BANDA ACEH Menjelang pilkada 2017, banyak persoalan politik mulai muncul dan hangat diperbincangkan. Salah satunya adalah terpilihnya Ketua Partai Gerindra Aceh T.A. Khalid sebagai pendamping Ketua Umum Partai Aceh Muzakir Manaf (Mualem). Duet parlok-parnas ini akan maju dalam pesta demokrasi Aceh mendatang.
Akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh Danil Akbar Taqwadin menilai terpilihnya T.A. Khalid sebagai pendamping Mualem menunjukkan elite politik di Aceh masih memandang peran partai nasional itu penting.
Berikut petikan wawancara portalsatu.com dengan pria yang mengambil program magister (S2) konsentrasi strategi dan politik perang di Universitas Utara Malaysia ini, Selasa, 14 Juni 2016:
Apa komentar Anda dengan terpilihnya T.A. Khalid sebagai pendamping Mualem?
Melalui hal ini kita dapat melihat bahwa elite politik di Aceh masih memandang peran partai nasional itu penting. Bisa dikatakan terwakilnya parnas dalam eksekutif sebagai jembatan Aceh ke Jakarta. Dan itu secara politik memang tindakan yang normal.
Makna jembatan Aceh ke Jakarta?
Ya, walaupun kita diberi otonomi khusus, namun ada beberapa persoalan yang masih menyangkut dengan (Pemerintah) Pusat. Faktanya ada beberapa qanun yang sampai cooling down. Dengan adanya parnas di eksekutif diharapkan beberapa kepentingan dapat terlaksana dengan lancar.