SALAH seorang ulama dari Kalimantan adalah Syekh Muhammad Nafis al-Banjari hidup semasa dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Kedua tokoh ini merupakan tokoh penting dan sangat berpengaruh waktu itu.
Pengaruh Syekh Muhammad Nafis atas kaum muslimin lebih menonjol di bidang tasawuf, terutama karena karya terkenalnya, al-Durr al-Nafis fi Bayan wahdah al-Afgal al-Asma wa al-Sifah wa al-Zat wa al-Taqzis yang selesai ditulis di Makkah pada 1200 H/1785 M dan beredar luas di Nusantara.[1]
Seorang sufi terkenal dari negeri Banjar, Kalimantan adalah Syekh Muhammad Nafis al-Banjari bin Idris bin Husain al-Banjari (1148 M/1735 M). Beliau lahir di Martapura dari keluarga bangsawan Banjar.[2]
Sebagai ulama yang menekuni dalam dunia tasawuf, Syekh Muhammad Nafis diceritakan pernah berguru pada banyak tokoh sufi di antaranya Syekh Abdullah ibnu Hijazi, al-Syarqawi, Syekh Shiddiq ibnu Umar Khan dan beberapa ulama lain.
Setelah diakui oleh semua gurunya, bahwa beliau adalah mursyid yang boleh mengajarkan ilmu-ilmu batin dengan beberapa tarekat, maka beliau mengembangkan ajaran tarekat tersebut yang salah satunya adalah Tarekat Naqsyabandiyah.[3]
Ketika di telusuri sejarah ternyata Syekh Muhammad Nafis al-Banjari hidup semasa dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Kedua tokoh ini merupakan tokoh penting dan sangat berpengaruh waktu itu. Pengaruh Syekh Muhammad Nafis atas kaum muslimin lebih menonjol di bidang tasawuf, terutama karena karya terkenalnya, al-Durr al-Nafis fi Bayan wahdah al-Afgal al-Asma wa al-Sifah wa al-Zat wa al-Taqzis yang selesai ditulis di Makkah pada 1200 H/1785 M dan beredar luas di Nusantara.[4]
Berkat kepandaian dan keahlian dalam bidang ilmu agama terutama ilmu tasawuf. Beliau diangkat sebagai mufti Kesultanan Banjar. Beliau menghembus nafas terakhir dan dikuburkan di Kelua, sebuah desa yang terletak 125 KM dari Banjarmasin. Satu hal yang sangat di sayangkann, tidak ada catatan kapan beliau meninggal. Sudah sepatutnya hendaknya pemerintas untuk menggali kembali sejarah, kapan beliau makamkan.[5]