Adab Zikir Tahlil
Proses melakukan zikir ini terserah kepada orang yang melakukannya, baik dilakukan secara duduk, ini merupakan sebagai syaratnya dalam tarekat ini, namun bila tidak mampu duduk dibolehkan sesuai dengan kondisi asalkan syarat dan adabnya bisa dipelihara. Setelah melakukan 7 maqam (tingkatan) zikir ini maka telah selesai pula zikir-zikir yang dikerjakan dalam amalan suluk. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya zikir itu merupakan amalan pokok yang paling mendasar dari amalan suluk di dalam Tarekat Naqsybandiyah.
Berzikir Dalam Amalan Suluk
Seorang salik yang tekun dan mendalami tarekat ini, sangat di anjurkan untuk terlebih dahulu mengetahui adab-adabnya. Di dalam amalan suluk ada juga adab-adab yang berkaitan dengan perilaku, baik hati maupun jasmani seorang salik sampai selesai suluk.
Adab tersebut dapat diringkas sebagai berikut: pertama, Niat ikhlas dalam hati untuk melaksanakan suluk. Kedua, Memperoleh izin dari mursyid yang akan membimbing suluk. Ketiga, Menyukai suluk dan mengikutinya atas kehendak sendiri dan tidak terpaksa. Keempat, Berharap pada mursyid agar mendoakannya. Kelima, Mendahulukan kaki kanan saat masuk ke tempat suluk dan shalat sunat dua rakaat.
Keenam, Menjaga Wudhu. Ketujuh, Jangan berniat mengikuti suluk untuk mencari keramat. Kedelapan, Duduk di tempat gelap atau remang. Sembilan, Tidak duduk bersandar. Sepuluh, Puasa di setiap siang hari selama suluk. Sebelas, Yakin dalam hati bahwa suluk dapat mengobati hati. Dua belas, Selalu mengingat mursyid dengan membayangkan wajahnya. Tiga belas, Tidak berbicara dengan orang lain, kecuali sangat diperlukan. Empat belas, Tidak boleh ada kebisingan dan kegaduhan. Lima belas, Selalau salat berjamaah. Enam belas, Menjaga tiga musuh; syaitan, nafsu dan dunia.
Tujuh belas, Tetap menutup kepala saat keluar dari tempat suluk. Delapan belas, Bersikap pertengahan dalam segaalnya, termasuk dalam makanan. Maka dalam suluk dilarang makan daging atau sesuatu yang berdarah. Sebab ini dapat menyebabkan malas dan kantuk dalam berzikir. Sembilan belas, Menjaga hati tetap konsentrasi. Dua puluh, Selalu bertaubat dalam hati. Dua puluh satu, Mengamalkan zikir tawajuh khusus (zikir yang telah ditetapkan). Dua puluh tiga, Jangan mengingat-ingat lama waktu suluknya.
Seorang salik (orang bersuluk) harus konsisten dan disiplin dalam mengamalkan adab-adab amalan suluk merupakan kunci dalam mencapai kesempurnaan amalan suluk. Kalau peserta amalan suluk tidak disiplin atau tidak serius mengamalkan apa yang telah ditetapkan tersebut, maka kemungkinan suluk yang ia jalani hanya akan menjadi fomalitas saja yang tidak memberi bekas dan pengaruh apapun dalam hatinya.