BANDA ACEH – Menggunakan kemeja putih berlengan panjang, lelaki itu duduk di salah satu sudut warung kopi SMEA, Banda Aceh. Perawakannya seperti masyarakat Aceh kebanyakan. Wajahnya klimis dan berkulit sawo matang.
Secangkir kopi dan sebuah handphone versi lawas merk Nokia berada di hadapannya. Namanya Saifullah. Asal Aceh Jaya, Provinsi Aceh. Tidak ada kesan yang istimewa hari itu, Minggu, 9 Juli 2017. Namun siapa menyangka bahwa lelaki berhidung sedikit mancung itu adalah keturunan raja.
Nama lengkap lelaki ini adalah Tuanku Raja Saifullah Alaidin Riayat Syah. Pada 26 September 2015 lalu, pria yang kesehariannya mengendarai becak ini ditabalkan sebagai Raja Daya penjaga marwah bangsa. (Baca: Nasib Pewaris Raja Daya Jauh Berbeda dengan Sultan Jogja).
Dua tahun sudah berlalu sejak ia diangkat menjadi raja. Banyak hal yang telah dilihatnya, terutama mengenai kebangkitan kesadaran sejarah Aceh di jiwa pemuda daerah. Untuk hal inilah Tuanku Raja Saifullah mengapresiasi kinerja generasi muda Aceh yang sudah bersusah payah melacak jejak sejarah indatu di daerahnya. Dia mencontohkan seperti Masyarakat Peduli Sejarah atau Mapesa, Central Information for Samudera Pasai Heritage (Cisah), ALIF, dan Peusaba.
Keberadaan dan kerja keras para peneliti muda dari komunitas ini dinilai telah membuka pemahaman baru sejarah Aceh yang dulunya samar-samar. Tekad kuat para pemuda inipula yang diharapkan mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan Pusat demi menjaga khasanah kekayaan intelektual. Latarbelakang inilah yang kemudian menjadi dasar bagi Tuanku Raja Saifullah menyimpulkan agar para pihak tidak perlu mengkhawatirkan euforia pemuda di Aceh yang terus menerus mencoba melacak jejak sejarah daerahnya.
“Lembaga Mapesa, CISAH, ALIF dan Peusaba itu lembaga teristimewa dalam melacak jejak sejarah dan kebudayaan Aceh. Perlu diingat, bangsa yang ingin maju adalah bangsa yang merawat sejarahnya sendiri, baik itu sejarah pahit maupun sejarah kejayaan sebuah daerah,” kata Tuanku Raja Saifullah.
Dia kemudian mencontohkan bagaimana warga Jepang yang sangat menghargai sejarah negaranya. Padahal, sejarah tersebut sangat menyakitkan dari sisi kemanusiaan, seperti sejarah bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Namun, bagi warga Jepang, sejarah kelam ini justru menjadi pemicu manusianya untuk terus mengembangkan diri dan menjadi terdepan di bidang teknologi.
Tuanku Raja Saifullah kemudian mencontohkan kehadiran Kesultanan Jogja di Indonesia yang tidak pernah mengintervensi pemerintah dalam bidang politik. “Negara Kesatuan Republik Indonesia itu sudah harga mati,” katanya.