BANDA CEH – Tabligh Akbar Aceh untuk Palestina telah dilaksanakan di Depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Ahad, 13 Dzulqadah 1438 H/Minggu, 6 Agustus 2017. Acara tersebut dihadiri seribuan orang dari berbagai organisasi dan lapisan masyarakat.
Humas acara akbar ini, Teuku Zulkhairi, mengatakan, sehubungan dengan kondisi bangsa Palestina yang masih terjajah dan kondisi Masjid Al-Aqsha yang terus menerus dilecehkan oleh Zionis Israel, masyarakat Aceh yang berasal dari berbagai organisasi massa dan komunitas, dengan ini menyampaikan sikap dan pernyataan sebagai berikut:
Pertama: Bahwa penjajahan apapun di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, sesuai dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Kedua: Bahwa bangsa Palestina hari ini berada dalam penjajahan Israel sehingga Masjid Al-Aqsha sebagai kiblat pertama umat Islam hingga detik ini masih berada dalam ancaman yang sangat nyata.
Ketiga: Bahwa keselamatan Masjid Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina adalah tanggung jawab moral dan aqidah seluruh umat Islam di seluruh dunia, termasuk umat Islam di Aceh.
Keempat: Oleh sebab itu, kami menghimbau kepada seluruh masyarakat Aceh, santri, mahasiswa, aparatur negara dan sebagainya untuk memboikot produk-produk Yahudi sebisa mungkin dan kemudian agar terus menunjukkan kepeduliaan kepada bangsa Palestina yang masih terjajah. Baik bantuan dalam bentuk materi, maupun doa-doa yang dipanjatkan secara pribadi dan berjamaah di masjid-masjid dan meunasah-meunasah.
Kelima: Menyeru kepada anggota parlemen Republik Indonesia yang berasal dari Aceh khususnya dan dari seluruh wilayah Indonesia pada umumnya untuk terus menyuarakan isu kemerdekaan Palestina, mendesak pemerintah pusat di Jakarta untuk terus menunjukkan kepedulian terhadap Palestina dan membantu upaya mewujudkan kemerdekaannya. Sebagai negara muslim terbesar di dunia, sudah seharusnya Indonesia berada di garis paling depan untuk membantu perjuangan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha.
Keenam: Menyeru masyarakat Aceh dari semua lapisan untuk memberikan donasi kepada Palestina melalui lembaga-lembaga kemanusiaan yang terpercaya dan terbukti selama ini menyalurkan bantuan untuk Palestina. Setiap bantuan kita insya Allah akan meringankan derita Palestina dan sekaligus menjadi jihad harta kita dan investasi untuk kehidupan abadi di akhirat.
Ketujuh: Menyeru semua elit dan masyarakat untuk kompak dan bersatu demi masa depan Aceh yang lebih baik, menjauhi prasangka buruk, senantiasa mengingat kematian, meramaikan masjid dan majelis-majlis Ilmu, senantiasa menghormati ulama dan mendengar nasihatnya.
Kedelapan: Menyeru kepada negara-negara Muslim dan pemimpin terkemuka dunia Islam untuk menghilangkan perpecahan internal di dunia Islam, lalu bersatu memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina.
Teuku Zulkhairi mengatakan, Gabungan berbagai elemen masyarakat Aceh tersebut, di antaranya Aksi Cepat Tanggap (ACT), Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Gerakan Suara Rakyat (GSR), Front Pembela Islam (FPI), Forum Silaturahmi Masjid Serantau (FORSIMAS), Badan Koordinasi Muballigh Indonesia (BAKOMUBIN) Prov. Aceh.
Juga Gerakan Pemuda Subuh (GPS), Rabithah Thaliban Aceh (RTA), Ikatan Keluarga Anti Narkoba (IKAN), Dewan Kemakmuran Masjid Aceh (DKMA), Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Aceh, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT).
Serta Yayasan Aceh Sejahtera (YAS), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Masyarakat Informasi & Teknologi (MIT), Relawan Aceh Bersatu (R A B), Majelis Zikir Mujiburrahman, Zawiyah Nurun Nabi, Majelis Tastafi Aceh, Majelis Zikrullah Aceh, Majelis Zikir Arafah, BBC Subuh, Sahabat Aceh, BKPRMI, KAMMI Aceh, DAI Peduli, PII Aceh.