TERKINI
TAK BERKATEGORI

Turki Kecam Uni Eropa

ANKARA - Anggota parlemen Turki, Mustafa Yeneroglu, mengecam sikap Uni Eropa karena gagal menunjukkan solidaritas untuk Turki terkait kudeta 15 Juli 2016 yang digagalkan rakyat.…

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 634×

ANKARA – Anggota parlemen Turki, Mustafa Yeneroglu, mengecam sikap Uni Eropa karena gagal menunjukkan solidaritas untuk Turki terkait kudeta 15 Juli 2016 yang digagalkan rakyat.

“Sikap banyak negara Eropa akan berbeda jika hal yang sama terjadi di negara mereka,” kata Mustafa Yeneroglu yang juga Wakil Ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti), yang berkuasa di Turki, kepada Anadolu Agency, dalam sebuah wawancara eksklusif tentang perkembangan sikap pasca-kudeta di luar negeri.

“Sebuah organisasi teroris berusaha untuk menggulingkan pemerintah, tapi negara-negara Eropa menunggu dulu,” kata Yeneroglu, menekankan bahwa reaksi awal Uni Eropa yang acuh tak acuh terhadap upaya kudeta yang mematikan. 

Ia mengkritisi Komisi Hak Asasi Manusia Investigasi Uni Eropa seraya menolak kritik barat tentang pembersihan nasional terhadap lembaga negara seperti militer dan lainnya di Turki setelah kudeta.

Turki mengecam para pemimpin Eropa untuk menyuarakan keprihatinan mengenai investigasi ke dalam upaya penggulingan 15 Juli kudeta yang dinyatakan dibuat oleh anggota militer nakal pengikut pemimpin Fetullah Gulen yang tinggal di Amerika Serikat, dan Teroris Organisasi Fetullah-nya (Feto), menurut kesaksian dari tersangka.

Ibukota Eropa mengutuk upaya kudeta tapi fokus mereka dengan cepat bergeser kepada kekhawatiran tentang penyelidikan sebagai sejumlah besar tersangka Feto ditangkap atau diberhentikan dari lembaga negara.

Yeneroglu mengatakan, Turki menolak sikap Jerman yang membiarkan pendukung PKK berada di dalam negeri mereka.

“Kami peringatkan Jerman, bahwa itu akan ada konsekuensinya. PKK sebagai organisasi teroris di Jerman, tapi telah Jerman membuat kebijakan yang salah terhadap kelompok itu,” kata Yeneroglu, menambahkan bahwa Jerman harus mengambil sikap yang lebih tegas terhadap kepekaan Turki.

PKK – juga terdaftar sebagai organisasi teroris oleh AS dan Uni Eropa – melakukan keributan bersenjata selama 30 tahun terhadap negara. 

Hampir 600 personel keamanan, termasuk tentara, polisi, dan penjaga kampung meninggal dunia sejak kudeta gagal 15 Juli 2016, dan lebih dari 7.700 teroris PKK dihentikan dalam operasi di seluruh Turki dan Irak utara.[]

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar