Dalam menggapai pendidikan berkualitas dan mampu membawa perubahan terhadap anak didik, peran seorang guru sangat besar pengaruhnya. Seorang muallim (guru) bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi termasuk mentransfer rohaniahnya dengan bahasa lain dikenal rabithah.
Ini sebagaimana diungkapkan oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, yang mengatakan bahwa seorang pendidik menempati kedudukan yang sangat mulia dan peran sentral dalam membentuk manusia bermoral. Al-Ghazali berkata, Makhluk yang paling mulia di muka bumi adalah manusia. Sedangkan yang paling mulia penampilannya ialah kalbunya. Guru atau pengajar selalu menyempurnakan, mengagungkan dan menyucikan kalbu itu serta menuntunnya untuk dekat kepada Allah. (Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali, hal.14)
Dari pernyataan itu dapat dipahami bahwa profesi guru sangat mulia dan tugas utama pengajar adalah berusaha membimbing, meningkatkan dan menyucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliknya. Tugas ini didasarkan pada pandangan bahwa manusia merupakan makhluk mulia. Kesempurnaan manusia itu terletak pada kesucian hatinya, untuk itu pendidik dalam perspektif Al-Ghazali harus memiliki kesucian jiwa dan kebersihan hati.
Seorang pendidik juga dituntut memiliki beberapa sifat keutamaan yang menjadi kepribadianya. Di antara sifat-sifat tersebut adalah sabar dalam menghadapi berbagai pertanyaan dari murid, senantiasa mengembangkan kasih sayang. Duduk dengan sopan, tidak ria dan tidak pamer. Tidak takabur kecuali terhadap orang yang zalim dengan maksud mencegah tindakannya. Bersikap tawadhu dalam pertemuan ilmiah, sikap dan perbuatannya hendaknya tertuju pada topik persoalan, memiliki sikap bersahabat dengan murid-muridnya.