Sewaktu kecil, yang terbetik di benak saya terkait datangnya harr raya hanya dua hal: Baju lebaran dan makan-makan. Betapa tidak, kami di kampung selalu antusias menyambut harr raya. Seminggu menjelang harr raya, Mak dan Kakak sudah sibuk menumbuk tepung, membuat kue. Ada macam-macam: Dodol, Meuseukat, Keukarah, Preet, Samaloyang, Peyek dan sebagainya. Seminggu sebelum itu, sudah dibelikan baju baru, untuk kukenakan di pagi harr raya, tentunya.
Pada H-1 Idul Fitri, maupun Idul Adha, saya dilarang keluar rumah sebelum selesai makan siang. Dilarang bermain ke rumah tetangga, meski ke rumah saudara dekat sekali pun. Semua anggota keluarga harus makan di rumah. Bahkan, di keluargaku, ketentuan seperti ini masih berlangsung hingga sekarang. Sebab ada tradisi makan daging lembu pada H-1 atau H-2 harr raya di daerah kami, yakni Aceh. Tradisi ini dikenal dengan istilah Meugang.
Ingatku, setiap tiba hari Meugang, (Allahyarham) Bapak selalu berangkat ke pasar awal-awal, saat subuh belum benar-benar hilang, saat mahatari belum seberapa terang, nyaris sebelum saya bangun. Dengan menunggang ontel Religh kesayangannya, beliau menuju ke pasar guna membeli beberapa kilo daging. Sebelum siang, daging-daging itu sudah siap dimasak oleh Mak. Ada Sie Reuboh -menu kesukaan keluarga kami-, Sie Asam Keu-Eung, Sie Tu-om, Reundang Aceh, Rendang Padang, bahkan Sup, beraneka macam.