TERKINI
HEALTH

Sosok dan Kriteria Seorang Muallim

Dalam menggapai pendidikan berkualitas dan mampu membawa perubahan terhadap anak didik, peran seorang guru sangat besar pengaruhnya. Seorang muallim (guru) bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.7K×

Dalam menggapai pendidikan berkualitas dan mampu membawa perubahan terhadap anak didik, peran seorang guru sangat besar pengaruhnya. Seorang muallim (guru) bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi termasuk mentransfer rohaniahnya dengan bahasa lain dikenal ‘rabithah”.

Ini sebagaimana diungkapkan oleh ‘Hujjatul Islam” Imam Al-Ghazali, yang mengatakan bahwa  seorang pendidik menempati kedudukan yang sangat mulia dan peran sentral dalam membentuk manusia bermoral. Al-Ghazali berkata, “Makhluk yang paling mulia di muka bumi adalah manusia. Sedangkan yang paling mulia penampilannya ialah kalbunya. Guru atau pengajar selalu menyempurnakan, mengagungkan dan menyucikan kalbu itu serta menuntunnya untuk dekat kepada Allah. (Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali, hal.14)

Dari pernyataan itu dapat dipahami bahwa profesi guru sangat mulia dan tugas utama pengajar adalah berusaha membimbing, meningkatkan dan menyucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliknya. Tugas ini didasarkan pada pandangan bahwa manusia merupakan makhluk mulia. Kesempurnaan manusia itu terletak pada kesucian hatinya, untuk itu pendidik dalam perspektif Al-Ghazali harus memiliki kesucian jiwa dan kebersihan hati.

Seorang pendidik juga dituntut memiliki beberapa sifat keutamaan yang menjadi kepribadianya. Di antara sifat-sifat tersebut adalah sabar dalam menghadapi berbagai pertanyaan dari murid, senantiasa mengembangkan kasih sayang. Duduk dengan sopan, tidak ria dan tidak pamer. Tidak takabur kecuali terhadap orang yang zalim  dengan maksud mencegah tindakannya. Bersikap tawadhu’  dalam pertemuan ilmiah, sikap dan perbuatannya hendaknya tertuju pada topik persoalan, memiliki sikap bersahabat dengan murid-muridnya.

Seorang guru harus pula mampu menyantuni dan tidak membentak-bentak orang bodoh. Harus berani berkata tidak tahu terhadap masalah yang tidak dikuasainya. Dalam berdebat terhadap sebuah polemik atau perbedaan pendapat harus mampu menampilkan hujjah yang benar.

Mohammad Athiyah al-Abrasyi menyebutkan, beberapa sifat yang harus dimiliki seorang guru dalam mengemban tugasnya sebagai berikut: zuhud, tidak mengutamakan materi, bersih tubuhnya, jauh dari dosa dan kesalahan, bersih jiwanya, terhindar dari riya’, dengki, permusuhan dan sifat tercela yang lain, ikhlas dalam beramal dan bekerja, mencintai murid, memikirkan murid seperti anaknya sendiri, mengetahui tabiat murid dan menguasai materi pelajaran. (Athiyah Al-Abrasyi, Op.Cit, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), hal. 137-140)

Dari  uraian di atas tampak betapa berat tugas dan tanggung jawab seorang guru. Berkaitan dengan berat tugas dan tanggung jawab seorang guru, Al-Ghazali lebih lanjut menyebutkan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, guru ialah orang tua kedua di depan murid. Kedua, guru sebagai pewaris ilmu nabi. Ketiga, guru sebagi penunjuk jalan dan pembimbing keagamaan murid. Keempat, guru sebagai sentral figur bagi murid. Kelima, guru sebagai motivator bagi murid. Keenam, guru sebagi orang yan memahami tingkat perkembangn intelektual murid. Ketujuh, guru sebagai teladan bagi murid. (Imam Al-Ghazali, dalam Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran al-Ghazali tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998) hal. 67-75).[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar