengganggu perekonomian masyarakat. “Pak Gubernur juga meminta untuk memperhatikan pengungsi,” kata Frans, Selasa, 2 Februari 2016.

Sesuai data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), banjir mengakibatkan dua orang meninggal dunia, dua orang dirawat di rumah sakit, satu lainnya dilaporkan hilang, serta ratusan orang mengungsi. Korban yang tewas adalah Rosiem, perempuan asal Desa Sumber Mukti, Aceh Singkil, serta Hamzah (76 tahun). Korban yang dirawat di rumah sakit bernama Samadi (54 tahun), dan Sugiarto (51 tahun). Untuk korban hilang bernama Ruspita (65 tahun). Semuanya berasal dari Kabupaten Singkil.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Subulussalam, Kasman, mengatakan wilayahnya dilanda banjir bandang. Kawasan yang paling parah adalah Kecamatan Longkip. “Ada sembilan desa yang terisolir di sana, karena jembatan rusak,” katanya kepada Tempo.

Menurut Kasman, rumah yang rusak berat di Subulussalam sebanyak 6 unit, sebanyak 10 unit lainnya rusak ringan. Kemudian ada 12 jembatan yang rusak, 9 di antaranya berada di Kecamatan Longkip. Selebihnya ada di Kecamatan Simpang Kiri dan Kecamatan Penanggalan. “Sekarang sedang mengupayakan untuk membangun jembatan darurat dari pohon kelapa,” katanya.

Di Kabupaten Singkil banjir menghanyutkan lima unit rumahserta satu unit jembatan rangka baja di Desa Lae Rimo, Kecamatan Rimo. Banjir bandang juga menyapu jembatan penghubung antara Kecamatan Singkohor ke Kecamatan Kuta Baharu, serta lima jembatan lainnya dilaporkan rusak berat.

Bencana di Kabupaten Singkil juga merusak lahan pertanian warga, menghanyutkan bintaang peliharaan serta membuat sebanyak 40 Kepala Keluarga (KK) atau 174 jiwa mengungsi.[] Sumber: tempo.co