Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) resmi diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, Jumat (28/10/2016). KBBI edisi kelima itu, memuat 127.036 lema dan makna. Menurut Menteri Muhadjir, pengguna bahasa Indonesia mencapai sekitar 300 juta.
Dalam kesempatan sebelumnya, peneliti linguistik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Adi Budiwiyanto, pernah menulis bahwa lema dan makna di dalam kamus, diperoleh dari dua sumber utama, introspeksi dan observasi. Introspeksi berarti melihat ke dalam otak kita sendiri dan mencoba mengingat semua yang kita tahu tentang kata.
Sementara itu, observasi berarti memeriksa contoh-contoh nyata dari bahasa yang digunakan, bisa dari surat kabar, novel, blog, kicauan Twitter, dan sebagainya.
KBBI versi terbaru ini versi cetaknya setebal 2.040 halaman, hampir dua kali lipat versi sebelumnya, 1.400-an halaman. Itu lebih kurang sama dengan empat salinan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, yang ditumpuk jadi satu. Namun jangan khawatir, KBBI V versi daring juga sudah diluncurkan, di alamat kbbi.kemdikbud.go.id.
Bagi pengguna umum, tersedia fitur pencarian lema atau entri dalam KBBI, dan bantuan pencarian untuk entri yang tidak ditemukan. Sedangkan bagi pengguna yang terdaftar, tersedia fitur yang jauh lebih lengkap. Antara lain fitur pencarian entri berdasarkan huruf awal, popularitas entri, pencarian terakhir, kelas kata, ragam, bidang, dan bahasa.
Pengguna terdaftar juga bisa mencari tautan kata turunan, kata gabungan, peribahasa, dan idiom dari kata yang dicari. Selain itu, bisa mengusulkan entri, makna, dan contoh baru dalam KBBI, perbaikan entri, makna, dan contoh dalam KBBI, serta pencarian entri dengan frasa ketika membuat usulan.
Selain meluncurkan kamus, terbit pula Tesaurus Tematis Daring, yang dapat diakses melalui alamat tesaurus.kemdikbud.go.id. Tesaurus adalah karya rujukan yang memuat daftar kata berdasarkan pertalian makna (hiponim, sinonim, antonim, dan meronim) atau pengelompokan tema.