TERKINI
FEATURE

Xi’an, Kota Klasik yang Kaya akan Sejarah

BEIJING - Saat liburan musim dingin tiba, saya bersama sahabat berinisiatif membulatkan tekad mengunjungi kota Xi’an, sebuah kota yang penuh dengan sejarah Islam. Kota ini…

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 2.1K×

BEIJING – Saat liburan musim dingin tiba, saya bersama sahabat berinisiatif membulatkan tekad mengunjungi kota Xi’an, sebuah kota yang penuh dengan sejarah Islam. Kota ini juga memiliki bangunan-bangunan indah yang sudah dibangun ribuan tahun lalu dan masih terjaga sampai sekarang ini.

Tidak afdhal rasanya kita sebagai muslim jika sudah bermukim di China atau Tiongkok dalam jangka waktu sedikit lama, tidak dapat mengunjungi kota pertama masuknya Islam yang kaya akan sejarah ini. Situs-situs sejarah peninggalan zaman kerajaan juga masih utuh dan berdiri kokoh di kota Xi’an.

China memiliki penduduk yang mayoritasnya berpaham atheis atau tidak memiliki keyakinan. Namun Islam juga semakin eksis di tengah belantara komunis. Sebagian besar penduduk Muslim terkonsentrasi di Xinjiang, Ningxia, Gansu, Qinghai dan khususnya Xi’an.

Xi'an merupakan ibukota Provinsi Shaanxi di negara Republik Rakyat Tiongkok. Kota Xi'an menyimpak banyak cerita menarik, setidaknya demikian yang diceritakan masyarakatnya. Kami tiba di Kota Xi'an pada pagi hari, setelah melakukan perjalanan selama 13 jam melalui jalur darat dari Kota Wuhan. Kami menggunakan transportasi kereta api menuju kota ini. Kami menjadwalkan dua hari untuk bisa mengunjungi semua tempat bersejarah di kota ini.

Hal pertama yang saya lihat di Xi’an adalah City Wall atau tembok besar. Tembok ini terbentang dari Kota Xi’an sama halnya seperti Great Wall di Beijing. Keberadaan tembok ini membuat saya semakin semangat memulai petualangan.

Penduduk lokal kerap melirik kami karena terlihat asing bagi mereka. Apalagi ada diantara teman kami yang menggunakan jilbab. Para penduduk lokal bahkan ada yang bertanya langsung kepada kami karena penasaran.

Berkunjung ke Kota Xi’an tanpa mengunjungi masjidnya tentu saja terasa tidak lengkap. Pasalnya disanalah jantung kampung Muslim yang sesungguhnya. Masjid tersebut berada di tengah kawasan, yang mana untuk menuju ke sana kita mesti melewati lorong-lorong di antara toko-toko penjual pernak pernik, cindera mata dan pakaian juga makanan.

Salah satu yang tergambarkan dipikiran oleh kita adalah setiap masjid itu berkubah besar dengan arsitektur khas Arabnya. Namun hal ini berbeda di China, khususnya Kota Xi’an. Arsitektur masjid di Xi’an merupakan kombinasi budaya China seperti pagoda dengan budaya bangunan di Arab. Masjid-masjid di sini juga memiliki halaman yang luas. Sementara di bagian dalamnya terdapat kaligrafi Arab dan China.

Keindahan dan kebersihan “Kota Tua” ini membuat pengunjung terkagum-kagum. Para turis juga dimanjakan dengan keunikan dan klasiknya bangunan yang hingga sekarang masih terawat. Berbagai peninggalan sejarah kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan China Kuno ini, dengan mudah dijumpai di seluruh pelosok kota. Padahal Xi’an telah menjadi salah satu kota megapolitan di China.

Xia’an adalah salah satu kota yang  patut dikunjungi kalau kita berwisata ke negeri Rumpun Bambu. Di Xi’an juga terdapat 20-an lebih masjid yang memudahkan wisatawan muslim beribadah di sana. Kondisi ini berbeda dengan Wuhan, tempat saya bermukim saat ini. Wuhan hanya memiliki empat masjid.

Mencari makanan halal juga tidak susah di Xi’an. Bisa dibilang, kota ini cukup nyaman bagi seorang wisatawan Muslim. Beberapa makanan yang bisa dijumpai di sini adalah mie, roti, dan juga sate kambing. Ada juga beberapa jenis makanan lainnya yang pastinya halal dikonsumsi untuk Muslim.[]

*Helmi Suardi, alumnus Pesantren Tgk. Chiek Eumpe Awee Montasik Aceh Besar, Penerima Beasiswa China Scholarship Council (CSC). Saat ini sedang ikut program Magister di Huazhong University of Science and Technology, Tiongkok.

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar