Alat pengintai longsor karya Teuku Faisal Fathani telah membantu menyelamatkan banyak warga dalam berbagai kasus bencana alam. Alat temuannya itu mengatarkan dosen Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM ini meraih sederet penghargaan tingkat nasional hingga internasional. Putra Aceh ini juga kerap mengisi berbagai seminar dan menjadi narasumber media nasional sebagai ahli longsor.
***
Teuku Faisal Fathani menempuh program S-2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan S-3 di Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang. Ia mengambil topik riset tentang tanah longsor, terutama yang berkaitan dengan model matematika prediksi bencana longsor. Tekadnya berkiprah dalam mitigasi bencana semakin besar tatkala gempa dan tsunami dahsyat melanda tanah kelahirannya, Aceh.
Ketika terjadi gempa dan tsunami di Aceh akhir tahun 2004, saya sedang studi S-3 di Jepang. Ini dilema yang berat bagi saya karena keluarga dan sanak saudara menjadi korban bencana tepat ketika saya sedang belajar tentang bencana. Kejadian ini mengubah pandangan hidup saya, memacu semangat dan motivasi untuk berkarya di bidang mitigasi bencana, kata Faisal, dikutip dari sutarko.blogspot.co.id yang mengutip sumber dari Kompas, 16 Juli 2013.
Lantas, bagaimana kisah Faisal membuat alat pengintai longsor? Penemuan alat yang dinamakan Gadjah Mada-EarlyWarning System (GAMA-EWS) itu berawal tahun 2003. Saat itu, Asean University Network (AUN) menunjuk Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., Dosen Jurusan Teknik Geologi UGM, membimbing empat mahasiswa program master dan doktor yang dibiayai JICA untuk meneliti longsor di Indonesia.
Oleh JICA, para mahasiswa dan dosen pembimbing dikirim lima set alat deteksi longsor buatan Jepang. Alat itu kemudian dipasang di perbukitan Menoreh, Kulon Progo, Yogyakarta, yang telah dikenal sebagai daerah rawan longsor. Hanya saja, pengoperasian alat tergolong cukup rumit. Bahkan, saat alat rusak, mereka kewalahan tidak dapat memperbaiki dan harus mengirim kembali ke Jepang, ditambah lagi harganya pun cukup mahal.
Dari pengalaman tersebut, Prof. Dwikorita Karnawati berpikir jika semua alat bergantung pada negara pembuat, pengoperasiannya akan selalu sulit. Ia pun menyampaikan kegelisahan yang dirasakan kepada koleganya, Teuku Faisal Fathani, S.T., M.T., Ph.D., yang saat itu baru pulang dari menempuh pendidikan doktor di Tokyo Jepang tahun 2005.
Pak Faisal, kita punya alat-alat. Kan Pak Faisal ilmunya dari Jepang, coba kita bisa buat alat sendiri, tidak serumit alat dari Jepang ini, tapi teknologinya selevel, kata Faisal menirukan Dwikorita, dilansir laman resmi UGM, 10 Juli 2013.
Gayung bersambut. Keduanya terus berdiskusi menuangkan ide masing-masing. Secara kebetulan, ada permintaan dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal untuk dibuatkan alat peringatan dini bencana longsor. Kendati telah sepakat membuat alat tersebut, dalam pengerjaan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Tiap hari Faisal membongkar dan mengutak-atik alat buatan Jepang yang sudah menjadi rongsokan. Namun, ide belum juga muncul. Satu bulan berjalan, belum ada kemajuan.
Faisal mengaku bukan hal yang mudah untuk mewujudkan ide membuat alat itu. Di lain pihak, Dwikorita tetap tidak patah semangat. Ia senantiasa menyemangati Faisal agar alat yang dicita-citakan dapat segera dibuat. Faisal lantas menggandeng seorang instrumentasi yang tengah menempuh pendidikan master di Fakultas Teknik. Mereka pun bekerja siang dan malam. Dwikorita tidak lupa memberikan idenya untuk penyempurnaan alat.
Enam bulan berselang, alat deteksi generasi pertama berhasil dibuat. Pokoknya kerja siang malam. Pernah sampai jam satu malam itu hanya duduk mikir saja sambil melihat alatnya, kenang Faisal yang kelahiran Banda Aceh, 26 Mei 1975.
Alat generasi pertama yang dibuat masih terbilang sederhana karena hasil deteksi pergeseran dan pergerakan tanah harus dicatat secara manual dengan mendatangkan petugas ke lokasi. Berbeda dengan generasi kedua dan ketiga, data yang muncul langsung direkam dalam data memori dan dikirim langsung dengan teknologi telemetri, sehingga bisa terpantau secara online melalui internet. Namun, pada prinsipnya kerja alat hampir sama.
***
Karya inovasi teknologi buatan Faisal itu kemudian semakin mendapat pengakuan dari dalam dan luar negeri, setelah berhasil memberi peringatan pada masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor, sekitar empat jam sebelum bencana longsor merusak beberapa rumah di Kabupaten Banjarnegara pada November 2007.
Faisal menceritakan, alat yang awalnya bernama ektensometer ini berhasil menyelamatkan 30 penghuni rumah saat terjadi bencana longsor di Banjarnegara pada November 2007. Di daerah itu, alat tersebut sengaja dipasang untuk memantau regangan tanah maksimal 2 cm, sehingga ketika hujan lebat datang dan retakan tanah melebar sejauh 2 cm, sirine pun berbunyi. Warga penghuni rumah sontak menyelamatkan diri sebelum longsor terjadi.
Berikutnya, alat ikut tertimbun oleh longsor. Masyarakat berhasil menemukannya kembali. Kita minta direlakan saja, nanti diganti yang baru. Tetapi mereka masih ingin menyimpannya, menganggap alat ini telah menyelamatkan jiwa mereka, tutur Faisal yang pada 1997 meraih prestasi sebagai mahasiswa teladan bidang akademik peringkat I se-UGM.
Tahun 2012, kata Faisal, sistem pemantauan dan peringatan dini longsor ini telah diaplikasikan di kawasan tambang di United Mercury Group (UMG) Myanmar. Pada 2013, diaplikasikan di delapan lokasi PT. Pertamina Geothermal Energy dan dua bendungan yang terletak di Pulau Sumatera, Jawa dan Sulawesi.
Menurut Faisal, berbagai institusi dari negara lain juga memberikan apresiasi atas keberhasilan sistem peringatan dini longsor ini. Pada 2009, karya unggulan ini telah ditetapkan sebagai salah satu penelitian strategis oleh International Programe on Landslides (IPL-UNESCO), sebagai model Best Practice in Education for Sustainable Development with respect to Disaster Risk Reduction Program (No. Approval: IPL-158). Pada upacara pembukaan 2nd World Landslide Forum di FAO Headquarter Roma tanggal 3 Oktober 2011, program ini terpilih untuk menerima IPL Award for Success dari International Programme on Landslides (IPL-UNESCO).
Selanjutnya dalam upacara pembukaan 10th International Symposium on Mitigation of Geo-Disasters di Kyoto-Matsue, tanggal 8 Oktober 2012, Faisal juga menerima Excellent Research Award dan Award of Appreciation. Ia dinilai telah banyak berkontribusi dalam kegiatan mitigasi bencana alam di Kawasan Asia.
Dari alat deteksi longsor ini pula, Faisal menginisiasi dan terlibat aktif dalam kegiatan manajemen risiko berbagai bencana yang meliputi: tanah longsor, banjir, aliran lahar/debris, letusan gunung api, gempa dan kekeringan di berbagai daerah.
Terkait penanggulangan bencana alam, Faisal membangun kerja sama dengan berbagai bidang keilmuan dari berbagai universitas/institusi seperti lintas bidang di UGM, International Consortium on Landslides (ICL-UNESCO), Kyoto Univ., Ehime Univ., Tsukuba Univ., Univ. of East Anglia UK, Univ. Zagreb dan Univ. Rijeka-Kroasia, Public Work Research Institute (PWRI) Jepang, Asian Institute of Technology-Thailand, China Geological Survey, University of East Anglia-UK, San Diego State University-USA, California Seismic Safety Commission-USA, dan GNS Science New Zealand.