TERKINI
HEALTH

Tarekat Naqsyabandiah (XIX) : Rabitah Dalam Perspektif Tarekat

DUNIA tarekat tidak terlepas dari rabitah. Prosesi interaksi manusia tersebut melahirkan sebuah jamaah atau perkumpulan sedangakn rohnya lahir dari nilai rabitah itu sendiri.. Islam sangat…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 3.5K×

DUNIA tarekat tidak terlepas dari rabitah. Prosesi interaksi manusia tersebut melahirkan sebuah jamaah atau perkumpulan sedangakn rohnya lahir dari nilai rabitah itu sendiri.. Islam sangat menganjurkan umatnya hidup dalam berabitah (interaksi). Dalam  bayak hadist diantaranya seperti kutipan imam Bukhari dalam kitabya “at-tarikh al-Khabir” menyebutkan :”.kalian hatus berjamaah’.(at-Tarikh al-Kabir,VIII, hal 447).

Sementara itu Saidina umar dalam khutbahnya menyampaikan sabda nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dan An-Nasai :..”kalian harus berjamaah dan hindarilah bercerai (dari jamaah), karena setan bersama orang yang sendirian. (sunan turmudzi, jlid IV, hal 465, Sunan al_kubra, Jld V, hal.388)..

Kupasan tentang rabitah tidak terlepas perannya wasilah, wasilah dan rabitah ini dua unsur yang saling berkaitan. Membahas tentang wasilah dan rabitah, sesungguhnya juga membahas tentang fenomena rohaniah. problema ini merupakan masalah yang amat sangat halus dan oleh sebab itu pengkajiannya adalah amat tinggi dan terkadang logika tidak samapi merabanya dan sangat diperlukn keyakinan dan kepekaan hati dalam memahmainya. Rabitah dan wasialh dia merupakan kunci, merupakan power, merupakan kekuatan dalam beramal. Dia adalah sumber keikhlasan, yang merupakan kunci dari diterimanya amal ibadat dan kesuksesan dalam mengarungi kehidupan didunia ini.

Rabithah dalam etimologinya diartikan dengan “perhubungan, perikatan”.(Kamus Arab-Indonesia, Mahmud yunus, 136). Syekh Daud al-Fatani di dalam kitabnya “Diya 'u 'l-Murid” menyebutkan bahwa rabitah itu  mengkhayalkan rupa shaikhnya pada di antara dua matanya maka yaitu  terlebih sangat muakkad bagi memberi bekas. Maka dihadirkan rupa shaikhnya pada hatinya..

 Hal senada juga diungkapkan oleh Syekh 'Abdus Shamad al-Palimbangi di dalam kitabnya “Hidayatus-Salik” menyebutkan tentang adab-adab berzikrullah, antara lain beliau menyebutkan adab yang ketujuhnya dengan katanya:”Ketujuh, menyerupakan rupa shaikhnya antara kedua matanya dan adab ini terlebih muakkad (sangat-sangat dituntut) pada ahli tasawwuf.”

Sementara dalam pandangan Syekh Muhammmad Amin Al Kurdi menyebutkan diharuskan seorang murid terus menerus merabitahkan rohaniahnya kepada rohaniah Syekh gurunya yang mursyid, guna mendapatkan karunia dari Allah SWT.  Beliau mengatakan sebuah karunia yang didapati itu bukanlah karunia dari mursyid, sebab mursyid tidak memberi bekas, yang memberi bekas yang hakiki, yang memberi bekas sesungguhnya hanya Allah SWT. 

Allah yang berhak dan memberi kurnia dan memberi nikmat hanya Allah SWT, sebab ditangan Allah SWT sajalah seluruh perbendaharaan yang ada di langit dan di bumi, dan tidak ada yang dapat berbuat untuk mentasarufkannya kecuali Allah SWT. Hanya saja Allah SWT mentasarufkannya itu, melalui pintu- pintu yang telah ditetapkan-Nya atau menjadi Sunnah-Nya, antara lain melalui para kekasih-Nya, para wali-wali Allah SWT yang memberikan syafaat dengan izin-Nya (Tanwirul Qulub, Syekh Amin Al Kurdi, 1994, hal 448).[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar