TERKINI
KAMPUS

Suku Mante, ”Si Hobbit” Penghuni Belantara Aceh

BANDA ACEH - Video rekaman para crosser yang memperlihatkan sosok kerdil tanpa mengenakan baju di belantara Aceh, tiba-tiba menjadi viral di dunia maya. Sosok yang…

MURDANI ABDULLAH Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 11.8K×

BANDA ACEH – Video rekaman para crosser yang memperlihatkan sosok kerdil tanpa mengenakan baju di belantara Aceh, tiba-tiba menjadi viral di dunia maya. Sosok yang sempat membuat para crosser terkejut ini diduga sebagai salah satu orang Mante, suku pedalaman yang pernah mendiami Aceh.

Keberadaan suku Mante ini sebenarnya sudah lama menjadi pembahasan para peneliti. Suku yang dianggap sudah punah tersebut disebut-sebut sebagai manusia tertua penghuni daratan Aceh.

Merujuk berbagai referensi menyebutkan, Mante merupakan suku bangsa Proto Melayu yang sudah menghuni wilayah Indonesia sebelum kedatangan suku-suku Melayu Deutro. Peradaban mereka kemudian “tergusur” dengan datangnya Melayu Deutro hingga akhirnya “mengungsi” ke rimba belantara Aceh.

Pertemuan antara manusia moderen dengan suku Mante juga pernah terjadi medio Desember 1987 lalu. Saat itu, Gusnar Effendi, salah satu pawang hutan di Aceh mengaku pernah beberapa kali bertemu dengan Suku Mante tersebut.

“Semula saya masih agak ragu, apa mereka benar-benar orang Mante, maka saya tak berani mengungkapkannya,” kata Gusnar Effendy, seperti dilansir Harian Kompas edisi 1987 silam.

Menurut Gusnar waktu itu, kelompok atau suku Mante yang ditemukannya hidup di belantara pedalaman Lokop, Kabupaten Aceh Timur. Kecuali itu, Gusnar juga pernah berjumpa dengan mereka di hutan-hutan Oneng, Pintu Rimba, Rikit Gaib di Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara.

“Umumnya, tinggal di gua-gua celah gunung. Kalau siang hari berada di alur sungai dalam lembah,” katanya.

Gua yang dijadikan tempat tinggal kelompok terasing ini dinamakan Gua Beye, Jambur Atang, Jambur Ketibung, Jambur Ratu dan Jambur Simpang.

Pengakuan serupa juga pernah disampaikan Tgk Yusuf Thalib, seperti dilansir Waspada dalam beberapa edisi pada 2012 lalu. Menurut Yusuf Thalib, dia pernah melihat sekelompok suku Mante di dala alur sungai jauh di tengah hutan. “Sebagian di antara mereka bermain pasir di atas pantai sungai. Mereka bercanda layaknya kita manusia normal ketawa ketiwi menikmati mandi sungai. Tapi mereka tidak berpakaian, tubuh mereka ditutup dengan rambut mereka yang panjang dan sedikit bergelombang. Tidak lama kemudian mereka kabur, dengan suara teriak seperti suara Tarzan, begitu,” kata Yusuf.

Dia juga menyebutkan jejak suku Mante yang dapat ditemukan di beberapa lokasi gua, yang banyak terdapat di pegunungan Tangse. Antara lain Guha Paya Gom, kawasan Guha Kareung Muthala, Guha Kareung Waila, dan kawasan pegunungan lainnya di Desa Neubok Badeuk, Pidie. Yusuf saat itu menduga kuat adanya suku Mante di kawasan tersebut karena menemukan jejak kaki mirip telapak kaki anak-anak.

===

Merujuk catatan Teuku Abdullah atau dikenal TA Sakti, salah satu akademisi Sejarah Unsyiah, menyebutkan bahwa istilah Mante diperkenalkan secara luas oleh Dr. Snouck Hougronje dalam karyanya yang terkenal De Atjehers. Snouck melukiskan orang Mante yang tinggal di wilayah perbukitan Mukim XXII. Disebutkan, pernah suatu ketika pada pertengahan abad 17, ada sepasang Mante laki-laki dan perempuan yang ditangkap. Mereka kemudian dipersembahkan kepada Sultan Aceh. “Mereka tak mau berbicara, tak mau makan-minum yang disodorkan, hingga akhirnya mati…,” tulis Snouck memberikan ilustrasi.

Sementara salah satu sejarawan Aceh lainnya, (alm) Prof Ibrahim Alfian pernah menyebutkan dalam kamus Gayo-Belanda susunan Dr GAJ Hazen yang terbit tahun 1907, mengistilahkan Mante sebagai sekelompok masyarakat liar yang tinggal di hutan. Namun, hal berbeda tercantum dalam kamus Gayo-Indonesia yang ditulis antropolog Nelalatoa. Dia menuliskan panggilan Mante diistilahkan kepada kelompok suku terasing setempat.

===

Suku Mante ini dikenal sangat tertutup dengan manusia moderen. Mereka juga seringkali kabur ke dalam hutan ketika berhadapan dengan orang di luar suku mereka. Selain itu, jika dikaji dari berbagai catatan juga menyimpulkan kehidupan Suku Mante ini masih bersifat nomaden atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ini terbukti dengan pengakuan beberapa orang yang kebetulan bertemu dengan suku tersebut di rimba Pidie, Aceh Tengah dan Aceh Tenggara serta di kawasan Nagan Raya. Padahal, kehadiran mereka sendiri tidak bisa dirasakan oleh masyarakat Aceh secara luas.

Untuk mengilustrasikan bagaimana Suku Mante tersebut di dunia modern ini, kita mungkin bisa mencocokkan ciri-ciri fisik mereka seperti para Hobbit dalam karakter film The Hobbit atau film Lord of The Ring garapan Hollywood. Identifikasi kemiripan suku Mante ini dengan para Hobbit dalam film Hollywood tersebut pernah dipaparkan oleh (alm) Teungku Dahlan, pimpinan Dayah Tanoh Abee beberapa waktu lalu.

Ciri suku Mante, menurut Abu Dahlan Tanoh Abe, berkulit coklat dengan postur tubuh sekitar 150-an centimeter serta memakai gelang di leher, dan anting pemberat di telinga. Selain itu, berdasarkan beberapa kesaksian warga yang pernah bertemu langsung dengan suku Mante ini, ciri lainnya adalah berbulu lebat dan terlihat seperti anak kecil.

Suku Mante diduga tidak menerima orang luar, yang membuat sejumlah orang meragukan keberadaan suku Mante di Aceh karena tidak ada bukti kuat seperti rekaman. Namun, video yang diunggah akun Fredography di Youtube pada 22 Maret kemarin menjadi bukti terbaru, bahwa diduga masih adanya kaum atau suku Mante di Aceh.[]

MURDANI ABDULLAH
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar