ANKARA – Anggota parlemen Turki, Mustafa Yeneroglu, mengecam sikap Uni Eropa karena gagal menunjukkan solidaritas untuk Turki terkait kudeta 15 Juli 2016 yang digagalkan rakyat.
“Sikap banyak negara Eropa akan berbeda jika hal yang sama terjadi di negara mereka,” kata Mustafa Yeneroglu yang juga Wakil Ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti), yang berkuasa di Turki, kepada Anadolu Agency, dalam sebuah wawancara eksklusif tentang perkembangan sikap pasca-kudeta di luar negeri.
“Sebuah organisasi teroris berusaha untuk menggulingkan pemerintah, tapi negara-negara Eropa menunggu dulu,” kata Yeneroglu, menekankan bahwa reaksi awal Uni Eropa yang acuh tak acuh terhadap upaya kudeta yang mematikan.
Ia mengkritisi Komisi Hak Asasi Manusia Investigasi Uni Eropa seraya menolak kritik barat tentang pembersihan nasional terhadap lembaga negara seperti militer dan lainnya di Turki setelah kudeta.
Turki mengecam para pemimpin Eropa untuk menyuarakan keprihatinan mengenai investigasi ke dalam upaya penggulingan 15 Juli kudeta yang dinyatakan dibuat oleh anggota militer nakal pengikut pemimpin Fetullah Gulen yang tinggal di Amerika Serikat, dan Teroris Organisasi Fetullah-nya (Feto), menurut kesaksian dari tersangka.