TERKINI
TAK BERKATEGORI

Soal Dana Operasional Bus Sekolah Rp 700 Juta, Dewan Subulussalam; Diduga Ada Permainan…

SUBULUSSALAM - Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Subulussalam, Rasumin, mengatakan jika biaya sebesar Rp 700 juta sudah mencukupi untuk kebutuhan operasional tujuh unit bus…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 948×

SUBULUSSALAM – Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Subulussalam, Rasumin, mengatakan jika biaya sebesar Rp 700 juta sudah mencukupi untuk kebutuhan operasional tujuh unit bus sekolah.

“Perkiraan satu unit bus Rp 100 juta, jadi tidak mungkin tidak cukup untuk biaya operasional,” kata Rasumin kepada wartawan usai sidang paripurna penyampaian pandangan akhir Fraksi DPRK terhadap Rancangan Qanun LKPJ Wali Kota Subulussalam tahun 2015, Jumat, 12 Agustus 2016.

Dalam paripurna pandangan akhir Fraksi Sepakat Bersama menyoroti kinerja Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Kadisdikbudpora) Irwan Yasin, yang membiarkan tidak beroperasinya bus sekolah dan berdampak pada aktivitas siswa.

Rasumin mengaku heran jika alasan tidak beroperasinya bus sekolah tersebut karena tidak ada biaya untuk BBM karena anggaran Rp 700 juta telah habis.

“Jangan dibilang tidak cukup karena untuk menggaji sopir, pergantian ban dan minyak. Diduga ada permainan bendahara dan kepala dinas sehingga mengorbankan hak-hak sopir dan siswa banyak terlantar,” kata Ketua Fraksi Sepakat Bersama ini.

Rasumin berharap Wali Kota Merah Sakti menyahuti rekomendasi Fraksi Sepakat Bersama untuk memerintahkan Kadisdibudpora Irwan Yasin agar segera mengoperasikan bus sekolah.

“Kasihan siswa selama bus sekolah tidak berfungsi mereka terpaksa naik angkutan umum,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora) Kota Subulussalam mengeluarkan pernyataan resmi terkait sorotan bus sekolah yang sudah lama parkir disebabkan tidak adanya bahan bakar minyak (BBM).

Kepala Disdikbudpora Subulussalam Irwan Yasin melalui Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Kamsih kepada portalsatu.com, Jumat 5 Agustus 2016 mengatakan biaya operasional untuk delapan unit bus sekolah senilai Rp700 juta selama setahun hanya sampai pada bulan Juni.

Ia menjelaskan biaya gaji sopir sebanyak delapan orang mencapai Rp 144juta, belum lagi pengeluaran BBM setiap hari untuk biaya operasional rata-rata 30 liter perhari atau senilai Rp 165.000 kali delapan bus total Rp 1.032.000.

Dalam sebulan pengeluaran untuk bahan bakar saja mencapai Rp 31juta kali 11 bulan sehingga jumlahnya Rp 348 juta setelah dipotong satu bulan karena Ramadan siswa libur sekolah.

“Karena itu untuk bahan bakar hanya cukup sampai bulan Juni saja, sehingga kami terpaksa meminjam untuk memenuhi kebutuhan BBM,” katanya. (Baca: Dana Rp 700 Juta Habis, Bus Sekolah Parkir).[](ihn)

Laporan Dirman Bakongan

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar