TERKINI
OASE

Teuku Faisal Fathani, Penemu Alat Deteksi Dini Longsor

Alat pengintai longsor karya Teuku Faisal Fathani telah membantu menyelamatkan banyak warga dalam berbagai kasus bencana alam. Alat temuannya itu mengatarkan dosen Jurusan Teknik Sipil…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 9 menit
SUDAH DIBACA 2.6K×

Alat pengintai longsor karya Teuku Faisal Fathani telah membantu menyelamatkan banyak warga dalam berbagai kasus bencana alam. Alat temuannya itu mengatarkan dosen Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM ini meraih sederet penghargaan tingkat nasional hingga internasional. Putra Aceh ini juga kerap mengisi berbagai seminar dan menjadi narasumber media nasional sebagai ahli longsor.

***

Teuku Faisal Fathani menempuh program S-2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan S-3 di Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang. Ia mengambil topik riset tentang tanah longsor, terutama yang berkaitan dengan model matematika prediksi bencana longsor. Tekadnya berkiprah dalam mitigasi bencana semakin besar tatkala gempa dan tsunami dahsyat melanda tanah kelahirannya, Aceh.

“Ketika terjadi gempa dan tsunami di Aceh akhir tahun 2004, saya sedang studi S-3 di Jepang. Ini dilema yang berat bagi saya karena keluarga dan sanak saudara menjadi korban bencana tepat ketika saya sedang belajar tentang bencana. Kejadian ini mengubah pandangan hidup saya, memacu semangat dan motivasi untuk berkarya di bidang mitigasi bencana,” kata Faisal, dikutip dari sutarko.blogspot.co.id yang mengutip sumber dari Kompas, 16 Juli 2013.

Lantas, bagaimana kisah Faisal membuat alat pengintai longsor? Penemuan alat yang dinamakan Gadjah Mada-EarlyWarning System (GAMA-EWS) itu berawal tahun 2003. Saat itu, Asean University Network (AUN) menunjuk Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., Dosen Jurusan Teknik Geologi UGM, membimbing empat mahasiswa program master dan doktor yang dibiayai JICA untuk meneliti longsor di Indonesia.

Oleh JICA, para mahasiswa dan dosen pembimbing dikirim lima set alat deteksi longsor buatan Jepang. Alat itu kemudian dipasang di perbukitan Menoreh, Kulon Progo, Yogyakarta, yang telah dikenal sebagai daerah rawan longsor. Hanya saja, pengoperasian alat tergolong cukup rumit. Bahkan, saat alat rusak, mereka kewalahan tidak dapat memperbaiki dan harus mengirim kembali ke Jepang, ditambah lagi harganya pun cukup mahal.

Dari pengalaman tersebut, Prof. Dwikorita Karnawati berpikir jika semua alat bergantung pada negara pembuat, pengoperasiannya akan selalu sulit. Ia pun menyampaikan kegelisahan yang dirasakan kepada koleganya, Teuku  Faisal Fathani, S.T., M.T., Ph.D., yang saat itu baru pulang dari menempuh pendidikan doktor di Tokyo Jepang tahun 2005.

“Pak Faisal, kita punya alat-alat. Kan Pak Faisal ilmunya dari Jepang, coba kita bisa buat alat sendiri, tidak serumit alat dari Jepang ini, tapi teknologinya selevel,” kata Faisal menirukan Dwikorita, dilansir laman resmi UGM, 10 Juli 2013.

Gayung bersambut. Keduanya terus berdiskusi menuangkan ide masing-masing. Secara kebetulan, ada permintaan dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal untuk dibuatkan alat peringatan dini bencana longsor. Kendati telah sepakat membuat alat tersebut, dalam pengerjaan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Tiap hari Faisal membongkar dan mengutak-atik alat buatan Jepang yang sudah menjadi rongsokan. Namun, ide belum juga muncul. Satu bulan berjalan, belum ada kemajuan.

Faisal mengaku bukan hal yang mudah untuk mewujudkan ide membuat alat itu. Di lain pihak, Dwikorita tetap tidak patah semangat. Ia senantiasa menyemangati Faisal agar alat yang dicita-citakan dapat segera dibuat. Faisal lantas menggandeng seorang instrumentasi yang tengah menempuh pendidikan master di Fakultas Teknik. Mereka pun bekerja siang dan malam. Dwikorita tidak lupa memberikan idenya untuk penyempurnaan alat.

Enam bulan berselang, alat deteksi generasi pertama berhasil dibuat. “Pokoknya kerja siang malam. Pernah sampai jam satu malam itu hanya duduk mikir saja sambil melihat alatnya,” kenang Faisal yang kelahiran Banda Aceh, 26 Mei 1975.

Alat generasi pertama yang dibuat masih terbilang sederhana karena hasil deteksi pergeseran dan pergerakan tanah harus dicatat secara manual dengan mendatangkan petugas ke lokasi. Berbeda dengan generasi kedua dan ketiga, data yang muncul langsung direkam dalam data memori dan dikirim langsung dengan teknologi telemetri, sehingga bisa terpantau secara online melalui internet. Namun, pada prinsipnya kerja alat hampir sama.

***

Karya inovasi teknologi buatan Faisal itu kemudian semakin mendapat pengakuan dari dalam dan luar negeri, setelah berhasil memberi peringatan pada masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor, sekitar empat jam sebelum bencana longsor merusak beberapa rumah di Kabupaten Banjarnegara pada  November 2007.

Faisal menceritakan, alat yang awalnya bernama ektensometer ini berhasil menyelamatkan 30 penghuni  rumah saat terjadi bencana longsor di Banjarnegara pada November 2007. Di daerah itu, alat tersebut sengaja dipasang untuk memantau regangan tanah maksimal 2 cm, sehingga ketika hujan lebat datang dan retakan tanah melebar sejauh 2 cm, sirine pun berbunyi. Warga penghuni rumah sontak menyelamatkan diri sebelum longsor terjadi.

Berikutnya, alat ikut tertimbun oleh longsor. “Masyarakat berhasil menemukannya kembali. Kita minta direlakan saja, nanti diganti yang baru. Tetapi mereka masih ingin menyimpannya, menganggap alat ini telah menyelamatkan jiwa mereka,” tutur Faisal yang pada 1997 meraih prestasi sebagai mahasiswa teladan bidang akademik peringkat I se-UGM.

Tahun 2012, kata Faisal, sistem pemantauan dan peringatan dini longsor ini telah diaplikasikan di kawasan tambang di United Mercury Group (UMG) Myanmar. Pada 2013, diaplikasikan di delapan lokasi PT. Pertamina Geothermal Energy dan dua bendungan yang terletak di Pulau Sumatera, Jawa dan Sulawesi.

Menurut Faisal, berbagai institusi dari negara lain juga memberikan apresiasi atas keberhasilan sistem peringatan dini longsor ini. Pada 2009, karya unggulan ini telah ditetapkan sebagai salah satu penelitian strategis oleh International Programe on Landslides (IPL-UNESCO), sebagai model Best Practice in Education for Sustainable Development with respect to Disaster Risk Reduction Program (No. Approval: IPL-158). Pada upacara pembukaan 2nd World Landslide Forum di FAO Headquarter Roma tanggal 3 Oktober 2011, program ini terpilih untuk menerima IPL Award for Success dari International Programme on Landslides (IPL-UNESCO).

Selanjutnya dalam upacara pembukaan 10th International Symposium on Mitigation of Geo-Disasters di Kyoto-Matsue, tanggal 8 Oktober 2012,  Faisal juga menerima Excellent Research Award dan Award of Appreciation. Ia dinilai telah banyak berkontribusi dalam kegiatan mitigasi bencana alam di Kawasan Asia.

Dari alat deteksi longsor ini pula, Faisal menginisiasi dan terlibat aktif dalam kegiatan manajemen risiko berbagai bencana yang meliputi: tanah longsor, banjir, aliran lahar/debris, letusan gunung api, gempa dan kekeringan di berbagai daerah.

Terkait penanggulangan bencana alam, Faisal membangun kerja sama dengan berbagai bidang keilmuan dari berbagai universitas/institusi seperti lintas bidang di UGM, International Consortium on Landslides (ICL-UNESCO), Kyoto Univ., Ehime Univ., Tsukuba Univ., Univ. of East Anglia UK, Univ. Zagreb dan Univ. Rijeka-Kroasia, Public Work Research Institute (PWRI) Jepang, Asian Institute of Technology-Thailand, China Geological Survey, University of East Anglia-UK, San Diego State University-USA, California Seismic Safety Commission-USA, dan GNS Science New Zealand.

Alat pengintai longsor yang dipasang di daerah rawan longsor di 12 propinsi dan beberapa perusahaan tambang dalam dan luar negeri itu telah mengantarkan Faisal mendapatkan penghargaan juara I dosen beprestasi tingkat nasional dalam pemilihan tenaga pendidik dan kependidikan berprestasi 2013 oleh Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendikbud pada 7 Juli 2013 di Jakarta.

Dosen Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM ini tidak menyangka ia berhasil mendapat penghargaan tersebut. Pasalnya, ia harus bersaing dengan ribuan dosen dari berbagai perguruan tinggi dari seluruh Indonesia. Namun, Faisal menyampaikan rasa syukur dan mengaku penghargaan ini jadi ‘cambuk’ bagi dirinya untuk terus berkarya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat lagi bagi masyarakat.

“Soalnya sistem peringatan dini ini tidak hanya diaplikasikan di Indonesia, tapi juga di luar negeri seperti di Myanmar,” kata suami dari dr. Mora Claramita, MPHE., PhD., ini.

Alat ‘GAMA-EWS’ diakui Faisal sudah didaftarkan lima paten dari inovasi pengembangan alat tersebut sejak dibuat tahun 2007. Sampai tahun 2013, lebih dari 100 unit alat deteksi dini longsor telah dipasang di 12 propinsi di Indonesia, bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT), International Consortium on Landslides (ICL-UNESCO), pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat dan perusahaan pertambangan dan perminyakan.

Gama EWS ini mampu menyelamatkan masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor setelah  memberi peringatan sebelum terjadinya bencana. Cara kerja alat sederhana, mendeteksi jarak keretakan tanah, deformasi permukaan dan intensitas hujan untuk menentukan potensi terjadi longsor. Apabila dalam kondisi bahaya, alat akan mengirimkan sinyal sehingga sirine berbunyi sebagai bentuk peringatan dini.

Ketika sirine berbunyi, masyarakat harus waspada dan melakukan evakuasi. Suara sirine terdengar hingga radius 500 meter. “Karenanya untuk pengoperasian alat dan perawatannya kita selalu libatkan masyarakat,” kata Faisal.

Pembuatan alat pengintai longsor ini, menurut Faisal saat diwawancarai tahun 2013 lalu, telah menggunakan 95 persen komponen lokal. Harga tiga jenis alat deteksi longsor ini bervariasi, menyesuaikan dengan tingkat kecanggihannya. “Harganya berkisar 5 juta hingga 20-an juta rupiah,” ujar Faisal, kala itu.

Untuk diketahui, rekan Faisal terkait penemuan alat itu, Dwikorita Karnawati kemudian menjadi Rektor UGM masa bakti 2014-2017. Ketekunan dalam mengembangkan alat deteksi longsor itu juga mengantarkan Faisal memperoleh penghargaan Inovator Teknologi 2015 dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).  Penghargaan diberikan langsung oleh Menristekdikti, Mohammad Nasir dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2015 di Jakarta.

***

Hujan deras yang mengguyur Aceh Besar telah menyebabkan longsor dan banjir bandang di Desa Neuhun, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, 28 November 2015, pukul 19.30. Daerah ini adalah tempat relokasi korban Tsunami 2004. Lokasi ini merupakan lahan bekas bukit yang dipotong untuk dijadikan pemukiman. Kondisi lingkungan kurang memadai lantaran banyak drainase yang tertutup menyebabkan timbulnya genangan. Kondisi tersebut diperburuk karena ada aktivitas penambangan di bagian atas permukiman.

Pada saat sebelum kejadian, tim dari UGM bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sedang menyiapkan kegiatan tahap akhir dari pemasangan early warning system (EWS) atau sistem peringatan longsor dini. Tim UGM dipimpin Teuku Faisal Fathani ini melakukan persiapan pelaksanaan gladi evakuasi mandiri. Setelah EWS terpasang, lima jam sebelum kejadian longsor dan banjir bandang, sirine tiltmeter EWS sudah berbunyi.

“Sirine telah berbunyi saat hujan deras turun sehingga warga yang sedianya akan berlatih evakuasi dialihkan menjadi evakuasi yang sebenarnya,” kata Faisal, dilanisr ugm.ac.id, 30 November 2015.

Faisal menjelaskan, EWS yang terpasang bekerja dengan baik pada pukul 12.05, dan 14.15 WIB memberikan tanda ancaman, lima jam sebelum kejadian longsor dan banjir bandang menyebabkan 100 kepala keluarga (KK), yaitu 40 KK di bagian atas yang berisiko tinggi dan 60 KK di bagian bawah dapat melakukan evakuasi sebelum bencana. “Longsoran sedimen dari banjir bandang masuk ke dalam 10 rumah dari 40 rumah yang terancam,” terangnya.

Menurut Faisal, sejak awal daerah ini sudah diketahui memiliki risiko tinggi longsor. Oleh karena itu, BNPB dan BPBD Aceh Besar bekerja sama dengan UGM memasang EWS Longsor. Kondisi saat itu (2015), kata Faisal, pada tebing masih tersisa batu-batu yang besar ukuran 3 m x 3 m yang siap meluncur dan dapat berisiko merusak lebih banyak rumah. Beberapa rekomendasi yang perlu dilakukan adalah warga yang terancam, tetap ditampung di tempat yang aman dan disediakan kebutuhan dasar. “Material yang siap meluncur agar diamankan,” ujarnya.

Selain itu, penambangan galian C di perbukitan dengan menggunakan alat berat agar dievaluasi kembali. Namun, yang tidak kalah penting, yaitu segera dilakukan perbaikan kestabilan lereng. “Kita sarankan, EWS dipastikan agar terus berfungsi agar bisa mendeteksi ancaman,” papar Faisal.

***

Rektor UGM, Dwikorita Karnawati, dan peneliti UGM, Teuku Faisal Fathani, mengikuti International Consortium on Landslides (ICL) di Kyoto University, 9-11 Maret 2016. Mereka mempresentasikan karya dan terobosan dalam upaya pengurangan risiko bencana longsor. Dwikorita Karnawati dan Teuku Faisal Fathani mengangkat topik tentang upaya UGM bersama Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam mengajukan proposal ISO tentang Sistem Peringatan Dini Bencana Gerakan Tanah.

Proposal dari UGM-BSN-BNPB ini mendapat tanggapan positif dari para anggota ICL. Sebagai lembaga internasional di bawah UN-ISDR UNESCO, ICL memberikan komitmen untuk mengawal proses pengajuan ISO Sistem Peringatan Dini Gerakan Tanah yang akan menjalani proses di lembaga ISO selama 36 bulan ke depan.[] (idg/ugm.ac.id)

Baca juga:

Syurkani, Pejabat Muda dan Cerdas di Bidang Ekonomi

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar